.

.

Selasa, 11 Julai 2017

KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG KASUT



KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG KASUT
Belajar dari kisah Hujjatul Islam, Imam Ghazali, yang dinukilkan dari kitab Maroqi Al-‘Ubudiyyah karangan Imam Nawawi Al-Jawi, syarah dari kitab Bidayah Al-Hidayah karangan Imam Ghazali, tentang perjalanan beliau mendapatkan ilmu ladunni dengan cara tabarrukan (mencari barakah ilmu dari guru).
Imam Ghazali adalah ulama besar yang mengarang berbagai kitab, baik ilmu Fiqh dan Tasawuf. Salah satu karangan beliau yang paling terkenal adalah Tahafut Al-Falasifah dan Ihya’ Ulumuddin. Pada awalnya, Imam Ghazali hanyalah ulama biasa, yaitu sebagai imam Masjid. Ia sangat rajin menjadi imam shalat berjama’ah lima waktu besama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Tapi anehnya, saudaranya yang bernama Imam Ahmad, tidak mau ikut berjama’ah bersama Imam Ghazali. Bahkan ia bersikap acuh kepadanya. Hal inilah yang membuat Imam Ghazali merasa jengkel kepada saudaranya.
Imam Ghazali, sebenarnya telah mengadukan sikap saudaranya itu kepada ibunya, agar sang ibu mau menasehatinya. Ibu memberi nasehat kepada Ahmad, agar dia mau berjama’ah di masjid bersama masyarakat sekitar.
Pada saat Imam Ghazali menjadi Imam, tiba-tiba saudaranya melihat bahwa baju yang dipakai Imam Ghazali penuh dengan lumuran darah. Karena itulah, beliau akhirnya memisahkan diri (Mufaraqah) tidak mau shalat berjama’ah bersama-sama yang lain.
Mengetahui sikap saudaranya itu, Imam Ghazali menjadi bingung. Dia tidak mengerti mengapa saudaranya itu betul-betul tidak mau shalat berjama’ah dengannya. Dengan hati yang penuh pertanyaan, akhirnya Imam Ghazali memberikan diri untuk bertanya. “Mengapa engkau bersikap acuh ketika aku menjadi imam shalat?” Saudaranya menjawab, “Bagaimana saya harus berjama’ah dengan seorang yang bajunya berlumuran darah?”
Mendengar jawaban tersebut, Imam Ghazali sangat terkejut. Ia menyadari bahwa waktu itu dirinya kurang bisa khusuk dalam shalatnya karena memikirkan masalah yang diajukan seseorang kepadanya. Yakni masalah darah wanita (haidh). Karena masalah tersebut belum ditemukan jawabanya, maka pikiran Imam Ghazali menjadi kalut hingga mengakibatkan shalatnya tidak khusuk.
Seketika itu pula Imam Ghazali baru menyadari bahwa saudaranya ternyata bukan orang sembarangan. Maka dengan rasa hormat, dia pun bertanya, “Wahai saudaraku, darimana engkau memperoleh ilmu yang seperti itu?”. Jawab Ahmad “Ketahuilah wahai saudaraku, aku belajar dari seorang guru yang pekerjaanya sehari-hari menjadi tukang sol sepatu.”
“Kalau begitu, tolong kiranya engkau sudi menunjukkan padaku guru tersebut,” pinta Imam Ghazali.
Imam Ahmad pun akhirnya berkenan mengantarkan Imam Ghazali menemui orang yang dimaksud. Setelah dipertemukan, Imam Ghazali pun menyatakan keinginan untuk menimba ilmu dari orang tersebut. Tapi waktu itu, tukang sol sepatu malah balik berkata kepada Imam Ghazali,
“Pikirkanlah terlebih dahulu. Jangan-jangan engkau nanti tidak akan mampu melaksanakan perintahku!”
“Insya Allah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa pun yang tuan guru kehendaki,” jawab Imam Ghazali.
“Sebelum aku mengajarkan ilmu kepadamu, tolong kau bersihkan lebih dahulu lantai tempat kerjaku ini agar enak dipandang mata,” demikian kata sang guru.
Imam Ghazali pun segera mencari sapu untuk melaksanakan perintah sang guru. Tapi sang guru menyuruh menyapu lantai itu dengan tangannya. Maka Imam Ghazali Menyapu dengan tangannya. Kemudian ketika melanjutkan menyapu, beliau melihat banyak kotoran yang berserakan di lantai tersebut.
Sang Guru berkata, “Sapulah kotoran itu.” Ketika Imam Ghazali hendak melepaskan bajunya, sang guru berkata, “Sapulah lantai itu dengan baju yang engkau pakai.”
Ketika Imam Ghazali dengan senang hati hendak menyapunya, sang guru kemudian melarangnya dan menyuruh pulang ke rumahnya. “Nah, sekarang pulanglah engkau!” begitu perintahnya.
Imam Ghazali tak menyangka sama sekali. Dia menyangka hari itu akan mendapatkan bimbingan untuk mempelajari sesuatu, namun apa yang diperkirakan ini meleset. Karena itu, ia pun segera berpikir, mungkin saja hari itu sang guru sudah lelah karena bekerja seharian, sehingga beliau tak mengajarkan ilmu kepadanya akan diberikan pada kesempatan lain. Imam Ghazali pun pulang sesuai perintah guru tanpa memperoleh sedikitpun pelajaran darinya.
Akan tetapi, sampai dirumah, Imam Ghazali merasakan bahwa dalam hatinya ada sebuah pergolakan, sehingga menimbulkan perubahan besar da
lam diri beliau.

Ulama dahulu, walaupun bertaraf mujtahid, masih mencari guru untuk membimbing rohani mereka sebagaimana Imam Al-Ghazali dengan syeikhnya, Ali Al-Farmadzi yang seorang tukang kasut. Imam Shafei pula dengan Asy-Syaiban, seorang pengembala kambing. Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Mu’im dengan Ma’ruf Al-Kurkhi. 

Kita??? Pernah terfikir tuan-puan..guru rohani (guru kepada penyucian jiwa atau nafsu) mereka seorang Tukang Kasut dan Pengembala Kambing? Nampak hina pekerjaan mereka tetapi rohani mereka.. siapa yang tahu? Siapa tahu dia KEKASIH ALLAH (auliya'/wali)? Fikir-fikirkanlah...

Oleh kerana rohani mereka terhijab dengan ilmu yang dipelajari ilmu secara akal, maka mereka akan berkata kitab-kitab dan ilmu-ilmu Imam Al-Ghazali terlalu dalam dan boleh memeningkan masyarakat sehingga terlupa bahawa "Diriku tiada berilmu/aku belum sampai tahap ilmu Imam AlGhazali". Ketahuilah bahawa berkata Al-Imam Ghazali selepas berguru dengan syeikh Ali Al-Farmadi : “Aku menyeberangi lautan fekah, aku sampai ke seberang, aku menyelami lautan tauhid, aku sampai ke seberang, aku menyeberangi lautan falsafah, aku sampai ke seberangnya, (tetapi) apabila aku menyeberangi lautan tasawuf, aku tenggelam dalam lautannya tanpa penghujung..” 


Selasa, 4 Julai 2017

BIDANG ILMU MENAFSIR ALQURAAN



DIANTRA 15 BIDANG ILMU MENAFSIR ALQURAAN  :

1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.
.
2. Ilmu Nahwu (tata bahasa), Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.
.
3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata), Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:

“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71)

Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:“pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.
.
4. Imu Isytiqaq (akar kata, Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.
.
5. Ilmu Ma’ani, Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.
.

6. Ilmu Bayaan, Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
.
7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.
.
8. Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.
.
9. Ilmu Aqa’id, Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat:

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48]:10)
.
10. Ushu l Fiqih, Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil
dan menggali hukum dari suatu ayat.
.
11. Ilmu Asbabun-Nuzul, Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.
.
12. Ilmu Nasikh Mansukh, Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum uang sudah di hapus dan hokum yang masih tetap berlaku.
.
13. Ilmu Fiqih, Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
.
14. Ilmu Hadist, Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.
.
15. Ilmu Wahbi, Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,

“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.”
.

Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali r.a. pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak di berikan kepada orang lain?” Maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman al Quran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Abi Dunya berkata, “Ilmu al Quran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tak bertepi.
.
Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir al Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menfsirkan al Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah di sebutkan dalam banyak hadist. Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah.

.
Iman Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada di luar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
.
Tertulis dalam Kimia’us Sa’aadah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu menafsirkan al Quran:
.
(1) Orang yang tidak memahami bahasa Arab.
.
(2) Orang yang berbuat dosa besar atau ahli bid’ah, karena perbuatan itu akan membuat hatinya menjadi gelap dan menutupi pemahamannya terhadap al Quran.
.
(3) Orang yang dalam aqidahnya hanya mengakui makna zhahir nash. Jika ia membaca ayat-ayat al Quran yang tidak sesuai dengan pikirannya (logikanya), maka ia akan gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami al Quran 

petikan dari TN SHEIKH HJ BAHRIN BIN JALAL (Ahli Khalifah Madrasah Pt Ju )

Batu Pahat Bumi Bertuah

Gambar hiasan Masjid Bentara Luar Batu Pahat

Batu Pahat Bumi Bertuah

Diantara alim ulama yang telah wafat yang pernah menabur jasa di Batu Pahat Johor
(terkini update 11 April 2017).
1. Habib Jaafar bin Ahmad al-Idrus
2. Habib Ali bin Jaafar al-Idrus
3. Habib Muhammad bin Ali al-Idrus
4. Habib Umar bin Salim al-Muhdor
5. Habib Ahmad bin Sumeit
6. Habib Alwi bin Tohir al-Haddad
7. Habib Alwi bin Abdullah al-Haddad
8. Habib Soleh bin Syeikh Abu Bakar
9. Habib Muhammad bin Hasan al-Idrus (Habib Tinggi)
10. Habib Muhammad Omar al-Masyhoor
11. Habib Abu Bakar bin Salim al-Attas
12. Sayyid Engku Jaafar ibni Engku Sayyid Omar al-Qudsy
13. Syeikh Abdul Wahab Rokan Langkat
14. Qadhi Md Shah
15. Kiyai Habib Saleh Parit Bandan, Olak Batu
16. Kiyai Darham bin Ahmad Pt Jawa, Parit Sulong
17. Kiyai Iskandar (wak kandar) Kg Linau, Bkt. Pasir
18. Kiyai Haji Othman Parit Ju, Parit Jalil
19. Kiyai Sarbon Parit Warijo, Sri Medan
20. Kiyai Abdullah Parit Warijo, Sri Medan
21. Kiyai Siraj Parit Warijo Sri Medan
22. Kiyai Dahlan Parit Jayus, Sri Medan
23. Kiyai Imam Rejo Parit Jayus Darat, Sri Medan
24. Kiyai Ilham Parit Jayus Tengah, Sri Medan
25. Kiyai Embah Baker Parit Lapis Bangas Sri Medan
26. Kiyai Baidowi Parit Andin 3 Parit Yaani
27. Kiyai Mahfuz Parit Besar Batu Pahat
28. Kiyai Hamid (Hasan Jenggot) Parit Semarang
29. Kiyai Hj Noor Parit Semarang, Parit Botak
30. Kiyai Kusen Parit Lapis Semarang, Parit Botak
31. Kiyai Bahari Parit Bengkok, Parit Raja
32. Kiyai Mat Jais Parit Bengkok, Parit Raja
33. Kiyai Hj Salikin Parit Bengkok, Parit Raja
34. Kiyai Haji Kamari Parit Samijan, Parit Raja
35. Kiyai Mokhtar Parit Singgahan, Sri Medan
36. Kiyai Hj Muraki Parit Haji Salleh Ros, Parit Raja
37. Kiyai Anuar Parit Haji Salleh Ros, Parit Raja
38. Kiyai Mukmin Parit Haji Salleh Ros, Parit Raja
39. Kiyai Marzuki (Embah Juki) Parit Bingan Tengah
40. Kiyai Tohir Parit Bingan
41. Kiyai Zakaria Parit Haji Ali
42. Kiyai Hj Abd Jalil Sungai Rambut Parit Raja
43. Kiyai Hj Hassan Syazili Parit Jambul Parit Raja
44. Kiyai Hj Sangit Parit Yaani
45. Kiyai Baijuri Parit Osman, Parit Sulong
46. Kiyai Saifullah Parit Haji Ahmad, Parit Sulong
47. Kiyai Hj Ridwan Sungai Kluang Darat, Rengit
48. Kiyai Masrom Senggarang
49. Kiyai Imam Ghazali Rengit
50. Kiyai Siraj Pt Sri Merlong Rengit
51. Kiyai Sulaiman Sri Merlong, Rengit
52. Kiyai Solihin Sri Merlong, Rengit
53. Kiyai Alias Parit Sempadan, Semerah
54. Kiyai Hj Kadir Parit Sempadan, Parit Raja
55. Kiyai Isror Olak Batu
56. Kiyai Nawi Sungai Rambut
57. Kiyai Sayyid Sayyidi Solok Wan Moh
58. Kiyai Muliyat Parit Londang, Parit Raja
59. Kiyai Mukibat Kampung Patah Pedang Minyak Beku
60. Kiyai Salleh Haji Riduan Asam Bubok, Ayer Hitam
61. Kiyai Fael Kampung Parit Awang, Ayer Hitam
62. Kiyai Rahmat Parit Mustafa, Parit Sulong
63. Kiyai Badri bin Zakaria Jalan Limpoon 
64. TG Haji Mukhtar (nenek alim) Parit Andin 3
65. TG Hj Kadri bin Ujar Parit Jambi
66. TG Hj Ahmad Parit Betong
67. TG Hj Abul Hasan Parit Jawa, Parit Sulong
68. TG Hj Zakaria Parit Muhammad, Parit Sulong
69. TG Yusof Parit Muhammad, Parit Sulong
70. TG Haji Amran Parit Sauh, Parit Jalil
71. TG Haji Zainudin Parit Sauh, Parit Jalil
72. TG Maarof Bukit Soga
73. TG Muhammad Senang Kolam Air, Parit Sulong
74. TG Othman Parit Abdul Rahman, Parit Jalil
75. TG Haji Umar Parit Abdul Rahman, Parit Jalil

Moga-moga mampulah kita himpunkan riwayat hidup mereka, jadi warisan dan tatapan generasi mendatang. Moga Allah qabulkan dan kurniakan bimbingan.

petikan dari :
FB Amli Ilma
Wallahu a'lam

#BatuFahatBumiKeramat

PEMBERIAN NAMA THARIQAH (TARIKAT)


A.  PEMBERIAN NAMA THARIQAH (TARIKAT)

Silsilah Tarikat Naqsyabandiyah bersambung mulai dari Rasulullah kemudian turun kepada Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a., lalu diturunkan kepada Sayyidina Salman Al Farisi r.a., dan seterusnya sampai dengan ahli silsilah yang terakhir. Walaupun inti ajaran pokoknya adalah sama, yaitu dzikrullah, namun nama-nama tarikatnya berbeda antara satu periode ke periode selanjutnya. Nama-nama itu adalah sebagai berikut :

1). Pada masa periode Rasulullah SAW dinamakan dengan Thariqatus Sirriyah, karena halus dan tingginya peramalan ini.

2). Pada masa periode Abu Bakar Siddiq r.a. dinamakan dengan Thariqatul Ubudiyah, karena beliau melihat kesempurnaan pengabdian Nabi Muhammad SAW sepenuhnya kepada Allah SWT dan untuk-Nya baik lahir maupun batin.

3). Pada masa periode Salman al Farisi r.a. sampai dengan periode Syekh Thaifur Abu Yazid Al Busthami q.s. dinamakan dengan Thariqatus Shiddiqiyah, karena kebenarannya dan kesempurnaan Saidina Abu Bakar Siddiq r.a., mengikuti jejak Rasulullah SAW lahir maupun batin.

4). Pada masa periode Abu Yazid Al Busthami sampai dengan periode Syekh Abdul Khaliq Al Fajduwani q.s. dinamakan dengan Thariqatuth Thaifuriyah, mengambil nama asli dari Syekh Tahifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan.

5). Pada masa periode syekh Abdul Khaliq Al Fajduwani q.s. sampai dengan periode Syekh Bahauddin Naqsyabandi q.s dinamakan dengan Thariqatul Khawajakaniyah, mengambil nama khawajah Syekh Abdul Khaliq Al Fajduwani q.s.

6). Pada masa periode Syekh Bahauddin Naqsyabandi q.s. sampai dengan periode Syekh Nashiruddin Ubaidullah Al Ahrar q.s. dinamakan dengan Thariqatun Naqsyabandiyah. mengambil nama dari Syekh Bahauddin Naqsyaband.

7). Pada masa periode Syekh Nashiruddin Ubaidullah al Ahrar q.s sampai dengan periode Syekh Ahmad al Faruqi q.s. dinamakan dengan Thariqatul Naqsyabandiyah Al Ahrariyah. Mengambil nama dari Nashiruddin Ubaidullah Al Ahrar q.s.

8). Pada masa periode Syekh Akhmad al Faruqi q.s. sampai dengan periode Maulana Asy Syekh Dhiyauddin Khalid Al Ustmani Al Kurdi q.s. dinamakan dengan periode Thariqatun Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah.

9). Pada masa periode Maulana Asy Syekh Dhiyauddin Khalid al Ustmani Al Kurdi q.s sampai dengan sekarang dinamakan dengan Thariqatun Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah Al Khalidiyah.
Nama-nama itu diberikan oleh murid- murid setelah masa hidup Syekh Mursyidnya. Umpamanya nama Thariqatul Ubudiyah diberikan oleh Abu Bakar Siddiq r.a, karena beliau melihat kesempurnaan pengabdian Nabi Muhammad SAW. Nama Thariqatus Siddiqiyah diberikan oleh Saidina Salman Al Farisi r.a, karena kebenarannya dan kesempurnaan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. Demikianlah seterusnya.





B. TARIKAT NAQSYABANDIYAH
Tarikat ini dimasyhurkan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al Uwaisi al Bukhari Naqsyabandi q.s. (silsilah ke- 15). Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di situ sampai gurunya (Syek AS Samasi) wafat. Sebelum Syekh As Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai … Read more                       
[4:01 PM, 5/8/2017] اوستذ من فاريۃ حاج عبدالرحمن: PENGARUH DAN KESAN KESUFIAN  DAN AHLI TAREQAT KEPADA DUNIA ISLAM

Sejarah telah membuktikan bahawa ahli-ahli tasawuf dan tariqat telah memainkan peranan yang besar dan penting dalam dunia Islam bukan saja pada aspek pembinaan kerohanian BAHKAN mengambil bahagian yang aktif dalam ketamadunan, peradaban, keilmuan, pendidikan,penyebaran Islam, pemerintahan, kebudayaan, ekonomi dan sebagainya HATTA mereka juga mengambil bahagian dalam jihad fi sabilillah melawan musuh Islam dan penjajah.

Bidang tasawuf telah melahirkan golongan umat Islam yang bukan sahaja lengkap dan sempurna pada pegangan Tauhid dan Syariatnya, tetapi mereka juga mempunyai kekuatan dalaman yang utuh, iaitu sentiasa MENYUCIKAN HATI DARIPADA SELAIN ALLAH yang kuncinya adalah merendam hati dengan berzikir kepadaNya dan berpuncak pada peleburan keseluruhan jiwa dalam kebesaran Allah.

Sesetengah penentang Tasawuff pula berpendapat bahawa bagaimana mungkin memegang panji-panji jihad di mukabumi ini jikalau asyik tenggelam dengan berzikir dan beribadah?  Sedangkan sejarah Islam jugalah yang mampu membuktikan bahawa tokoh-tokoh sufilah yang sering tampil ke saf paling hadapan dalam perjuangan membela kebenaran Islam.

Lembaran sejarah telah membuktikan bahawa Salahuddin al-Ayyubi seorang pemimpin dan penakluk Jerusalem mengalahkan musuh Islam dalam perang Salib, ternyata beliau adalah seorang ahli sunnah wal jamaah yang merupakan pengamal kesufian dan beraqidah Asya'irah.

Seorang sultan yang bernama Nuruddin Mahmud al-Zinki (lahir 1118M), seorang sufi bermazhab Hanafi, memimpin angkatan dalam pembebasan Baitul Maqdis.

Beliau merupakan seorang sultan yang mempunyai ilmu yang luas sehinggakan beliau diberi izin untuk meriwayatkan hadis-hadis. Keperibadian Nuruddin memaparkan beliau sebagai seorang pemimpin ummah berwibawa. Dalam majlisnya, tidak dibicarakan hal-hal kecuali hal ilmu, agama dan jihad. Pelbagai sumbangan yang dilakukan oleh beliau semasa pemerintahannya antaranya menubuhkan universiti tertua di dunia iaitu universiti al-Azhar.



Lembaran sejarah juga telah membuktikan bahawa Salahuddin al-Ayyubi seorang pemimpin dan penakluk Jerusalem yang berjaya mengalahkan musuh Islam dalam perang Salib, ternyata beliau adalah seorang ahli sunnah wal jamaah yang merupakan pengamal kesufian dan beraqidah Asya'irah.

Beliau telah mendirikan banyak madrasah dan khanqah/zawiyyah(organisasi tareqat dan kesufian) yang menyelia perjalanan aktiviti tareqat dan tasawuf di Mesir. Khanqah terkemuka ialah Khanqah Sa`id al-Su`ada yang didirikan pada zaman Bani Mameluk oleh Sultan Salahudin al-Ayyubi pada tahun 1173 M di Mesir. Dalam khanqah itu hidup tiga ratus darwish, ahli suluk, guru sufi dan pengikut mereka, serta menjalankan banyak aktiviti keagamaan.

Khalifah-khalifah di zaman keagungan empayar Othmaniyyah terkenal sebagai Ruhbanun Fillail wa fursanun binnahar, iaitu “beribadat kepada Allah umpama rahib di malam hari dan siangnya berjuang laksana singa”, demikian peranan yang telah dimainkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih (lahir 1432M) penakluk kota Konstantinopel(Istanbul) adalah merupakan seorang ahli sufi bertareqat Naqshabandi, berpegang teguh dengan kitab al-Ghazali dalam bidang tasawuf dan beraqidah Maturudiyyah.

Kemunculan beliau sebagai penakluk Konstantinopel telah difirasatkan didalam hadis Rasulullah SAW, sabdanya “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya”. (H.R. Ahmad). Ternyata pujian Rasulullah SAW ini tertuju kepada Sultan Muhammad al-Fatih, seorang ahli sunnah wal jamaah yang berguru kepada seorang Syaikh tasawuf, Syeikh Aaq Syamsuddin seperti yang telah ditulis oleh Imam Syaukani dalam kitabnya al-Badru al-Thali.

Khan Ghazan pula ialah seorang ahli sufi daripada Tariqah An-Naqsyabandi telah berjaya mengislamkan kerajaan Monggol  yang sebelum itu orang Monggol telah menjarah Baghdad dan membunuh beribu-ribu umat Islam dengan kejamnya. Malik bin Dinar juga seorang ahli sufi yang terkenal  telah  berjasa dalam mengembangkan Islam di Malabar, Gujerat di India, Maldive dan kepulauan-kepulauan yang berdekatan dengan bantuan murid-muridnya. Yusuf Din As-Sindi pula berjasa dalam mengislamkan negeri Multan dan Kashmir. Pemimpin-pemimpin Tariqah Al-Qadiriyyah, As-Syaziliyyah dan lain-lain pula membantu dalam perkembangan Islam di barat,  tengah dan selatan Afrika.

Di Dagestan(Rusia), Syeikh Syamil An Naqsyabandi dengan Masyaikh yang lain telah menentang kemasukan tentera kafir Russia yang datang untuk menjajah pada tahun 1813M. Di India, Syeikh Ahmad Syahid, Liyakat Ali dan Syeikh Mahmud Deobandi adalah antara Masyaikh yang telah memainkan peranan menentang Inggeris di  India. Syeikh Umar Mukhtar yang merupakan Syeikh Tariqah Sanusiyyah memerangi penjajahan Itali di Libya.

Di Alam Nusantara sendiri sarat dengan kisah-kisah perjuangan jihad fisabilillah yang diketuai oleh Masyaikh dan ulamak-ulamak Tariqah demi menentang penjajahan dan usaha kristianisasi Barat.  Contohnya dalam Kesultanan Banten, pengaruh Tariqah Khalwatiyyah yang diketuai oleh Syeikh Yusuff Taj Al-Khalwati  telah menggerakkan perang sabil orang-orang Islam menentang Belanda dari tahun 1680-1683M . Kemudian beliau melebarkan sayap dakwahnya sehingga ke Afrika Selatan dan sehingga kini di Cape Town masih terdapat peninggalan amalan tasawuf dan tareqat yang masih diamalkan oleh Cape Malay. Dalam Kesultanan Palembang, dibawah pimpinan Sultan Mahmud Badruddin yang mengikuti Tariqah Samaniyyah  telah menjadi pendokong utama menentang serangan penjajah Belanda dalam tahun 1811-1822M

Di Minangkabau, pengikut Tariqah Naqsyabandiyyah dan Syathariyyah telah membuat perjuangan menentang penjajahan Belanda. Sunan Gunung Jati, salah seorang ahli Wali Songo pula terkenal dengan jihad melawan tentera Portugis di Pasai. Raja Haji Fisabilillah, Haji Abdul Karim, Teuku Chik di Tiro, Tokku Paloh dan ramai lagi adalah pengikut-pengikut Tariqah yang tercatat dalam sejarah Nusantara sebagai para pejuang agama yang terunggul dalam menentang penjajahan kuffar Barat. Sejarah mencatatkan bahawa selama Tokku Paloh masih hidup, Barat tidak berani untuk menjajah Terengganu sama sekali.

Sejarah juga menunjukkan bahawa penjajah-penjajah Barat amat gerun dengan keberanian serta semangat sakti yang dipamirkan oleh orang-orang Tariqah. Merekalah  yang sering menjadi  kubu utama bagi masyarakat Islam menahan dari sebarang bentuk cabaran yang cuba mematahkan kekuatan Islam.

Tariqah menjadi satu saluran berkesan untuk menggerakkan perjuangan agama kerana para pengikutnya mempunyai hubungan hablumminallah(hubungan dengan Allah) yang mendalam serta hablumminannas(hubungan dengan manusia) yang baik, penuh hikmah dan berkasih sayang, mempunyai sifat taqwa dan tawadhuk yang tinggi, tulus dan tidak mudah dijual-beli . Selain itu ahli-ahli Tariqah selalunya mempunyai semangat perkumpulan yang cukup kental yang dibina atas asas semangat persaudaraan agama serta ikatan istimewa diantara guru (Masyaikh) dan murid.

Kesimpulannya, ahli tasawuf dan tareqat sentiasa berada disaf hadapan dalam perjuangan Islam pada setiap zaman dan tempat. Pada artikel akan datang, inshallah kami akan bawakan sejarah secara terperinci kedatangan ahli sufi terawal membawa Islam ke alam Melayu Nusantara dengan penuh hikmah dan kasih sayang  serta sumbangan dan jasa mereka dalam membentuk ketamadunan,keilmuan dan pengamalan agama dirantau ini.

(Dari Wall Ustaz Iqbal Md Zin)

Cara Mengetahui Posisi Kita di Sisi Allah.


Cara Mengetahui Posisi Kita di Sisi Allah..
Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami hanyalah orang-orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka segera merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takabur. Mereka merenggangkan diri dari tempat tidur, (sedikit tidur, karena mengerjakan sholat tahajud dan amal-amal saleh); mereka senantiasa berdoa kepada Allah dengan perasaan takut (akan kemurkaan-Nya) serta dengan perasaan ingin memperolehi lagi (keridhaan-Nya); dan mereka selalu pula mendermakan sebagian dari apa yang Kami beri kepada mereka. (Al-Qur'an : Ayat 15 – 16 : Surah as-Sajdah ).

Mathum dari ayat tersebut Allah s.w.t menerangkan dengan jelas tentang keadaan hamba-hamba-Nya yang berada dalam maqam Mukmin.
Lihatlah kepada diri kita dan jawablah sendiri adakah tanda-tanda Mukmin itu pada kita atau tidak ada?
Jika tidak ada, perbanyakkan Ibadah wajib dan sunnah malam dan bersedekahlah,Insya Allah.

Perkara pokok dalam memahami kedudukan kita di sisi Allah s.w.t adalah dengan melihat bagaimana keadaan hati kita terhadap Allah s.w.t.
Jika hati kita lalai dari mengingati Allah s.w.t maka kedudukan kita adalah hamba yang lalai.
Jika hati kita kuat bergantung kepada amal maka kedudukan kita adalah ragu-ragu dengan jaminan Allah s.w.t. 

Jika hati kita kuat bertajrid itu tandanya kita didudukkan hampir dengan-Nya.

Jika kita sabar menghadapi ujian bala itu tandanya kita didudukkan dalam golongan pilihan. 

Jika kita ridha dengan apa juga takdir Allah s.w.t itu tandanya kita didudukkan dalam kumpulan yang diistimewakan.

Jika kita merasakan diri kita kosong dari segala sesuatu, yang ada hanya Allah s.w.t, itu tandanya kita berada di dalam makam makrifat. 

Jika kita berasa senang dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w itu tandanya kita orang Islam.

Jika gementar hati kita bila mendengar peringatan kepada Allah s.w.t dan mendengar ayat-ayat-Nya dibacakan itu tandanya kita seorang Mukmin.

 Jika sifat benar menyatu dengan kita dalam segala keadaan itu tandanya kita seorang muhsinin.

Jika kita menjalankan perintah Allah s.w.t dengan tepat, bersungguh-sungguh meninggalkan larangan-Nya itu tandanya kita seorang muttaqin.
Jika kita berasa akan kehadiran Allah s.w.t pada setiap ketika itu tandanya kita seorang muqarrabin. 

Jika kita merasakan wujud diri kita lebur di dalam Wujud Mutlak itu tandanya kita seorang ariffin.

Jika kita gemar menangis dalam mengingati Allah s.w.t di samping melihat bala dan nikmat, senang dan susah, sihat dan sakit, penolakan dan penerimaan dan segala perkara yang bertentangan tidak lagi berbeza pada penglihatan mata hati kita itu tandanya kita dikuasai oleh Cinta Allah s.w.t.

Jika apa saja yang kita hadapi memperlihatkan Wujud Allah s.w.t itu tandanya kita baqa atau kekal bersama-sama Allah s.w.t.

Bertafakurlah, lalu Lihatlah di mana kita didudukkan, di situlah kedudukan kita di sisi Allah Subhannahu wa Ta'ala. wallahu a'lam.
semoga memahami makna yg disampaikan dengan hikmah baik dihati. Barakallah.



Ahmad Faisal Shubrawi:
مقامك حيث أقامك -------------
 إذا أردت أن تعرف قدرك عند الله فانظر أين أقامك...

 إذا شغلك بالذكر فاعلم أنه يريد أن يذكرك..

وإذا شغلك بالقرآن فاعلم أنه يريد أن يحدثك..

 وإذا شغلك بالطاعات فاعلم أنه قربك..

 وإذا شغلك بالدنيا فاعلم أنه أبعدك..

 وإذا شغلك بالناس فاعلم أنه أهانك..

 وإذا شغلك بالدعاء فاعلم أنه يريد أن يعطيك..

فانظر لحالك بم أنت مشغول....

 فمقامك حيث أقامك.. 

من أروع ما وصلني اليوم  

Cara Mengetahui Posisi Kita di Sisi Allah..

ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻣﻘﺎﻣﻚ ﺣﻴﺚ ﺃﻗﺎﻣﻚ
Para ulama' berkata:

"Kedudukanmu di sisi Allah sesuai dengan di mana engkau sekarang ini di dalam kesibukanmu..

ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭﻙ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻓﺎﻧﻈﺮ ﺃﻳﻦ ﺃﻗﺎﻣﻚ ؟
Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah di manakah sekarang ini kesibukanmu..

ﻓﺈﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮﻙ
Jika engkau tersibukkan diri dengan dzikir, maka ketahuilah bahwasannya Allah menginginkan untuk mengingatmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺤﺪﺛﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan Al-Qur'an, maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkanmu untuk berbicara atau berinteraksi denganmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan ketaatan, maka ketahuilah bahwasanya Allah mendekatimu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﺑﻌﺪﻙ
Jika engkau tersibukkan dengan dunia, maka ketahuilah bahwasanya Allah menjauhimu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﻫﺎﻧﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan manusia, maka ketahuilah bahwasanya Allah menghinakanmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻴﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan do'a, maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan memberikan sesuatu kepada dirimu..

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻋﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮﻙ ﻭﺷﻜﺮﻙ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﺒﺎﺩﺗﻚ
Yaa Allah...bantulah kami agar selalu mengingat-MU, mensyukuri-MU dan agar mampu beribadah kepada-MU dengan sebaik-baiknya..

ﻳﺎﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺣﺘﻰ ﻧﻔﻴﻖ ﻭﻧﻠﺤﻖ ﺍﻟﻔﺮﻳﻖ


Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita di golongkan dengan orang-orang sholeh...