.

.

Ahad, 2 Oktober 2016

Hukum Zikir Jihar

 سورة آل عمران
ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ 
Ia itu orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): wahai Tuhan kami! tidaklah engkau menjadikan benda-benda ini dengan dengan sia-sia, Maha suci engkau, peliharalah kami dari azab Neraka.(191)




ZIKIR DENGAN JIHAR (KERASKAN SUARA) OLEH SESETENGAH AHLI TAREKAT 

Berzikir dengan jihar (mengeras dan menyaringkan suara) itu tidak makruh dan tidak juga bid'ah.kerana terdapat nasnya di dalam beberapa buah hadis yang menunjukkan mustajabnya (disukai) dari segi syara'berzikir dengan jihar....contoh hujjah oleh Al-Imam Jalaluddin. Abdul Rahman As-Sayuthi rahmatullahu alaih dlm kitabnya Al-Fataawa menghimpunkan dua puluh lima buah hadis yang menunjukkan mustajabnya berzikir dengan jihar.


Hingga kini, masih banyak orang yang mengambil perkiraan mudah, merasa tidak mempercayai dengan dalil suudzon dan syak wasangka, apakah benar ada yang dinamakan dzikir jahar atau dzikir keras. Kebanyakan dari mereka, mengira bahwa yang dinamakan dzikir keras itu sesuatu yang tidak ada riwayat dari Rasulnya. Benarkah?
Sebagai ilustrasi, sebagaimana orang bijak pernah berkata, bahwa manusia akan dikumpulkan dengan orang yang disukainya. Jika ia mencintai musik, maka ia akan berkumpul dengan para pecinta musik. Jika ia mencintai hobi hiburan muzik misalnya, maka ia akan berkumpul dengan mereka yang mencitai hobi yang sama. Tidak perduli dengan suara bising dan dentuman musik yang menjadi-jadi. Bagi mereka yang penting adalah mencari kenikmatan.
Ya, begitulah bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang memiliki hobi dan minat yang sama. Demikian juga dengan dzikir, atau bagi mereka yang menyukai dzikir. timbulnya pertanyaan, benarkah ada dzikir jahar, ialah keluar dari mereka yang memang belum mencintai apa itu dzikir jahar. Padahal, Allah sendiri adalah firman-Nya menyatakan bahwa orang yang beriman yang memiliki hati suci, jika mendengar dzikir akan tersentuh dan gemetar hatinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” (QS. Al Anfal ayat 2).
Dalam ayat ini, Allah memberi isyarat bahwa mereka yang beriman tidak akan merasa resah tetapi akan tersentuh hati dan jiwanya jika mendengarkan dzikir. Dari ayat ini yang menjadi titik tekan adalah dalam kata dzukiro, yang berarti dzikir itu dibacakan. Berarti orang yang beriman itu mendengar bacaan dzikir, lalu mereka bergetar hatinya. Kemudian, kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun yang bisa didengar atau terdengar itu adalah suara yang dinyaringkan atau dikeraskan. Berarti dzikir dalam ayat tersebut adalah dzikir jahar atau dzikir yang dinyaringkan. Untuk lebih jelasnya, maka kita uraikan satu per satu ayat Al Quran dan Hadits yang menerangkan tentang dzikir jahar.

HUKUM ZIKIR KERAS (JAHAR) DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS HUKUM DZIKIR JAHAR DALAM AQUR’AN
- 1. Q.S. AL-‘AROF AYAT 204 :
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat .”
Penjelasan ayat ini bukan menunjukan dzikir dalam hati tapi dzikir yang terdengar atau dzikir keras. Namun, Ayat di atas seakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits yang lain tentang anjuran untuk berdzikir dalam hati seperti Q.S.Al-‘Arof ayat 205: “Sebutlah nama Allah di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tidak dengan suara yang keras dari pagi sampai petang, Dan janganlah dirimu menjadi golongan yang lupa (lalai).”


Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika pelaksanakan haji, membaca al-qur’an dengan dikeraskan atau dilagukan, membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S Al’Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.


Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati (khofi) yang tidak memakai gerak lidah.


2. Q.S.AL-BAQOROH AYAT 200 : 
“Apabila engkau telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menywebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih (nyaring dan banyak) daripada itu.”
Menurut Ibnu Katsir, latar belakang turunnya ayat ini ialah kebiasaan bangsa Arab, baik suku quraisy maupun lainnya pada musim haji mereka biasanya berkumpul di Mudzalifah setelah wukuf di Arafah. Disitu mereka membanggakan kebesaran nenek moyang mereka dengan cara menyebut-nyebut kebesaran nenek moyang mereka itu dalam pidato mereka. Ketika telah memeluk agama Islam, Nabi memerintahkan mereka hadir di Arafah untuk wukuf kemudian menuju mudzdalifah. Setelah mabit di mudzdalifah mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu dengan tidak menunjukan perbedaan diantara mereka (dengan cara menyebut kebesaran nenek moyang) seperti yang mereka lakukan pada masa pra Islam.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, yaitu Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bila kamu selesai mengerjakan haji maka berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan baik (dengan cara menyebut-nyebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu sewaktu kamu jahiliyah atau sebutlah nama Allah itu lebih keras daripada kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu itu. Begitu pun penafsiran Ibnu Abbas, seperti terdapat dalam kitab Tanwir al Miqbas ketika menafsirkan kata aw asyadda dzikro yang berarti menyebut Allah dengan mengatakan “Ya Abba” seperti menyebut nenek moyang “Ya Allah”
Dua pendapat mufasir di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa menyebut nama Allah dalam pengertian dzikrullah dianjurkan setelah menunaikan ibadah haji,. Dzikrullah tersebut dikerjakan dengan suara keras, bahkan boleh dengan suara yang lebih keras daripada suara jahiliyah tatkala mereka menyebut nama nenek moyang mereka ketika berhaji. 
- 3. Q.S. AL-BAQOROH AYAT 114 :
“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi-halangi menyebut nama Allah di dalam mesjid-mesjid-Nya ..”


- 4. Q.S. AN-NUR AYAT 36 :
“ Didalam semua rumah Allah diizinkan meninggikan (mengagungkan) suara untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya dalam mensucikan-Nya sepanjang pagi dan petang.”


 5. Dan lain-lain
HUKUM DZIKIR JAHAR MENURUT HADITS RASUL
HADITS KE SATU
Dalam Kitab Bukhori jilid 1:
Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas ra., berkata: “Inna rof’ash shauti bidzdzikri hiina yanshorifunnaasu minal maktuubati kaana ‘ala ‘ahdi Rosuulillaahi sholallaahu alaihi wasallam kuntu ‘alamu idzaanshorrofuu bidzaalika sami’tuhu.” Artinya :“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardlu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi Saw. Saya (ibnu Abbas) mengetahui para sahabat melakukan hal itu karena saya mendengarnya .”
Selanjutnya dalam hadits :“Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyingkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR. Bukhari).

- HADITS KE DUA
Dari Abu Khurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Allah berfirman; ‘Aku berada di dalam sangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku, Aku menyertainya ketika dia menyebut-Ku, jika dia menyebut-Ku kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepda diri-Ku. Maka jika menyebut-tu di depan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik daripada mereka” (HR. Bukhari). Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut ‘di depan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.

- HADITS KE TIGA
Diriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dianggap saheh, dari Jabir ra. berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis-majlis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman syurga’. Mereka bertanya:’Dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘Majlis-majlis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah” (HR. Al Badzar dan Al Hakim).

Penjelasan hadits ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis dzikir di dunia’ maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia. Karena malaikat hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khofi. Hal ini sebagaimana sabda Rasul: “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khofi atau dzikir dalam hati yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan” (HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).

- HADITS KE EMPAT
Hadits yang dishohehkan oleh An Nasai dan Ibdu Majjah dari As Sa’ib dari Rasululah SAW, beliau bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkanlah kepada sahabat-sahabatmu untuk mengeraskan suaranya di dalam takbir”(HR. Imam Ahmad Abu Daud At Tirmidzi).
Penjelasan hadits ini, bahwa sangat jelas tidak dilarangnya dzikir keras tetapi dianjurkan untuk melakukan dzikir jahar.
                                                                                                            
- HADITS KELIMA        
Didalam kitab Sya’bil Iman dari Abil Jauza’ ra. berkata :“Nabi Saw, bersabda, “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” (H.R.Baihaqi)
Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut “orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” Hadits ini menunjukan dzikir jahar karena dengan dzikir jahar (terdengar) itulah orang munafik akhirnya menyebutnya ria .

- HADIITS KE ENAM
Juga dalam kitab Sya’bil Iman yang di shohehkan oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., berkata :“Nabi Saw, bersabda,” Perbanyaklah dzikir kepada Allah kendati kalian dikatakan gila”. (H.R.Al-Hakim danAl-Baihaqi)

- HADITS KE TUJUH,
Dari Jabir bin Abdullahra, berkata :“Ada seorang yang mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka seorang berkata, “ semestinya dia merendahkan suaranya.” Rosulullah bersabda,” Biarkanlah dia,sebab sesungguhnya dia adalah lebih baik.“ (Al-Baihaqi). Dari Sa’id bin Aslam ra., katanya Ibnu Adra’ berkata, “ Aku menyertai Nabi Saw. Pada suatu malam, lalu melewati seseorang di mesjid yang mengeraskan suaranya, lalu aku berkata, “ Wahai Rosulullah, tidaklah ia termasuk orang ria ? “ Beliau menjawab, “ Tidak,tetapi dia pengeluh,” (H.R.Baihaqi).

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG DZIKIR JAHAR

Imam An-Nawawi berkata : “Bahwa bacaan dzikir sir (samar) lebih utama apabila takut ria, atau khawatir mengganggu orang yang sedang sholat atau tidur. Sedangkan yang jahar (dzikir keras) lebih baik apabila tidak ada kekhawatiran tentang hal ini, mengingat amalan di dalamnya lebih banyak manfaatnya, karena ia dapat membangkitkan kalbu orang yang membaca atau yang berdzikir, ia mengumpulkan semangat untuk berfikir, mengalahkan pendengaran kepadanya, mengusir tidur, dan menambah kegiatan” (dalam Kitab Haqiqot Al-Tawwasulu wa Al-Wasilat  Al-Adlow’il kitabi wa As-Sunnah).
Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih didalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang kepada Allah yang telah menjadikan hati jadi keras bagaikan batu, penghalangnya yaitu seperti sipat malas, sombong, ria, iri dengki dan sebagainya)


Imam Al-Ghozali r.a. mengatakan: “Sunnat dzikir keras (jahar) diberjemaahkan di mesjid karena dengan banyak suara keras akan memudahkan cepat hancurnya hati yang keras bagaikan batu, seperti satu batu dipukul oleh orang banyak maka akan cepat hancur”.


KENAPA MESTI ZIKIR KERAS?
Ulama ahli ma’rifat mengatakan bahwa untuk mencapai ma’rifat kepada Allah bisa diperoleh dengan kebeningan hati. Sedangkan kebeningan hati itu bisa dicapai dengan suatu thoriqoh (cara), diantaranya banyak berdzikir kepada Allah. Jadi, ma’rifat tidak akan bisa diperoleh jika hati kita masih dipengaruhi dengan ananiyah(akauan diri), penuh dengan kesombongan, ria, takabur, iri dengki, ujub, dendam, pemarah, malas beribadah dan lain-lain. Oleh sebab itu dzikir diantara salah satu cara (thiriqoh) untuk membersihkan hati dan mengeluarkan sifat ananiyah yang selama ini bersarang didalam hati hingga punya akuan yang kuat dalam diri yang merasakan (aku buat itu dan ini) dalam melakukan segala amal.


Sebab itulah, diantara manusia yang sering menyalahgunakan fitrah yang diberikan Tuhan, sehingga hati mereka menjadi keras. Sifat-sifat yang tidak terpuji tersebut, mendorong manusia memiliki hati yang keras melebihi batu. Hal tersebut sebagaimana kalimat yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 74: “tsumma qosat quluubukum minba’di dzaalika fahiya kal hijaaroti aw asyaddu qoswatun”, artinya “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,bahkan lebih keras lagi”. Dari ayat tersebut hati manusia yang membangkang terhadap Allah menjadikan hatinya keras bagaikan batu bahkan lebih keras daripada batu.


Maka, jalan keluarnya untuk melembutkan hati yang telah keras bagaikan batu sehingga kembali tunduk kepada Allah, sebagaimana Ulama ahli ma’rifat mengatakan penafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dalam kitab miftahu Ash-Sshudur karya Sulthon Awliya Assayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “fakamaa annal hajaro laa yankasiru illa biquwwatin dlorbil muawwil fakadzaalikal qolbu laayankasiru illa biquwwati ”, artinya “sebagaimana batu tidak pecah kecuali bila dipukul dengan tenaga penuh pukulan palunya, demikian hati yang membatu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan kuatnya suara dzikir. “liannadz dzikro laa yu’tsiru fiijam’i tsanaati qolbi shohibihi illa biquwwatin”, artinya “ Demikian pula dzikir tak akan memberi dampak dalam menghimpun fokus hati pendzikirnya yang terpecah pada Allah kecuali dengan suara keras”.


Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih di dalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang yang akan menghalangi kita dekat kepada Allah, seperti sifat-sifat jelek manusia: iri, dengki, sombong, takabur,dll yang disumberkan oleh hati yang keras).


CARA BERZIKIR DENGAN KERAS YANG DIAJARKAN ROSUL
Dalam hadits shohihnya, dari Yusuf Al-Kaorani : “Sesungguhnya Sayyidina ‘Ali r.a. telah bertanya pada Nabi Saw. : Wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku macam-macam thoriqot (jalan) yang paling dekat menuju Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama di sisi Allah, maka Nabi Saw menjawab: wajiblah atas kamu mendawamkan dzikkrullah: Sayyidina ‘Ali r.a bertanya lagi: Bagaimana cara berdzikirnya ya Rosulallah? Maka Nabi menjawab: pejamkan kedua matamu, dan dengarkan (ucapan) dariku tiga kali, kemudian ucapkan olehmu tiga kali, dan aku akan mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali sambil memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Sayyidina ‘Ali r.a mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali, sedangkan Nabi Saw memdengarkannya”. (Hadits dengan sanad sahih, dalam kitab Jami’ul Ushul Auliya)


Dalam kitab Tanwirul Quluub dijelaskan cara gerakan dzikir agar terjaga dari datangnya Syetan, merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al’Arof ayat 17: “Demi Allah (kami Syetan) akan datang kepada manusia melalui arah depan, arah belakang, arah kanan dan arah kiri”. Ayat ini menunjukan arah datangnya syetan untuk menggoda manusia agar menjadi ingkar terhadap Allah. Jelas, sasarannya manusia melalui empat arah; 1. Depan 2.Belakang 3.Kanan 4.Kiri.Maka, dzikirnya pun harus menutup empat arah. Dalam kitab Tanwirul Qulub: ucapkan kalimat “LAA” dengan diarahkan dari bawah pusat tarik sampai otak hal ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah depan dan belakang. Adapun ditarik kalimat itu ke otak karena syetan mengganggu otak/pikiran kita sehingga banyak pikiran kotor atau selalu suuddzon. Dan “ILAA” dengan diarahkan ke susu kanan atas, dan kalimat “HA” diarahkan ke arah susu kanan bagian bawah adapun ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah kanan. Dan “ILLALLAH” diarahkan ke susu kiri yang bagian atas serta bawahnya, hal ini untuk menutup pintu syetan yang datangnya dari arah kiri, namun lapadz jalalah yaitu lapadz “ALLAAH”nya diarahkan dengan agak keras ke susu kiri bagian bawah sekitar dua jari, karena disanalah letaknya jantung atau hati (keras bagaikan batu) sebagaimana pendapat Imam Al-ghozali.Kifiat amalan zikir ini perlulah diambil dari guru yang mursid yang bersanad jejak hingga rasulullah.

Dan dzikir jahar itu dianjurkan dengan berjama’ah, dikarenakan dzikir dalam berjama’ah itu lebih banyak membekas di hati dan berpengaruh dalam mengangkat hijab. Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah duduk suatu kaum berdzikir (menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla) melainkan mereka dinaungi oleh para malaikat, dipenuhi oleh rahmat Allah dan mereka diberikan ketenangan hati, juga Allah menyebut-nyebut nama mereka itu dihadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya”. [At Targhib wat Tarhib, II: 404]

Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi, dari Mu’awiyyah, bahwasanya Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam keluar menuju kepada halaqah daripada sahabatnya, kemudian beliau bersabda: “Kenapa kalian duduk-duduk?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berdzikir dan memuji Allah Ta’aala.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkan kepadaku bahwasanya Allah Ta’aala membanggakan kalian kepada malaikat.”

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhani (Bukhari dan Muslim) dari ibn ‘Abbas radhiyallaah ‘anhu berkata: “Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir setelah orang-orang menyelesaikan sholat wajib sudah atas persetujuan dari Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam”. Berkata pula ibn ‘Abbas: “Sesungguhnya aku selalu mengetahui apabila mereka telah menyelesaikan sholat, kemudian terdengar mereka berdzikir.”

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dan beliau menyatakan shohih, dan an-Nasa’i serta ibn Majah, dari Sa’ib bahwasanya Rasulullaah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Jibril ‘alahissalaam mendatangiku dan berkata: ‘Perintahkan para sahabatmu untuk mengeraskan suara mereka di dalam bertakbir.’”

Sebahaian kutipan dari kitab al-Hawi li al-Fatwi pada Sub Bab Natiijat al-Fikr Fi al-Jahr Fi adz-Dzikr

Memang ada hadis-hadis yang menyatakan bahawa zikir khafi (perlahan atau lisan hati) itu afdhal.Tetapi pernyataan antara dua (method) hadis hadis ini tidak bercanggah sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Al-Nawawi dan Al-Imam As-Syayuthi r.a.....bahawa zikir yang khafi itu afdhal apabila ditakuti riya' atau mengganggu orang sekitar atau orang yang sedang tidur dan afdhal bagi orang yang hatinya sudah lembut dan suci murni yang sudah boleh tetap didalam musyahadah terhadap Allah SWT.TETAPI bagi orang yang hatinya masih keras kejur,masih menjadi sarang waswas dan khawathir atau lintasan-lintasan yang cemar dan masih mudah mengantuk dan terlelap maka para musyeikh (guru pembimbing dalam tarekat tarekat kerohanian) mengatakan bahawa mereka itu lebih sayugia berzikir dengan nyaring dengan suara keras (lihat situasinya..seperti tidak menjadi rada riya' dan tidak pula terjadi mengganggu orang lain sekitarnya) kerana zikir dengan jihar itu akan lebih cepat berkesan bagi melembutkan hati dan menolak segala waswas dan khatir yang cemar dan lebih segera menyinkatkan perjalanan menuju Allah Taala. Kerana para Musyeikh sudah mendapati dari pengalaman mereka sendiri bahawa method zikir demikian adalah mujrab lagi sohih.

Zikir dengan paluan yang keras juga insyallah boleh memecahkan dinding akuan diri yang keras (rasa ananiyah) yang kuat dalam diri dapat dipecahkan dengan hadir dalam hati ketika berzikir dari Allah dengan izin Allah, Kerana Allah.

Pada permulaan untuk mendapat faedah yang sempurna bagi orang yang baru mula menjadi ahli zikir dengan lisan hendaklah memaksa dirinya sungguh sungguh supaya hatinya turut serta berzikir (sebaiknya mengikut method atau petua yang diajar oleh guru thoriqatnya ini lebih mudah berhasil). Pada peringkat awal adalah dengan cara memaksa. Kemudian setelah bersusah payah memaksa diri (mujahadah) untuk membiasakan (istiqamah) barulah inshaAllah dapat merasai kelazatan zikir.Segala hijab (tutupan) yang menggelapkan hati inshaAllah diterangi cahaya daripada Allah. Hati akan hadhir sendiri  (ketika berzikirullah) tanpa dipaksa lagi.Kedudukan (makam zikir) pada tahap ini ia tidak sabar (rindu) mahu berzikir dan hati juga nyawanya tidak lalai lagi terhadap Allah dan hatinya selalu disinari oleh cahaya Allah (Nurullah) dan seterusnya menggapai makrifatullah melalui jalan zauq (rasa)  dan haqqul-yaqin.

Kesimpulannyanya..zikir yang khafi itu afdhal dan zikir jihar pun afdhal menurut keadaan syakhasiat-syakhasiat dan ihwal yang berbeza.Tetapi bagi wanita maka mereka ada diingatkan supaya menunduk atau memperlahankan suara untuk mengelak fitnah agar tidak tergoda orang-orang lelaki yang mendengarnya.. lagi pun ada ulama' yang menghukum bahawa suara wanita itu adalah aurat.

Berkata As-Samarqadi....Apabila berkata seseorang:Laa ilaaha illallah sedang hatinya pada dunia disurat baginya sepuluh kebajikan dan jika ada hatinya pada akhirat maka baginya rujuh ratus kebajikan dan jika ada hatinya serta Allah Taala maka baginya penuh barang yang antara masyriq dam maghrib itu kebajikan.

Wallahu a'lam .

Isnin, 12 September 2016

Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim


Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim
Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua kalimat yang ringan bagi lisan untuk mengucapkannya, berat ketika diletakkan di atas mizan (timbangan di akhirat), dan sangat dicintai oleh Dzat yang Maha Pengasih, yaitu subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.”
Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada para sahabatnya, “Ucapkanlah subhanallah wa bihamdihi sebanyak seratus kali. Barangsiapa mengucapkannya satu kali maka tertulis baginya sepuluh kebaikan, barangsiapa mengucapkannya sepuluh kali maka tertulis baginya seratus kebaikan, barangsiapa mengucapkannya seratus kali maka tertulis baginya seribu kebaikan, barangsiapa menambahnya maka Allah pun akan menambahnya, dan barangsiapa memohon ampun, niscaya Allah akan mengampuninya.”
“Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.” (3 kali)
Diriwayatkan oleh at-Turmudzi bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan subhanallah wa bihamdihi maka akan ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga.”
Ketahuilah barangsiapa mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagaimana yang telah ditartibkan dalam ratib ini, maka akan ditanamkan baginya tiga pohon kurma di surga.
Disebutkan dalam kita “Ghayatul Qashd Wal Murad” bahwa al-Arif billah Sayyid Hasan putra shahibu ratib al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, “Empat puluh hari menjelang wafat ayahku dan ia dalam keadaan sakit, yang paling banyak beliau ulang-ulang adalah dzikir tersebut.”
Dalam kitab “Syarhul Washiyah” diterangkan sebuah hadits mengenai keutamaan dzikir subhanallah wa bihamdihi. Dikatakan bahwa kalimat subhanallah wa bihamdihi adalah kalimat yang sangat dicintai Allah swt dan merupakan kalimat yang paling utama dari kalimat-kalimat lainnya. Barangsiapa mengucapkannya maka akan tertulis baginya seratus dua puluh empat ribu kebaikan, dan kalimat tersebut lebih dicintai Allah swt daripada bersedekah di jalan Allah dengan emas sebesar gunung Uhud, dan Allah akan menghapus dosa orang yang mengucapkannya walau dosa orang tersebut lebih banyak daripada buih yang ada di lautan.
Ketahuilah barangsiapa yang mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagaimana yang telah ditartibkan dalam ratib ini, maka akan tertulis baginya tiga ratus tujuh puluh dua ribu kebaikan.
Dalam musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa ketika menjelang ajal Rasulullah saw, Beliau memanggil putrinya dan berkata, “Aku perintahkan engkau agar selalu mengucapkan subhanallah wa bihamdihi, karena kalimat tersebut merupakan doa seluruh makhluk dan dengan kalimat itulah semua makhluk mendapat limpahan rezeki.”
Abu Dzar berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw amal apakah yang paling dicintai Allah swt. Beliau menjawab, ‘Yang telah dipilih Allah untuk para Malaikat-Nya, yaitusubhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.”
Diriwayatkan dalam “Shahih Bukhari” bahwa suatu ketika datang seorang lelaki mengeluhkan keadaannya kepada Rasulullah saw. Ia berkata, “Dunia ini telah berpaling dariku dan yang telah kuperoleh dari tanganku sangatlah sedikit.” Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak pernah membaca doanya para Malaikat dan tasbihnya seluruh makhluk yang dengan itu mereka mendapat limpahan rezeki?” Lelaki itu bertanya, “Doa apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim, dan beristighfarlah kepada Allah sebanyak seratus kali diantara waktu terbitnya fajar hingga menjelang waktu shalatmu, dengan itu dunia akan tunduk dan merangkak mendatangimu, dan Allah menciptakan dari setiap kalimat tersebut Malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah hingga hari kiamat dan untukmu pahalanya.”

Ahad, 21 Ogos 2016

Dahulukan Adab Mu Sebelum Beramal

Adab menurut arti bahasa adalah kesopanan, tingkah laku yang pantas, tingkah laku yang baik, kehalusan budi dan tata susila. Adab juga bisa berarti pengajaran dan pendidikan yang baik sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Sesungguhnya Allah ‘azawajalla telah mendidikku dengan adab yang baik (dan jadilah pendidikan  adab ku istimewa)” (HR. Ibnu Mas’ud)

Prof. Dr. Jamaan Nur dalam bukunya “Tasawuf dan Tarekat Naqasyabandiyah memberikan pengertian adab dalam Islam sebagai tata cara yang baik atau etika dalam melaksanakan suatu pekerjaan, baik ibadat maupun muamalat. Karena itu ulama menggariskan adab-adab tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan atau melakukan kegiatan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Hadist. Adab-adab tertentu itu misalnya adalah adab memberi salam, adab minta izin memasuki sebuah rumah, adab berjabat tangan, adab hendak tidur, adab bangun tidur, adab duduk, berbaring dan berjalan, adab bersin dan menguap, adab makan dan minum, adab masuk ketandas, adab mandi dan berwudhu’, adab sebelum dan ketika melakukan shalat, adab imam dan makmum, adab menuju mesjid, adab Jum’at, adab puasa, adab berkumpul, adab berguru, adab bermursyid, adab berikhwan dan lain-lain.
Imam al-Ghazali mengatakan adab adalah melatih diri secara zahir dan bathin untuk mencapai kesucian untuk menjadi sufi. Menurut al-Ghazali ada 2 (dua) tingkatan adab :
  1. Adab khidmat, yaitu fana dari memandang ibadatnya dan memandang ibadat yang diperbuatnya dapat terlaksana semata-mata berkat izin dan anugerah Allah SWT kepadanya.
  2. Adab Ahli Hadratul Uluhiyah, yaitu adab orang yang sudah dekat dengan Allah. Adab mereka ini dilakukan sepenuhnya mengikuti adab Rasulullah SAW lahir dan bathin.
Abu Nasr As Sarraj At Tusi mengadakan ada tiga tingkatan manusia dalam melaksanakan adab yaitu :
  1. Adab dunia. Adab mereka pada umumnya adalah kemahiran berbicara, menghapal ilmu pengetahuan dan membuat syair-syair arab.
  2. Adab Ahli Agama adalah melatih mental dan anggota, memelihara aturan hukum agama dan meninggalkan syahwat.
  3. Adab Ahli Khususiah (Adab orang sufi Thariqat yang telah mencapai tingkatan tertentu). Adab mereka pada umumnya adalah membersihkan hati (qalb), memelihara waktu, sedikit saja menuruti suara hati sendiri, amat beradab ketika meminta, ingat kepada Allah SWT sepanjang waktu dan selalu berdaya upaya agar dekat kepada Allah SWT (Maqam Qurb)
Berdasarkan uraian di atas adab merupakan hal yang sangat pokok di dalam menjalani kehidupan di dunia khusunya di dalam tasawuf. Tharekat Naqsyabandi menempatkan adab menjadi sesuatu yang amat penting sehingga dimasukkan ke dalam kurikulumnya yang kita kenal dengan Enam Rukun Thareqat Naqsyabandiyah yaitu : Ilmu, Adab, Sabar Ridha, Iklas dan Akhlak.
Didalam ajaran tasawuf, adab kepada guru Mursyid adalah sesuatu yang utama dan pokok, karena hampir seluruh pengajaran tasawuf itu berisi tantang pembinaan akhlak manusia menjadi akhlak yang baik, menjadi akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah SAW. Seorang murid harus selalu bisa memposisikan (merendahkan) diri di depan Guru, harus bisa melayani Guru nya dengan sebaik-baiknya.
Merendahkan diri dihadapan guru bukanlah tindakan bodoh, akan tetapi merupakan tindakan mulia. Dalam diri guru tersimpan Nur Ala Nurin yang mendatangkan segala aura yang Positif  kepada mereka yang mendekatinya, insyallah.
Disaat kita kita mendampingi guru mursyid aura zikir yang terpancar dari guru terkesan kepada hati kita yang juga disebut nur waridah yang sampai kehati kita, mereka dengan izin Allah karena kedekatan kepada Allah apabila kita memandang Wajah nya akan membuat kita semakin dekat dengan Allah, pandangan kita kepada mereka akan menyambungkan rohani (Rabithah) kita dengan Allah. Inilah dasar dalil yang digunakan oleh pengamal tarekat untuk selalu berwasilah (berabithah) kepada Guru Mursyid yang bersanad salahsilahnya dengan Rasulullah SAW 
Menurut suatu hadith yang diriwayatkan oleh sunnan Abu Daud, antara lain menyebut, " Jadikanlan diri kamu serta Allah jika telah tidak kamu dapat berserta Allah bersamalah dengan mereka yang berserta Allah maka sesungguhnya dia akan menyampaikan kamu kepada Allah"
Suatu malam disaat orang sedang terlelap, Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat itu masih muda dan sedang berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabbal Qubis Makkah sedang membersihkan kamar mandi Gurunya menggunakan kedua tangannya tanpa merasa jijik dan melakukan dengan penuh ikhlas. Di saat Beliau melakukan tersebut, tiba-tiba Guru Syekh Sulaiman Zuhdi lewat dan berkata, “Kelak tanganmu akan di cium raja-raja dunia”. Ucapan Gurunya itu dikemudian hari terbukti dengan banyak raja yang menjadi murid Beliau dan mencium tangan Beliau salah satunya adalah Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja di Kerajaan Langkat, Sumatera Utara.
Serangkap pantun yang pernah diungkap oleh Tuan Guru Syekh Abd Wahab Rokan:
Tanam Limau tujuh penjuru,
Dahannya chondong keseberang,
Kalau  taat perintah guru,
Hati yang gelap menjadi terang.

Ahad, 3 Julai 2016

Awaludin ma'rifatuallah.

Awaludin ma'rifatuallah.
Mengenal Allah; "Wahai mereka yang baru belajar, hendaklah kamu menuntut ilmu. Sesungguhnya ilmu-ilmu yang lain adalah hamba kepada ilmu tauhid. Kamu belajar ilmu fiqh untuk mengesahkan hukum. Akan tetapi, engkau lalai daripada mengenal tuhan yang menurunkan hukum."

"Tidak ada satu musibah yang lebih dahsyat daripada putusnya hubungan seseorang hamba itu dengan Allah سبحانه وتعالى. Orang yg merasakan dirinya bertauhid dialah sebenarnya kurang bertauhid. Orang yg merasakan dirinya kurang bertauhid dialah sebenarnya sedang mencapai peringkat tauhid. Seseorang yg beramal tanpa tauhid yang kukuh di dalam hatinya, maka amalnya akan goyah."

"Sebelum mati kita yang sebenar tiba, matikan diri kita dulu. Matikan yang macam mana? Yakni, matikan nafsu kamu. Dengar lihat pandang perkara yang Allah سبحانه وتعالى redha sahaja. Leburkan sifat keakuan diri. Saat kita mengingati Allah سبحانه وتعالى, bukan kita yang ingat Allah, tapi Allah سبحانه وتعالى jua lah yang meletakkan hamba-Nya untuk mengingati Allah سبحانه وتعالى."

"Setiap yang Allah cipta walaupon tsunami banjir yang besar sekalipon, jangan lihat pada musibah yang menimpa tapi lihat pada siapa yang menciptakannya. Begitu juga bila barang naik jangan dilihat pada siapa yang memimpin. Lihatlah Pencipta itu sendiri. Tiada siapa dapat mengerakkan satu zarah pun melainkan hanya Dia Allah سبحانه وتعالى. Siapa tahu hujung usianya husnul khotimah."

"Lihat air di dalam gelas. Tak dilihat kaca gelas tapi dilihat terus pada air di dalam gelas. Tauhid hakiki bila dapat dicapai maka fanalah dunia ni daripada dirinya. Yang nampak hanya lah Allah سبحانه وتعالى. Laillahaillallah wahdahu la syarikallah lahulmulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa ala kulli syai in qadir."

"Sunah dibaca sepuluh kali selepas subuh dan maghrib. Maka amalkan. Kesan zikir ini apabila dihayati walau dipuji melambung tidak ada kesan pada dirinya sebab nampak semuanya datang daripada Allah سبحانه وتعالى."

"Contoh kita bawak balik kereta bos kita, bermacam jenama bersilih ganti. Kawan kita puji hebatnya kau ada kereta macam-macam. Kita tak rasa bangga sebab kereta itu bukan kita punya. Bukan hak kita. Tak rasa apa-apa pon. Bangga ataupun rasa terangkat. Segala-galanya jangan lihat pada asbab. Lihatlah pada Allah سبحانه وتعالى."

"Hari ini ramai orang yang belajar ilmu untuk menyampaikan ilmu, akan tetapi tidak ramai yang belajar ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى. Seseorang yang mencapai hakikat tauhid, dia dapat meleburkan sifat keakuan dirinya."

"Kita sudah terlalu lama berada di dalam ilmu dan amal, akan tetapi kebersamaan dengan Allah سبحانه وتعالى tidak ada. Sebab itulah semakin kita memperbanyakkan amal ibadah, semakin sombong, semakin suka mengumpat dan segala macam sifat mazmumah. Dia tidak kenal Allah سبحانه وتعالى."

"Orang dizaman kita sekarang sibuk dengan perhiasan luaran jasad, akan tetapi tak sibuk dengan perhiasan dalaman ruh. Kerna Iman itu apa yang ada di dalam hati. Dakwah itu mengajak manusia kepada Allah سبحانه وتعالى. Bukan mengajak kepada persatuan tertentu, parti, tariqat tertentu, guru tertentu dan sebagainya. Akan tetapi dakwah itu mengajak manusia kepada Allah سبحانه وتعالى."

"Firman Allah سبحانه وتعالى; "Dan kami ciptakan kamu berpasang-pasangan. Malam pasangannya siang. Matahari pasangannya bulan." Yang dinamakan makhluk itu semuanya berpasangan dan yang tunggal itulah Allah سبحانه وتعالى yang suci daripada berpasangan. Hikmah wujudnya alam ini adalah untuk Allah menceritakan bahawa Allah سبحانه وتعالى itu tunggal."

"Dan panas pasangannya sejuk. lelaki itu pasangannya perempuan. Baru sempurna. Jika lelaki sama lelaki atau perempuan sama perempuan maka tidak sempurna. Begitu juga dengan syariat. Pasangannya adalah hakikat. Barulah sempurna. Selama ni hanya kenal syariat, tanpa kenal hakikat. Akhirnya penat dengan beribadah tanpa kenal siapa yang diibadahkan. Sibuk dengan amal, akan tetapi hati tak sibuk dengan Allah سبحانه وتعالى."

"Hari ini senang-senang orang menghukum kafir sesama orang islam yang lain. Menghukum orang yang nazak meninggal tak ucap syahadah kafir, atau tak masuk syurga. Hakikat iman itu didalam hati. Seorang yang nazak dan menghampiri kematian, walaupon tidak terucap kalimah Laillaha illallah Muhammadurrasulullah dgn sempurna."

"Akan tetapi terungkap kalimah Laillahaillallah atau Allah atau Hu. Itu adalah sudah memadai. Kerana orang yang sentiasa mengingati Allah سبحانه وتعالى, itu sudah memadai. Dia ingat Allah. Dalam hatinya ada Laillahaillallah. Kita tak tahu, Kebersamaannya dengan Allah سبحانه وتعالى itu. Semoga akhir kalam didalam hidup kita, diatas dunia ini ditutup dengan syahadah."