.

.

Isnin, 29 Disember 2014

Kesaksian Ulamak Besar Tentang Tasawuf

Kesaksian ulamak besar Syekh Yusuf Al-Qardawi dalam dua tulisan yaitu Kesaksian Ulama Fiqih Tentang Tasawuf dan khusus pendapat Syekh Yusuf Qardawi terhadap tasawuf bisa di baca di Fatwa Al-Qardawi Tentang Tasawuf. Berikut adalah tulisan  yang dikutip sebuah komentar dari blog MutiaraZuhud tentang kehidupan Rasulullah dan Para Sahabat yang menjadi sumber ajaran tasawuf untuk meyakinkan kita semua bahwa ajaran tasawuf adalah benar-benar ajaran Rasulullah SAW.
Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku nabi Muhammad SAW.
Peristiwa dan Perilaku Hidup Nabi. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Pengasingan diri Nabi SAW digua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari.

Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).
Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .
Ibadah Nabi Muhammad SAW.  Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).
Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata: Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani).

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi SAW meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi SAW banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan Ramadan.
Akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya.

Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha. Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan contoh ikutan terbaik bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”.

Kehidupan Empat Sahabat Nabi Muhammad SAW.
Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang yang meneliti kehidupan rohani dalam islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi diabad-abad sesudahnya.
Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi SAW. Setidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu Al-Qur’an memuji mereka: Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At Taubah:100).

Perkara-perkara Yang Menghalang Untuk Sampai Kepada Allah


Rabu, 9 Julai 2014

Sipakah yang dikatakan guru Mursyid, Mu’alim, Murabbi, Mudarris, Mu’addib


Perkataan guru adalah hasil gabungan dua suku kata iaitu `Gur' dan `Ru'. Dalam bahasa jawa, Gu diambil daripada perkataan gugu bermakna boleh dipercayai manakala Ru diambil daripada perkataan tiru yang bermaksud boleh diteladani atau dicontohi. Oleh itu, guru bermaksud seorang yang boleh ditiru perkataannya, perbuatannya, tingkah lakunya, pakaiannya, amalannya dan boleh dipercayai bermaksud keamanahan yang dipertanggungjawabkan kepadanya untuk dilakukan dengan jujur.

Guru yang berwawasan bertindak sebagai mu’alim, mu’addib, murabbi, mursyid, mudarris dan dalam masa yang sama sebagai fasilitator, pembimbing dan kaunselor yang sentiasa komited dengan kerjayanya iaitu menumpukan perhatian dengan bersungguh-sungguh melaksanakan tugas.

Mu’alim berasal dari perkataan Arab yang bererti guru. Ia juga bermaksud pengajar yang mencurahkan ilmu pengetahuan untuk anak didiknya. Seorang mu’allim lebih menumpukan kepada ilmu akal.Sebagai guru yang bersifat mu’allim, isi kandungan pendidikan perlu disampaikan berserta ilmu yang berkaitan dengan nilai-nilai murni dalam proses melahirkan insan bermoral.

Murabbi dalam Islam membawa maksud yang lebih luas melebihi tahap mu’allim. Konsep Murabbi merujuk kepada pendidik yang bukan sahaja mengajarkan sesuatu ilmu tetapi dalam masa yang sama cuba mendidik rohani, jasmani, fizikal dan mental anak didiknya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Guru murabbi lebih menumpukan penghayatan sesuatu ilmu, sekali gus membentuk keperibadian, sikap dan tabiat anak didiknya. Tugas murabbi lebih berlegar di hati. Spiritual Quotient (SQ) dapat dibentuk di dalam diri murid-murid kerana pengajaran berbentuk nilai murni ini boleh diperkukuhkan dengan memberi kesedaran, keyakinan dan juga melalui amalan.

Mudarris adalah pengajar yang selari dengan perkataan guru. Peranan guru adalah untuk memperkembangkan kemahiran dalaman dan luaran murid-murid. Guru boleh membantu murid-murid untuk hal-hal yang tidak mereka ketahui dan faham. Sikap peribadi dan penampilan diri memerlukan kemahiran untuk dikuasai oleh murid-murid.

Mu’addib (Ta’dib) berasal dari perkataan adab iaitu bererti budi pekerti. Mu’addib juga membawa maksud yang hampir kepada istilah mentor. Mu’addib adalah pemupuk adab, akhlak, nilai atau proses pembentukan disiplin dan sikap murid bagi membentuk sahsiah. Peranan mu’addib adalah menyiapkan mu’addab yang dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat yang diletakkan di atas bahu mereka pada masa hadapan. Guru mu’addib bukan sahaja perlu mengajar nilai-nilai murni tetapi mesti mengamalkan nilai-nilai murni tersebut. Mu’addib mempunyai budi pekerti yang tinggi, membina kecergasan akal dan jasmani selaras dengan Falsafah Pendidikan Negara yang menitik beratkan potensi insan berakhlak mulia dan seimbang.

Mursyid bermaksud seseorang yang pakar dalam memberi tunjuk ajar terutamanya dalam bidang kerohanian. Mursyid secara istilahnya merupakan mereka yang bertanggungjawab memimpin dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah S.W.T dalam proses tarbiah yang teratur. Mursyid bertanggungjawab untuk mengajar dari sudut zahir (syariat) dan makna (batin). Tugas membentuk kepimpinan insan merupakan tugas yang berat dan perlu dilaksanakan oleh guru.

Hai hambaku! Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi
seruanku. Upahku hanyalah dari Allah ...
(Maksud Al-Qur' an 11 :29)Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, iaitu orang-orang
yang beriman
(Maksud Al-Qur'an 42:215)

Berdasarkan dua ayat Al-Qur' an di atas, ikhlas adalah sifat yang paling utama bagi seorang mursyid. Ini bermakna, guru yang mursyid ialah guru yang sedia menjadi seorang penasihat yang ikhlas.

Perkataan mursyid berasal dari bahasa arab, dari kata irsyada, iaitu memberi tunjuk-ajar. Dalam erti kata lain, mursyid bererti, seseorang yang pakar dalam memberi tunjuk-ajar terutamanya dalam bidang kerohanian, dalam istilah para sufi.
Mursyid secara istilahnya (menurut kaum sufi), merupakan mereka yang bertanggungjawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah s.w.t., dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah.
Para mursyid dianggap golongan pewaris Nabi s.a.w. dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka (tazkiyah an-nafs), yang mendapat izin irsyad (izin untuk memberi bimbingan kepada manusia) dari para mursyid mereka sebelum mereka, yang mana mereka juga mendapat izin irsyad dari mursyid sebelum mereka dan seterusnya, sehinggalah silsilah izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah s.a.w. (tanpa terputus turutannya). Oleh itu pada kebiasaannya, ia daripada keturunan ulamak.
Para mursyid bertanggung jawab bagi mengajar dari sudut zahir (syariat) dan makna (batin). Antara ciri seseorang yang digelar mursyid adalah:-
·        Mempunyai ilmu agama yang jelas tentang perkara-perkara fardhu 'ain.
·        Dia merupakan seorang yang kamil dari sudut muamalah dengan Allah s.w.t.
·        Mendapat pengiktirafan /pengesahan dari mursyidnya (guru) yang diiktiraf (tidak putus dalam turutan pengajaran).
·        Manhaj tarbiah yang selari dengan panduan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

  Sekurang-kurangnya ada 14 syarat yang perlu ada bagi seseorang itu layak
dipanggil mursyid:
1 Menguasai dan melaksanakan ilmu syariah sebagai tiang agama.
  Ertinya mursyid tadi tidak mengabaikan keperluan solat, zakat,
  puasa dan haji. Peribadinya tertakluk dengan hukum Allah SWT.
2 Hatinya terbuka kepada teguran dan kritikan
3 Ilmunya benar atau sahih (bukan ilmu sihir dsb)
4 Berkemahuan/hemah tinggi kerana hendak membina prestasi diri
   dan muridnya.
5 Berpandangan jauh (umat Islam memandang jauh kerana adanya
  akhirat sebagai destinasi kita)
6 Dermawan (tidak sekalipun lokek) walaupun keperluannya tinggal
  sehelai sepinggang.
7 Berbudi pekerti luhur
8 Kasih sayang terhadap semua manusia; tanpa rasa perkauman atau
   memandang pangkat/diskriminasi
9 Zuhud (menolak kebendaan) dan hidup dengan amat sederhana.
10 Tidak membesarkan diri dengan kehebatannya (self promotion
    seperti kononnya punya karamah atau dapat melihat yang ghaib iaitu
   kashaf)
11 Tidak mengeluh ketika diuji (terutama kekurangan dari segi
    ekonomi)
12 Amat perahsia (tidak mendedahkan keaiban atau kekurangan orang
    lain)
13 Hadir hatinya untuk Allah SWT semata
14 Kesan kesalihannya terpapar kepada usahanya (tanpa menunjukkan
    sesuatu yang luar biasa seperti karamah).

      Guru yang mursyid juga digelar sebagai Tuan guru atau Tok guru atau Tuan Sheikh yang memiliki kepimpinan rohaniah pada kebiasaannnya mereka memiliki madrasah atau pondok .dalam usaha memimpin atau membentuk muridnya.
Rasulullah Guru (Mualllim, murabbi mursyid muaddib mudarris) Teragung.

Firman Allah:
 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا   (Surah ahzab ayat 21)

Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta ia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)

Seharusnya kita wajib untuk bersyukur kerana kasih sayang Allah telah mengutuskan seorang rasul-Nya yang telah melengkapkan keperluan hidup insan dan menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia. Nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan islam itu sendiri. Kedatangan Rasulullah yang menjadi guru teragung umat manusia melengkapkan seluruh keperluan manusia. Seharusnya guru yang patut kita ingati adalah rasulullah s.a.w yang menjadi guru yang paling sempurna dan ‘role’ model yang tiada tandingan untuk kita contohi. Namun ingatan buat Baginda yang semakin hari semakin luput ditelan zaman menjadikan akhlak manusia ranap dan musnah, menjadikan manusia kembali kepada hidup yang tidak bertamadun dan rosak akidahnya? Siapakah yang harus dipersalahkan apabila rasulullah s.a.w bukan lagi idola bagi umat manusia manakala Allah bukan lagi matlamat hidup insani? Maka tidak mustahillah dunia hari ini adalah dunia yang semakin menuju kehancuran. Ya rasulullah, engkau guru teragung yang menerangi hidup manusia.





Ahad, 23 Mac 2014

Berzikir Sambil Berdiri Atau Duduk Sambil Mengoyang-goyangkan Badan

Kadang-kadang ada yang memberi jawapan tentang sesuatu hukum itu mengikut ‘rasa’, seperti soalan anda tentang hukum menari yang diamalkan oleh puak sufi seperti di atas, penjawab itu berkata rasanya tidak boleh. Mungkin juga ada orang lain yang akan menjawab rasanya boleh.
Jawapan bagi persoalan agama bukan boleh dimain dengan ‘rasa’. Ia memerlukan sandaran hukum yang perlu dirujuk kepada sumber yang sahih.
Berkenaan dengan zikrullah, Allah SWT berfirman (mafhumnya): “Iaitu orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): ‘Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” (Surah ‘Ali-’Imran ayat 191).
Ayat ini memberi isyarat bahawa zikrullah boleh dilakukan dalam pelbagai keadaan dan gaya.
Ummul Mukminin Aisyah r.ha. pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah (berzikir kepada Allah) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, di atas kenderaan, berbaring, duduk dan bermacam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.
Dalam satu riwayat pernah diceritakan bahawa Jaafar bin Abi Talib r.a (sepupu Rasulullah), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasullullah SAW sebaik sahaja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, “Allah menjadikan rupa parasmu seiras dengan Allah menciptakan daku.”
Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus ditakbirkan dengan menari-nari di hadapan Rasullullah SAW. Tingkah laku beliau itu atau ‘body language’ beliau tidak ditegah atau ditegur oleh Rasulullah SAW.
Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarikat atau golongan sufiyah, ada sandarannya.
Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulama besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya.
Ditanya Shaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari- menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan.
Ditanya al-Allamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama, maka beliau menjawab dengan membolehkannya.
Ditanya ulama besar dalam mazhab Hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, “Tidak mengapa dan boleh dilakukan.”
Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat dalam Surah ‘Ali-’Imran di atas berserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar bin Abi Talib r.a. Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang kepada syahwat dan lain-lain.
Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan. Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (berseronok kerana zikrullah).
Perasaan seronok dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya, merupakan anugerah Allah kepada mereka. Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda keseronokan, tetapi dibuat kerana Allah SWT. Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi itu adalah harus.
Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalil atau hujah, berbaliklah kepada hukum feqah bahawa, “Asal semua perkara adalah harus sehingga ada dalil yang membuktikannya haram.”
Oleh itu berzikrullah yang difahami dari ayat al-Quran di atas, hadis Rasulullah SAW dan pandangan ulama muktabar, maka saya menyatakan ia harus dan bukanlah haram.
Wallahu ta’ala a’lam.


Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din



Rabu, 12 Februari 2014

KULIAH DHUHA OLEH DR MUHAMMAD YUSUF (SURAU NURUSSALAM, TMN PULAI INDAH)


Dr. Mohammad Yusuf, M.Ed bin Shaikh Abdullah bin Shaikh Abdul Wahab bin Shaikh Ismail bin Shaikh Muhammad Thahir bin Khalifah Shihabuddin bin Maulana Shaikh Muhammad Arshad Al Banjari. (seperti di gambar).

Timbalan Rektor Insitut Agama Islam Negeri Jambi.
Pimpinan Majlis Zikir dan Ta'lim "Al Asyiqin " Jambi.

Lulusan dari program Master Pendidikan Islam dari University Islam Antara Bangsa Bangsa Kuala Lumpur 1996

Ph.D Sastera Sufi dari Universitas Islam Negeri Jakarta. 2007