.

.

Selasa, 11 Julai 2017

KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG KASUT



KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG KASUT
Belajar dari kisah Hujjatul Islam, Imam Ghazali, yang dinukilkan dari kitab Maroqi Al-‘Ubudiyyah karangan Imam Nawawi Al-Jawi, syarah dari kitab Bidayah Al-Hidayah karangan Imam Ghazali, tentang perjalanan beliau mendapatkan ilmu ladunni dengan cara tabarrukan (mencari barakah ilmu dari guru).
Imam Ghazali adalah ulama besar yang mengarang berbagai kitab, baik ilmu Fiqh dan Tasawuf. Salah satu karangan beliau yang paling terkenal adalah Tahafut Al-Falasifah dan Ihya’ Ulumuddin. Pada awalnya, Imam Ghazali hanyalah ulama biasa, yaitu sebagai imam Masjid. Ia sangat rajin menjadi imam shalat berjama’ah lima waktu besama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Tapi anehnya, saudaranya yang bernama Imam Ahmad, tidak mau ikut berjama’ah bersama Imam Ghazali. Bahkan ia bersikap acuh kepadanya. Hal inilah yang membuat Imam Ghazali merasa jengkel kepada saudaranya.
Imam Ghazali, sebenarnya telah mengadukan sikap saudaranya itu kepada ibunya, agar sang ibu mau menasehatinya. Ibu memberi nasehat kepada Ahmad, agar dia mau berjama’ah di masjid bersama masyarakat sekitar.
Pada saat Imam Ghazali menjadi Imam, tiba-tiba saudaranya melihat bahwa baju yang dipakai Imam Ghazali penuh dengan lumuran darah. Karena itulah, beliau akhirnya memisahkan diri (Mufaraqah) tidak mau shalat berjama’ah bersama-sama yang lain.
Mengetahui sikap saudaranya itu, Imam Ghazali menjadi bingung. Dia tidak mengerti mengapa saudaranya itu betul-betul tidak mau shalat berjama’ah dengannya. Dengan hati yang penuh pertanyaan, akhirnya Imam Ghazali memberikan diri untuk bertanya. “Mengapa engkau bersikap acuh ketika aku menjadi imam shalat?” Saudaranya menjawab, “Bagaimana saya harus berjama’ah dengan seorang yang bajunya berlumuran darah?”
Mendengar jawaban tersebut, Imam Ghazali sangat terkejut. Ia menyadari bahwa waktu itu dirinya kurang bisa khusuk dalam shalatnya karena memikirkan masalah yang diajukan seseorang kepadanya. Yakni masalah darah wanita (haidh). Karena masalah tersebut belum ditemukan jawabanya, maka pikiran Imam Ghazali menjadi kalut hingga mengakibatkan shalatnya tidak khusuk.
Seketika itu pula Imam Ghazali baru menyadari bahwa saudaranya ternyata bukan orang sembarangan. Maka dengan rasa hormat, dia pun bertanya, “Wahai saudaraku, darimana engkau memperoleh ilmu yang seperti itu?”. Jawab Ahmad “Ketahuilah wahai saudaraku, aku belajar dari seorang guru yang pekerjaanya sehari-hari menjadi tukang sol sepatu.”
“Kalau begitu, tolong kiranya engkau sudi menunjukkan padaku guru tersebut,” pinta Imam Ghazali.
Imam Ahmad pun akhirnya berkenan mengantarkan Imam Ghazali menemui orang yang dimaksud. Setelah dipertemukan, Imam Ghazali pun menyatakan keinginan untuk menimba ilmu dari orang tersebut. Tapi waktu itu, tukang sol sepatu malah balik berkata kepada Imam Ghazali,
“Pikirkanlah terlebih dahulu. Jangan-jangan engkau nanti tidak akan mampu melaksanakan perintahku!”
“Insya Allah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa pun yang tuan guru kehendaki,” jawab Imam Ghazali.
“Sebelum aku mengajarkan ilmu kepadamu, tolong kau bersihkan lebih dahulu lantai tempat kerjaku ini agar enak dipandang mata,” demikian kata sang guru.
Imam Ghazali pun segera mencari sapu untuk melaksanakan perintah sang guru. Tapi sang guru menyuruh menyapu lantai itu dengan tangannya. Maka Imam Ghazali Menyapu dengan tangannya. Kemudian ketika melanjutkan menyapu, beliau melihat banyak kotoran yang berserakan di lantai tersebut.
Sang Guru berkata, “Sapulah kotoran itu.” Ketika Imam Ghazali hendak melepaskan bajunya, sang guru berkata, “Sapulah lantai itu dengan baju yang engkau pakai.”
Ketika Imam Ghazali dengan senang hati hendak menyapunya, sang guru kemudian melarangnya dan menyuruh pulang ke rumahnya. “Nah, sekarang pulanglah engkau!” begitu perintahnya.
Imam Ghazali tak menyangka sama sekali. Dia menyangka hari itu akan mendapatkan bimbingan untuk mempelajari sesuatu, namun apa yang diperkirakan ini meleset. Karena itu, ia pun segera berpikir, mungkin saja hari itu sang guru sudah lelah karena bekerja seharian, sehingga beliau tak mengajarkan ilmu kepadanya akan diberikan pada kesempatan lain. Imam Ghazali pun pulang sesuai perintah guru tanpa memperoleh sedikitpun pelajaran darinya.
Akan tetapi, sampai dirumah, Imam Ghazali merasakan bahwa dalam hatinya ada sebuah pergolakan, sehingga menimbulkan perubahan besar dalam diri beliau.

Ulama dahulu, walaupun bertaraf mujtahid, masih mencari guru untuk membimbing rohani mereka sebagaimana Imam Al-Ghazali dengan syeikhnya, Ali Al-Farmadzi yang seorang tukang kasut. Imam Shafei pula dengan Asy-Syaiban, seorang pengembala kambing. Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Mu’im dengan Ma’ruf Al-Kurkhi. 

Kita??? Pernah terfikir tuan-puan..guru rohani (guru kepada penyucian jiwa atau nafsu) mereka seorang Tukang Kasut dan Pengembala Kambing? Nampak hina pekerjaan mereka tetapi rohani mereka.. siapa yang tahu? Siapa tahu dia KEKASIH ALLAH (auliya'/wali)? Fikir-fikirkanlah...

Oleh kerana rohani mereka terhijab dengan ilmu yang dipelajari ilmu secara akal, maka mereka akan berkata kitab-kitab dan ilmu-ilmu Imam Al-Ghazali terlalu dalam dan boleh memeningkan masyarakat sehingga terlupa bahawa "Diriku tiada berilmu/aku belum sampai tahap ilmu Imam AlGhazali". Ketahuilah bahawa berkata Al-Imam Ghazali selepas berguru dengan syeikh Ali Al-Farmadi : “Aku menyeberangi lautan fekah, aku sampai ke seberang, aku menyelami lautan tauhid, aku sampai ke seberang, aku menyeberangi lautan falsafah, aku sampai ke seberangnya, (tetapi) apabila aku menyeberangi lautan tasawuf, aku tenggelam dalam lautannya tanpa penghujung..” 


Selasa, 4 Julai 2017

BIDANG ILMU MENAFSIR ALQURAAN



DIANTRA 15 BIDANG ILMU MENAFSIR ALQURAAN  :

1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.
.
2. Ilmu Nahwu (tata bahasa), Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.
.
3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata), Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:

“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71)

Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:“pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.
.
4. Imu Isytiqaq (akar kata, Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.
.
5. Ilmu Ma’ani, Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.
.

6. Ilmu Bayaan, Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
.
7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.
.
8. Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.
.
9. Ilmu Aqa’id, Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat:

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48]:10)
.
10. Ushu l Fiqih, Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil
dan menggali hukum dari suatu ayat.
.
11. Ilmu Asbabun-Nuzul, Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.
.
12. Ilmu Nasikh Mansukh, Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum uang sudah di hapus dan hokum yang masih tetap berlaku.
.
13. Ilmu Fiqih, Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
.
14. Ilmu Hadist, Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.
.
15. Ilmu Wahbi, Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,

“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.”
.

Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali r.a. pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak di berikan kepada orang lain?” Maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman al Quran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Abi Dunya berkata, “Ilmu al Quran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tak bertepi.
.
Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir al Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menfsirkan al Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah di sebutkan dalam banyak hadist. Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah.

.
Iman Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada di luar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
.
Tertulis dalam Kimia’us Sa’aadah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu menafsirkan al Quran:
.
(1) Orang yang tidak memahami bahasa Arab.
.
(2) Orang yang berbuat dosa besar atau ahli bid’ah, karena perbuatan itu akan membuat hatinya menjadi gelap dan menutupi pemahamannya terhadap al Quran.
.
(3) Orang yang dalam aqidahnya hanya mengakui makna zhahir nash. Jika ia membaca ayat-ayat al Quran yang tidak sesuai dengan pikirannya (logikanya), maka ia akan gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami al Quran 

petikan dari TN SHEIKH HJ BAHRIN BIN JALAL (Ahli Khalifah Madrasah Pt Ju )

Batu Pahat Bumi Bertuah

Gambar hiasan Masjid Bentara Luar Batu Pahat

Batu Pahat Bumi Bertuah

Diantara alim ulama yang telah wafat yang pernah menabur jasa di Batu Pahat Johor
(terkini update 11 April 2017).
1. Habib Jaafar bin Ahmad al-Idrus
2. Habib Ali bin Jaafar al-Idrus
3. Habib Muhammad bin Ali al-Idrus
4. Habib Umar bin Salim al-Muhdor
5. Habib Ahmad bin Sumeit
6. Habib Alwi bin Tohir al-Haddad
7. Habib Alwi bin Abdullah al-Haddad
8. Habib Soleh bin Syeikh Abu Bakar
9. Habib Muhammad bin Hasan al-Idrus (Habib Tinggi)
10. Habib Muhammad Omar al-Masyhoor
11. Habib Abu Bakar bin Salim al-Attas
12. Sayyid Engku Jaafar ibni Engku Sayyid Omar al-Qudsy
13. Syeikh Abdul Wahab Rokan Langkat
14. Qadhi Md Shah
15. Kiyai Habib Saleh Parit Bandan, Olak Batu
16. Kiyai Darham bin Ahmad Pt Jawa, Parit Sulong
17. Kiyai Iskandar (wak kandar) Kg Linau, Bkt. Pasir
18. Kiyai Haji Othman Parit Ju, Parit Jalil
19. Kiyai Sarbon Parit Warijo, Sri Medan
20. Kiyai Abdullah Parit Warijo, Sri Medan
21. Kiyai Siraj Parit Warijo Sri Medan
22. Kiyai Dahlan Parit Jayus, Sri Medan
23. Kiyai Imam Rejo Parit Jayus Darat, Sri Medan
24. Kiyai Ilham Parit Jayus Tengah, Sri Medan
25. Kiyai Embah Baker Parit Lapis Bangas Sri Medan
26. Kiyai Baidowi Parit Andin 3 Parit Yaani
27. Kiyai Mahfuz Parit Besar Batu Pahat
28. Kiyai Hamid (Hasan Jenggot) Parit Semarang
29. Kiyai Hj Noor Parit Semarang, Parit Botak
30. Kiyai Kusen Parit Lapis Semarang, Parit Botak
31. Kiyai Bahari Parit Bengkok, Parit Raja
32. Kiyai Mat Jais Parit Bengkok, Parit Raja
33. Kiyai Hj Salikin Parit Bengkok, Parit Raja
34. Kiyai Haji Kamari Parit Samijan, Parit Raja
35. Kiyai Mokhtar Parit Singgahan, Sri Medan
36. Kiyai Hj Muraki Parit Haji Salleh Ros, Parit Raja
37. Kiyai Anuar Parit Haji Salleh Ros, Parit Raja
38. Kiyai Mukmin Parit Haji Salleh Ros, Parit Raja
39. Kiyai Marzuki (Embah Juki) Parit Bingan Tengah
40. Kiyai Tohir Parit Bingan
41. Kiyai Zakaria Parit Haji Ali
42. Kiyai Hj Abd Jalil Sungai Rambut Parit Raja
43. Kiyai Hj Hassan Syazili Parit Jambul Parit Raja
44. Kiyai Hj Sangit Parit Yaani
45. Kiyai Baijuri Parit Osman, Parit Sulong
46. Kiyai Saifullah Parit Haji Ahmad, Parit Sulong
47. Kiyai Hj Ridwan Sungai Kluang Darat, Rengit
48. Kiyai Masrom Senggarang
49. Kiyai Imam Ghazali Rengit
50. Kiyai Siraj Pt Sri Merlong Rengit
51. Kiyai Sulaiman Sri Merlong, Rengit
52. Kiyai Solihin Sri Merlong, Rengit
53. Kiyai Alias Parit Sempadan, Semerah
54. Kiyai Hj Kadir Parit Sempadan, Parit Raja
55. Kiyai Isror Olak Batu
56. Kiyai Nawi Sungai Rambut
57. Kiyai Sayyid Sayyidi Solok Wan Moh
58. Kiyai Muliyat Parit Londang, Parit Raja
59. Kiyai Mukibat Kampung Patah Pedang Minyak Beku
60. Kiyai Salleh Haji Riduan Asam Bubok, Ayer Hitam
61. Kiyai Fael Kampung Parit Awang, Ayer Hitam
62. Kiyai Rahmat Parit Mustafa, Parit Sulong
63. Kiyai Badri bin Zakaria Jalan Limpoon 
64. TG Haji Mukhtar (nenek alim) Parit Andin 3
65. TG Hj Kadri bin Ujar Parit Jambi
66. TG Hj Ahmad Parit Betong
67. TG Hj Abul Hasan Parit Jawa, Parit Sulong
68. TG Hj Zakaria Parit Muhammad, Parit Sulong
69. TG Yusof Parit Muhammad, Parit Sulong
70. TG Haji Amran Parit Sauh, Parit Jalil
71. TG Haji Zainudin Parit Sauh, Parit Jalil
72. TG Maarof Bukit Soga
73. TG Muhammad Senang Kolam Air, Parit Sulong
74. TG Othman Parit Abdul Rahman, Parit Jalil
75. TG Haji Umar Parit Abdul Rahman, Parit Jalil

Moga-moga mampulah kita himpunkan riwayat hidup mereka, jadi warisan dan tatapan generasi mendatang. Moga Allah qabulkan dan kurniakan bimbingan.

petikan dari :
FB Amli Ilma
Wallahu a'lam

#BatuFahatBumiKeramat

PEMBERIAN NAMA THARIQAH (TARIKAT)


A.  PEMBERIAN NAMA THARIQAH (TARIKAT)

Silsilah Tarikat Naqsyabandiyah bersambung mulai dari Rasulullah kemudian turun kepada Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a., lalu diturunkan kepada Sayyidina Salman Al Farisi r.a., dan seterusnya sampai dengan ahli silsilah yang terakhir. Walaupun inti ajaran pokoknya adalah sama, yaitu dzikrullah, namun nama-nama tarikatnya berbeda antara satu periode ke periode selanjutnya. Nama-nama itu adalah sebagai berikut :

1). Pada masa periode Rasulullah SAW dinamakan dengan Thariqatus Sirriyah, karena halus dan tingginya peramalan ini.

2). Pada masa periode Abu Bakar Siddiq r.a. dinamakan dengan Thariqatul Ubudiyah, karena beliau melihat kesempurnaan pengabdian Nabi Muhammad SAW sepenuhnya kepada Allah SWT dan untuk-Nya baik lahir maupun batin.

3). Pada masa periode Salman al Farisi r.a. sampai dengan periode Syekh Thaifur Abu Yazid Al Busthami q.s. dinamakan dengan Thariqatus Shiddiqiyah, karena kebenarannya dan kesempurnaan Saidina Abu Bakar Siddiq r.a., mengikuti jejak Rasulullah SAW lahir maupun batin.

4). Pada masa periode Abu Yazid Al Busthami sampai dengan periode Syekh Abdul Khaliq Al Fajduwani q.s. dinamakan dengan Thariqatuth Thaifuriyah, mengambil nama asli dari Syekh Tahifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan.

5). Pada masa periode syekh Abdul Khaliq Al Fajduwani q.s. sampai dengan periode Syekh Bahauddin Naqsyabandi q.s dinamakan dengan Thariqatul Khawajakaniyah, mengambil nama khawajah Syekh Abdul Khaliq Al Fajduwani q.s.

6). Pada masa periode Syekh Bahauddin Naqsyabandi q.s. sampai dengan periode Syekh Nashiruddin Ubaidullah Al Ahrar q.s. dinamakan dengan Thariqatun Naqsyabandiyah. mengambil nama dari Syekh Bahauddin Naqsyaband.

7). Pada masa periode Syekh Nashiruddin Ubaidullah al Ahrar q.s sampai dengan periode Syekh Ahmad al Faruqi q.s. dinamakan dengan Thariqatul Naqsyabandiyah Al Ahrariyah. Mengambil nama dari Nashiruddin Ubaidullah Al Ahrar q.s.

8). Pada masa periode Syekh Akhmad al Faruqi q.s. sampai dengan periode Maulana Asy Syekh Dhiyauddin Khalid Al Ustmani Al Kurdi q.s. dinamakan dengan periode Thariqatun Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah.

9). Pada masa periode Maulana Asy Syekh Dhiyauddin Khalid al Ustmani Al Kurdi q.s sampai dengan sekarang dinamakan dengan Thariqatun Naqsyabandiyah Al Mujaddidiyah Al Khalidiyah.
Nama-nama itu diberikan oleh murid- murid setelah masa hidup Syekh Mursyidnya. Umpamanya nama Thariqatul Ubudiyah diberikan oleh Abu Bakar Siddiq r.a, karena beliau melihat kesempurnaan pengabdian Nabi Muhammad SAW. Nama Thariqatus Siddiqiyah diberikan oleh Saidina Salman Al Farisi r.a, karena kebenarannya dan kesempurnaan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. Demikianlah seterusnya.





B. TARIKAT NAQSYABANDIYAH
Tarikat ini dimasyhurkan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al Uwaisi al Bukhari Naqsyabandi q.s. (silsilah ke- 15). Dia belajar tasawuf kepada Muhammad Baba as Samasi ketika beliau berusia 18 tahun. Untuk itu beliau bermukim di Sammas dan belajar di situ sampai gurunya (Syek AS Samasi) wafat. Sebelum Syekh As Samasi wafat, beliau mengangkat Naqsyabandi sebagai … Read more                       
[4:01 PM, 5/8/2017] اوستذ من فاريۃ حاج عبدالرحمن: PENGARUH DAN KESAN KESUFIAN  DAN AHLI TAREQAT KEPADA DUNIA ISLAM

Sejarah telah membuktikan bahawa ahli-ahli tasawuf dan tariqat telah memainkan peranan yang besar dan penting dalam dunia Islam bukan saja pada aspek pembinaan kerohanian BAHKAN mengambil bahagian yang aktif dalam ketamadunan, peradaban, keilmuan, pendidikan,penyebaran Islam, pemerintahan, kebudayaan, ekonomi dan sebagainya HATTA mereka juga mengambil bahagian dalam jihad fi sabilillah melawan musuh Islam dan penjajah.

Bidang tasawuf telah melahirkan golongan umat Islam yang bukan sahaja lengkap dan sempurna pada pegangan Tauhid dan Syariatnya, tetapi mereka juga mempunyai kekuatan dalaman yang utuh, iaitu sentiasa MENYUCIKAN HATI DARIPADA SELAIN ALLAH yang kuncinya adalah merendam hati dengan berzikir kepadaNya dan berpuncak pada peleburan keseluruhan jiwa dalam kebesaran Allah.

Sesetengah penentang Tasawuff pula berpendapat bahawa bagaimana mungkin memegang panji-panji jihad di mukabumi ini jikalau asyik tenggelam dengan berzikir dan beribadah?  Sedangkan sejarah Islam jugalah yang mampu membuktikan bahawa tokoh-tokoh sufilah yang sering tampil ke saf paling hadapan dalam perjuangan membela kebenaran Islam.

Lembaran sejarah telah membuktikan bahawa Salahuddin al-Ayyubi seorang pemimpin dan penakluk Jerusalem mengalahkan musuh Islam dalam perang Salib, ternyata beliau adalah seorang ahli sunnah wal jamaah yang merupakan pengamal kesufian dan beraqidah Asya'irah.

Seorang sultan yang bernama Nuruddin Mahmud al-Zinki (lahir 1118M), seorang sufi bermazhab Hanafi, memimpin angkatan dalam pembebasan Baitul Maqdis.

Beliau merupakan seorang sultan yang mempunyai ilmu yang luas sehinggakan beliau diberi izin untuk meriwayatkan hadis-hadis. Keperibadian Nuruddin memaparkan beliau sebagai seorang pemimpin ummah berwibawa. Dalam majlisnya, tidak dibicarakan hal-hal kecuali hal ilmu, agama dan jihad. Pelbagai sumbangan yang dilakukan oleh beliau semasa pemerintahannya antaranya menubuhkan universiti tertua di dunia iaitu universiti al-Azhar.



Lembaran sejarah juga telah membuktikan bahawa Salahuddin al-Ayyubi seorang pemimpin dan penakluk Jerusalem yang berjaya mengalahkan musuh Islam dalam perang Salib, ternyata beliau adalah seorang ahli sunnah wal jamaah yang merupakan pengamal kesufian dan beraqidah Asya'irah.

Beliau telah mendirikan banyak madrasah dan khanqah/zawiyyah(organisasi tareqat dan kesufian) yang menyelia perjalanan aktiviti tareqat dan tasawuf di Mesir. Khanqah terkemuka ialah Khanqah Sa`id al-Su`ada yang didirikan pada zaman Bani Mameluk oleh Sultan Salahudin al-Ayyubi pada tahun 1173 M di Mesir. Dalam khanqah itu hidup tiga ratus darwish, ahli suluk, guru sufi dan pengikut mereka, serta menjalankan banyak aktiviti keagamaan.

Khalifah-khalifah di zaman keagungan empayar Othmaniyyah terkenal sebagai Ruhbanun Fillail wa fursanun binnahar, iaitu “beribadat kepada Allah umpama rahib di malam hari dan siangnya berjuang laksana singa”, demikian peranan yang telah dimainkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih (lahir 1432M) penakluk kota Konstantinopel(Istanbul) adalah merupakan seorang ahli sufi bertareqat Naqshabandi, berpegang teguh dengan kitab al-Ghazali dalam bidang tasawuf dan beraqidah Maturudiyyah.

Kemunculan beliau sebagai penakluk Konstantinopel telah difirasatkan didalam hadis Rasulullah SAW, sabdanya “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya”. (H.R. Ahmad). Ternyata pujian Rasulullah SAW ini tertuju kepada Sultan Muhammad al-Fatih, seorang ahli sunnah wal jamaah yang berguru kepada seorang Syaikh tasawuf, Syeikh Aaq Syamsuddin seperti yang telah ditulis oleh Imam Syaukani dalam kitabnya al-Badru al-Thali.

Khan Ghazan pula ialah seorang ahli sufi daripada Tariqah An-Naqsyabandi telah berjaya mengislamkan kerajaan Monggol  yang sebelum itu orang Monggol telah menjarah Baghdad dan membunuh beribu-ribu umat Islam dengan kejamnya. Malik bin Dinar juga seorang ahli sufi yang terkenal  telah  berjasa dalam mengembangkan Islam di Malabar, Gujerat di India, Maldive dan kepulauan-kepulauan yang berdekatan dengan bantuan murid-muridnya. Yusuf Din As-Sindi pula berjasa dalam mengislamkan negeri Multan dan Kashmir. Pemimpin-pemimpin Tariqah Al-Qadiriyyah, As-Syaziliyyah dan lain-lain pula membantu dalam perkembangan Islam di barat,  tengah dan selatan Afrika.

Di Dagestan(Rusia), Syeikh Syamil An Naqsyabandi dengan Masyaikh yang lain telah menentang kemasukan tentera kafir Russia yang datang untuk menjajah pada tahun 1813M. Di India, Syeikh Ahmad Syahid, Liyakat Ali dan Syeikh Mahmud Deobandi adalah antara Masyaikh yang telah memainkan peranan menentang Inggeris di  India. Syeikh Umar Mukhtar yang merupakan Syeikh Tariqah Sanusiyyah memerangi penjajahan Itali di Libya.

Di Alam Nusantara sendiri sarat dengan kisah-kisah perjuangan jihad fisabilillah yang diketuai oleh Masyaikh dan ulamak-ulamak Tariqah demi menentang penjajahan dan usaha kristianisasi Barat.  Contohnya dalam Kesultanan Banten, pengaruh Tariqah Khalwatiyyah yang diketuai oleh Syeikh Yusuff Taj Al-Khalwati  telah menggerakkan perang sabil orang-orang Islam menentang Belanda dari tahun 1680-1683M . Kemudian beliau melebarkan sayap dakwahnya sehingga ke Afrika Selatan dan sehingga kini di Cape Town masih terdapat peninggalan amalan tasawuf dan tareqat yang masih diamalkan oleh Cape Malay. Dalam Kesultanan Palembang, dibawah pimpinan Sultan Mahmud Badruddin yang mengikuti Tariqah Samaniyyah  telah menjadi pendokong utama menentang serangan penjajah Belanda dalam tahun 1811-1822M

Di Minangkabau, pengikut Tariqah Naqsyabandiyyah dan Syathariyyah telah membuat perjuangan menentang penjajahan Belanda. Sunan Gunung Jati, salah seorang ahli Wali Songo pula terkenal dengan jihad melawan tentera Portugis di Pasai. Raja Haji Fisabilillah, Haji Abdul Karim, Teuku Chik di Tiro, Tokku Paloh dan ramai lagi adalah pengikut-pengikut Tariqah yang tercatat dalam sejarah Nusantara sebagai para pejuang agama yang terunggul dalam menentang penjajahan kuffar Barat. Sejarah mencatatkan bahawa selama Tokku Paloh masih hidup, Barat tidak berani untuk menjajah Terengganu sama sekali.

Sejarah juga menunjukkan bahawa penjajah-penjajah Barat amat gerun dengan keberanian serta semangat sakti yang dipamirkan oleh orang-orang Tariqah. Merekalah  yang sering menjadi  kubu utama bagi masyarakat Islam menahan dari sebarang bentuk cabaran yang cuba mematahkan kekuatan Islam.

Tariqah menjadi satu saluran berkesan untuk menggerakkan perjuangan agama kerana para pengikutnya mempunyai hubungan hablumminallah(hubungan dengan Allah) yang mendalam serta hablumminannas(hubungan dengan manusia) yang baik, penuh hikmah dan berkasih sayang, mempunyai sifat taqwa dan tawadhuk yang tinggi, tulus dan tidak mudah dijual-beli . Selain itu ahli-ahli Tariqah selalunya mempunyai semangat perkumpulan yang cukup kental yang dibina atas asas semangat persaudaraan agama serta ikatan istimewa diantara guru (Masyaikh) dan murid.

Kesimpulannya, ahli tasawuf dan tareqat sentiasa berada disaf hadapan dalam perjuangan Islam pada setiap zaman dan tempat. Pada artikel akan datang, inshallah kami akan bawakan sejarah secara terperinci kedatangan ahli sufi terawal membawa Islam ke alam Melayu Nusantara dengan penuh hikmah dan kasih sayang  serta sumbangan dan jasa mereka dalam membentuk ketamadunan,keilmuan dan pengamalan agama dirantau ini.

(Dari Wall Ustaz Iqbal Md Zin)

Cara Mengetahui Posisi Kita di Sisi Allah.


Cara Mengetahui Posisi Kita di Sisi Allah..
Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami hanyalah orang-orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka segera merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takabur. Mereka merenggangkan diri dari tempat tidur, (sedikit tidur, karena mengerjakan sholat tahajud dan amal-amal saleh); mereka senantiasa berdoa kepada Allah dengan perasaan takut (akan kemurkaan-Nya) serta dengan perasaan ingin memperolehi lagi (keridhaan-Nya); dan mereka selalu pula mendermakan sebagian dari apa yang Kami beri kepada mereka. (Al-Qur'an : Ayat 15 – 16 : Surah as-Sajdah ).

Mathum dari ayat tersebut Allah s.w.t menerangkan dengan jelas tentang keadaan hamba-hamba-Nya yang berada dalam maqam Mukmin.
Lihatlah kepada diri kita dan jawablah sendiri adakah tanda-tanda Mukmin itu pada kita atau tidak ada?
Jika tidak ada, perbanyakkan Ibadah wajib dan sunnah malam dan bersedekahlah,Insya Allah.

Perkara pokok dalam memahami kedudukan kita di sisi Allah s.w.t adalah dengan melihat bagaimana keadaan hati kita terhadap Allah s.w.t.
Jika hati kita lalai dari mengingati Allah s.w.t maka kedudukan kita adalah hamba yang lalai.
Jika hati kita kuat bergantung kepada amal maka kedudukan kita adalah ragu-ragu dengan jaminan Allah s.w.t. 

Jika hati kita kuat bertajrid itu tandanya kita didudukkan hampir dengan-Nya.

Jika kita sabar menghadapi ujian bala itu tandanya kita didudukkan dalam golongan pilihan. 

Jika kita ridha dengan apa juga takdir Allah s.w.t itu tandanya kita didudukkan dalam kumpulan yang diistimewakan.

Jika kita merasakan diri kita kosong dari segala sesuatu, yang ada hanya Allah s.w.t, itu tandanya kita berada di dalam makam makrifat. 

Jika kita berasa senang dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w itu tandanya kita orang Islam.

Jika gementar hati kita bila mendengar peringatan kepada Allah s.w.t dan mendengar ayat-ayat-Nya dibacakan itu tandanya kita seorang Mukmin.

 Jika sifat benar menyatu dengan kita dalam segala keadaan itu tandanya kita seorang muhsinin.

Jika kita menjalankan perintah Allah s.w.t dengan tepat, bersungguh-sungguh meninggalkan larangan-Nya itu tandanya kita seorang muttaqin.
Jika kita berasa akan kehadiran Allah s.w.t pada setiap ketika itu tandanya kita seorang muqarrabin. 

Jika kita merasakan wujud diri kita lebur di dalam Wujud Mutlak itu tandanya kita seorang ariffin.

Jika kita gemar menangis dalam mengingati Allah s.w.t di samping melihat bala dan nikmat, senang dan susah, sihat dan sakit, penolakan dan penerimaan dan segala perkara yang bertentangan tidak lagi berbeza pada penglihatan mata hati kita itu tandanya kita dikuasai oleh Cinta Allah s.w.t.

Jika apa saja yang kita hadapi memperlihatkan Wujud Allah s.w.t itu tandanya kita baqa atau kekal bersama-sama Allah s.w.t.

Bertafakurlah, lalu Lihatlah di mana kita didudukkan, di situlah kedudukan kita di sisi Allah Subhannahu wa Ta'ala. wallahu a'lam.
semoga memahami makna yg disampaikan dengan hikmah baik dihati. Barakallah.



Ahmad Faisal Shubrawi:
مقامك حيث أقامك -------------
 إذا أردت أن تعرف قدرك عند الله فانظر أين أقامك...

 إذا شغلك بالذكر فاعلم أنه يريد أن يذكرك..

وإذا شغلك بالقرآن فاعلم أنه يريد أن يحدثك..

 وإذا شغلك بالطاعات فاعلم أنه قربك..

 وإذا شغلك بالدنيا فاعلم أنه أبعدك..

 وإذا شغلك بالناس فاعلم أنه أهانك..

 وإذا شغلك بالدعاء فاعلم أنه يريد أن يعطيك..

فانظر لحالك بم أنت مشغول....

 فمقامك حيث أقامك.. 

من أروع ما وصلني اليوم  

Cara Mengetahui Posisi Kita di Sisi Allah..

ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻣﻘﺎﻣﻚ ﺣﻴﺚ ﺃﻗﺎﻣﻚ
Para ulama' berkata:

"Kedudukanmu di sisi Allah sesuai dengan di mana engkau sekarang ini di dalam kesibukanmu..

ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭﻙ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻓﺎﻧﻈﺮ ﺃﻳﻦ ﺃﻗﺎﻣﻚ ؟
Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah maka lihatlah di manakah sekarang ini kesibukanmu..

ﻓﺈﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮﻙ
Jika engkau tersibukkan diri dengan dzikir, maka ketahuilah bahwasannya Allah menginginkan untuk mengingatmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺤﺪﺛﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan Al-Qur'an, maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkanmu untuk berbicara atau berinteraksi denganmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan ketaatan, maka ketahuilah bahwasanya Allah mendekatimu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﺑﻌﺪﻙ
Jika engkau tersibukkan dengan dunia, maka ketahuilah bahwasanya Allah menjauhimu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﻫﺎﻧﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan manusia, maka ketahuilah bahwasanya Allah menghinakanmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻴﻚ
Jika engkau tersibukkan dengan do'a, maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan memberikan sesuatu kepada dirimu..

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻋﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮﻙ ﻭﺷﻜﺮﻙ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﺒﺎﺩﺗﻚ
Yaa Allah...bantulah kami agar selalu mengingat-MU, mensyukuri-MU dan agar mampu beribadah kepada-MU dengan sebaik-baiknya..

ﻳﺎﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﺣﺘﻰ ﻧﻔﻴﻖ ﻭﻧﻠﺤﻖ ﺍﻟﻔﺮﻳﻖ


Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita di golongkan dengan orang-orang sholeh...

Isnin, 22 Mei 2017

CARA-CARA MEMIMPIN HATI -TAKHALI, TAHALI, DAN TAJALI



  CARA-CARA MEMIMPIN HATI

Hati mesti dipimpin agar ia menjadi bersih atau baik. Kerana membersihkan hati adalah wajib. Bila ia bersih, akan membersihkan seluruh kehidupan lahirnya. Di antara cara-cara memimpin hati ialah:

Pertama:

Ada ilmu tentang hati atau roh. Tujuannya untuk mengenal sifat-sifat hati yang positif dan yang negatif. Kalau tidak ada ilmu tentangnya, sifat-sifat mazmumah tidak akan dapat dikesan. Apalagi untuk ditumpaskan. Begitu juga dengan sifat-sifat mahmudahnya tidak akan dapat dikesan untuk disuburkan.

Kedua:

Perlu latihan-latihan praktikal melalui:

a. Mujahadatunnafsi

b. Istiqamah

c. Tafakur

d. Bergaul dengan orang yang baik-baik

e. Pimpinan mursyid



A. MUJAHADATUNNAFSI

Mujahadatun nafsi itu, di antara caranya ialah dengan menem-puh tiga peringkat iaitu:

1. Takhalli – mengosongkan, membuang atau menyu-cikan daripada sifat-sifat yang keji.

2. Tahalli  - mengisi atau menghiasi dengan sifat-sifat terpuji.

3. Tajalli  - terasa kebesaran dan kehebatan Allah atau sentiasa rasa bertuhan.

Pada ketiga-tiga peringkat ini hendaklah dilakukan dengan mengadakan latihan yang dinamakan riadatunnafsi( Yakni latihan melawan atau memerangi semua kehendak-kehendak hati yang jahat, yang didorong oleh hawa nafsu. Cara memeranginya ialah melalui latihan-latihan menolak kemahuan jahat yang ditimbulkan oleh nafsu. Langkah-langkahnya adalah seperti berikut:

1. TAKHALLI

Di peringkat takhalli, kita mesti melawan dan membuang dengan memaksa terus-menerus semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah (jahat) dan dilarang oleh Allah. Selagi kita tidak memaksa diri untuk membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh secara terus-menerus dari diri kita, selagi itulah nafsu jahat akan sentiasa menguasai dan memperhambakan kita.

Rasulullah SAW bersabda: “Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau.” (Riwayat Al Baihaqi)

Kerana kejahatannya itu, telah ramai manusia yang ditipu dan diperdayakan untuk tunduk dan bertuhankan hawa nafsu. Ini ada diceritakan oleh Allah dengan firman-Nya:  “Apakah engkau tidak perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan, lalu dia dibiarkan sesat oleh Allah berdasarkan ilmu-Nya.” (Al Jasiyah: 23)

Apabila nafsu jahat itu dibiarkan menguasai hati, iman tidak akan ada tempatnya. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenarnya tetapi dia akan menyembah hawa nafsu. Oleh itu usaha melawan hawa nafsu janganlah dipermudah-mudah dan dianggap ringan. Ia adalah satu jihad yang besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada Sahabat-Sahabat ketika baginda berangkat pulang dari satu medan peperangan:“Kita baru balik dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang besar.” Bila para Sahabat bertanya: “Peperangan apakah itu?” Baginda berkata: “Peperangan melawan nafsu.”

(Riwayat Al Baihaqi)

Melawan hawa nafsu sangatlah susah. Barangkali kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan boleh pula dipegang, senanglah kita picit dan membunuhnya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah, menguasai seluruh tubuh kita. Bahkan ia menjadi sebahagian daripada jasad kita iaitu tubuh yang halus (jismul-latif). Kerana itu, tanpa kesedaran, kemahuan dan paksaan yang sungguh-sungguh, kita pasti dikalahkannya, kemudian ia peralatkan semahu-mahunya.

Untuk lebih jelas, disenaraikan peringkat-peringkat nafsu manusia. Sepertimana iman itu sendiri berperingkat-peringkat, begitu juga nafsu. Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya sehingga nafsu manusia itu benar-benar dapat ditundukkan kepada perintah Allah.

Berikut ialah peringkat-peringkat nafsu yang saya senaraikan mengikut aturan tingkatannya:

i. Nafsu ammarah

ii. Nafsu lawwamah

iii. Nafsu mulhamah

iv. Nafsu mutmainnah

v. Nafsu radhiah

vi. Nafsu mardhiah

vii. Nafsu kamilah


Orang yang imannya di taraf iman ilmu, nafsunya berada di taraf yang kedua iaitu nafsu lawwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga ia mahu tunduk sepenuhnya pada perintah Allah iaitu paling minima, nafsu mutmainnah. Nafsu mutmainnah ada pada orang yang memiliki iman ayan. Di peringkat inilah sahaja kita akan dapat menyelamatkan diri daripada seksaan Neraka. Ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dengan firman-Nya:

 “Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah), kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku.” (Al Fajr: 27-30)


Di sini diperpanjangkan lagi, bagaimana mahu membersihkan sifat-sifat mazmumah yang melekat pada hati itu. Sifat-sifat mazmumah yang melekat pada hati sepertilah daki yang melekat di badan. Kalau kita malas menggosoknya, akan bertambah menebal dan kuatlah ia bertapak di badan. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan menggosoknya, maka akan bersihlah badan. Begitulah mazmumah (daki) hati.

Jika kita rajin meneliti dan membersihkannya, maka bersihlah hati itu, malah ia bercahaya.

Bagaimanakah cara membuang sifat-sifat mazmumah dari hati? Tentulah tidak sesenang membuang daki di badan. Ia memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang berterusan dan tunjuk ajar yang berkesan dari guru mursyid. Yakni guru yang dapat membaca dan menyelami hati muridnya sehingga dia tahu apakah kekurangan dan kelebihan muridnya itu. Malangnya di akhir zaman ini kita ketiadaan guru mursyid. Ini dinyatakan sendiri oleh baginda Rasulullah bahawa di akhir zaman yang banyak adalah mubaligh tetapi sukar mencari guru mursyid.

Nasib kita hari ini umpama anak ayam kehilangan ibu. Tiada yang akan memandu kita melalui jalan kebaikan yang ingin kita tempuhi. Meraba-rabalah kita. Tetapi bagi orang yang mempunyai keazaman yang kuat untuk membersihkan jiwanya, dia tidak akan kecewa hanya kerana tiada orang yang boleh mendidik dan memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha sendiri demi kesempurnaan diri dan hidupnya, sekadar yang termampu.

Untuk jelasnya dibuat beberapa contoh, cara membersihkan hati yang jahat ini:


Contoh 1: Rasa Bakhil.


Biasanya nafsu mendorong kita bersifat bakhil. Sedangkan bakhil itu dikeji dan dibenci oleh Allah. Kerana Allah mahu kita jadi pemurah. Dalam sebuah Hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Si pemurah yang jahil lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang bakhil.” (Riwayat Al Khatib)

Oleh itu kita mesti melawan kemahuan nafsu itu. Paksalah hati memberi atau menderma selalu, terutamanya waktu rasa bakhil itu menguasai diri. Yang paling baik, waktu duit tinggal sedikit, waktu itulah kita latih berkorban kerana waktu itulah nafsu rasa paling tercabar. Itulah waktu yang sebaik-baiknya untuk menundukkan nafsu. Sedangkan waktu kita kaya, fungsi menderma tidaklah sebagai riadah melawan nafsu tetapi perbuatan itu sekadar dapat pahala.

Katakanlah kita sedar bahawa pada diri kita ada sifat bakhil. Kita pun tahu bahawa Allah tidak suka pada orang yang bakhil. Kerana itu kita berazam untuk mengikis sifat yang terkutuk itu. Maka kita perlu cuba membiasakan dan membanyakkan sedekah, memberi hadiah dan lain-lain amalan yang berupa pemberian hak kita kepada orang lain. Agar sifat pemurah menjadi subur dan sebati seterusnya menjadi tabiat kita. Sebagai pendorongnya, kita hendaklah selalu membaca firman-firman Allah dan Hadis-Hadis yang banyak menganjurkan kita berkorban. Di sini dipetik beberapa ayat Al Quran dan Hadis untuk menunjukkan Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan sifat pemurah itu.


Firman Allah SWT:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkan sebahagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan sebahagian dari hartamu, memperolehi pahala yang besar.”

(Al Hadid: 7)


Firman Allah SWT:

“Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperolehi pahala yang banyak.”

(Al Hadid: 11)


Bersabda Rasulullah SAW:

“Orang yang membantu perempuan janda dan orang miskin, samalah seperti berjihad di jalan Allah dan seperti bersolat malam tanpa letih, dan seperti berpuasa siang hari tanpa berbuka.”

(Riwayat Bukhari)


Sebenarnya sifat bakhil bukan sahaja ada pada orang kaya dan berharta bahkan orang miskin pun tidak mustahil dihinggapi penyakit ini. Kerana itu dalam Islam bukan sahaja sedekah itu boleh dilakukan dengan harta benda tetapi boleh juga dilakukan dengan cara yang lain. Cara-cara ini dapat mendidik akhlak mulia bagi semua orang, memberi peluang pada orang miskin mengikis sifat bakhil selain turut mendapat pahala sedekah.


Allah SWT berfirman:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”

(Al Baqarah: 263)


Rasulullah SAW pernah memberikan garis-garis panduan berikut dalam satu riwayat Hadisnya:

“Segala perbuatan yang baik itu sedekah.” (Riwayat Ahmad dan Bukhari dari Jabir)


Sabda Rasulullah SAW:

“Senyuman kepada saudaramu itu adalah sedekah.”(Mashabi Assunah)

Lagi Sabda Baginda:

“Aku khabarkan kepadamu, yang lebih tinggi dari darjat puasa, sembahyang dan sedekah. “Khabarkanlah,” kata Sahabat-Sahabat. “Mendamaikan dua golongan yang bergaduh itu sedekah."

 (Riwayat Ahmad dari Abi Dardak)


Dengan menggunakan panduan-panduan di atas, orang yang menyedari ada padanya sifat bakhil, bolehlah cuba melatih diri untuk mengubatnya. Bila ada saja peluang untuk sedekah dan sebagainya, jangan dibiar begitu sahaja. Paksalah hati untuk mengeluarkan harta atau bertindak memberi kebaikan kepada orang lain dengan bermacam-macam cara itu.

Di waktu rasa bakhil itu terasa kuat bergantung di hati, waktu itulah perlawanan mesti dihebatkan. Keluarkan apa-apa yang disayangi itu dengan segera dan sebanyak-banyaknya. Latihan ini akan jadi lebih berkesan kalau kita sanggup mengeluarkan harta itu semasa kita sendiri kekurangan. Katakanlah kita didatangi oleh peminta derma di waktu kita hanya ada RM5 di poket.

Waktu itu, paksakan hati supaya mengeluarkan separuh yang ada. Tentulah hati rasa berat tetapi keluarkanlah juga. Insya-Allah, kalau ini dibuat dan sanggup kita buat selalu, kita akan jadi seorang yang pemurah dan rasa bakhil akan lenyap terus dari hati kita. Katakanlah kita ada duit RM10,000 tetapi yang kita dermakan hanya RM10 sahaja, tentu tidak akan berkesan apa-apa di hati kita. Di waktu duit sedikit, rasa bakhil sangat kuat maka waktu itu kita akan rasa berat untuk menderma. Ketika itulah kita perlu lawan sifat bakhil itu. Itulah yang dikatakan latihan. Itulah caranya untuk suburkan sifat-sifat pemurah.


Contoh 2: Sifat Takabur.


Sifat takabur (sombong) adalah mazmumah yang wajib sangat dikikis segera. Kalau tidak ia akan menutup semua jalan-jalan kebaikan yang mungkin dibuat oleh seseorang itu. Hampir semua dari kita ada sifat ego atau sombong ini. Untuk membuangnya, amat susah sekali. Imam Ghazali ada berkata bahawa sifat ego itu hampir-hampir mustahil dapat dibuang semuanya dari jiwa manusia. Ada ulama sufi berkata, setelah melakukan latihan melawan hawa nafsu, sifat mazmumah yang paling akhir sekali keluar dari dirinya ialah kibir, sombong atau ego.

Bagaimanapun kita perlu berusaha untuk mengurangkannya. Kita mesti cuba merendah diri dengan memaksa hati untuk merasa dan mengakui kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia biasa. Dalam perselisihan pendapat atau pergaduhan kita dengan orang lain misalnya, cuba rasakan kesilapan itu di pihak kita. Atau paling tidak, akuilah bahawa kita juga turut bersalah. Bukankah ada pepatah mengatakan, “Bertepuk sebelah tangan masakan berbunyi.”

Kalau kita mampu dan berani mengakui kesalahan, akan mampu pulalah kita meminta maaf. Hanya dengan meminta maaf sahaja dosa kita sesama manusia akan terhapus. Oleh itu perlu sangatlah kita melatih diri untuk melawan sifat sombong atau takabur itu.

Latihan yang lebih berkesan lagi ialah kita biasakan diri tinggal bersama dengan orang-orang yang dipandang rendah oleh masyarakat. Orang-orang susah, peminta sedekah, orang cacat dan siapa sahaja yang setaraf, kita dampingi dan gauli. Duduk, bercakap-cakap, minum dan tidur baring bersama mereka hingga kita rasa sama seperti mereka. Waktu itu jiwa ego kita akan berasa kesal, terhina dan terseksa sekali kerana kita merasakan orang lain semua mengejek dan merendah-rendahkan kita. Biarkan. Bisikkan di hati, “Memang awak ini asalnya miskin dan hina. Berasal dari tanah dan akan menjadi tanah. Datang ke dunia dulu tanpa seurat benang dan sesen wang.”

Kalaulah amalan ini dibiasakan, insya-Allah sifat ego itu sedikit demi sedikit akan dapat kita buang dari hati kita. Alah bisa tegal biasa dan yakinlah ular menyusur akar tidak akan hilang bisanya. Dan ingatlah selalu firman Allah: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak suka seseorang yang sombong lagi membangga diri.”

(Luqman: 18)


Allah berfirman lagi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu golongan menghina golongan yang lain kerana boleh jadi mereka yang dihina lebih baik dari mereka yang menghina. Dan jangan pula wanita (menghina) wanita-wanita lain kerana boleh jadi wanita yang dihina lebih baik dari wanita yang menghina.” (Al Hujurat: 11)

Janganlah kita berjalan di muka bumi dengan sombong kerana kekayaan kita. Kekuatan kita tentu tidak dapat membelah bumi dan ketinggian kita tetap tidak dapat menyamai bukit. Imam Syafie pernah berkata, “Tidak akan mulia orang yang mengangkat diri dan tidak akan hina orang yang merendah diri.”  Sifat berkasih sayang sesama manusia adalah sifat terpuji yang dituntut oleh Allah. Ia adalah lawan pada sifat sombong, hasad dengki dan berdendam sesama manusia. Untuk mendapatkannya, kita kena melakukan latihan. Untuk menyayangi orang yang kita sayang itu mudah. Itu bukan latihan namanya. Untuk sayang ayah dan ibu kita, ia tidak perlukan latihan. Memang fitrah semula jadi kita sayang kepada ibu dan ayah. Tetapi yang memerlukan latihan ialah untuk berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada kita atau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita.

Latihan ini sangat susah hendak dibuat kerana ia sangat bertentangan dengan nafsu. Tetapi kita diminta juga untuk mengusahakannya. Sebab itu Rasulullah ada bersabda: “Hendaklah buat baik kepada orang yang buat jahat kepada kamu.”

Biasanya kita hanya boleh berbuat baik dengan orang yang berbuat baik kepada kita sahaja. Kalau ada kawan yang menyinggung kita, kita tidak sanggup berbuat baik kepadanya. Sebab itulah kita kena latih melawan kemahuan jahat itu. Caranya, orang yang kita tidak suka itu, kita ajak makan bersama, ajak berbual, ajak bermesra, ajak berjalan dan lain-lain lagi. Hal ini memanglah boleh membuatkan hati susah sedikit. Tidak mungkin sekali dua kita usahakan, kita terus mendapat hasilnya. Kita kena lakukan latihan ini sepanjang masa. Bila ada peluang melakukannya, teruslah bertindak.

Sanggupkah kita membuat latihan seperti yang telah kita sebutkan tadi? Kalau kita mampu berbuat, kitalah rijal. Kitalah wira kerana sanggup memerangi nafsu. Ertinya sanggup memerangi diri sendiri. Namun ianya bukan mudah. Amat susah. Tersiksa kita dibuatnya. Adakalanya hendak berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat baik kepada kita pun amat susah. Betapa pula hendak berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat jahat kepada kita. Tentu lebih sulit lagi. Namun melalui latihan yang bersungguh-sungguh, insya-Allah ianya akan dipermudahkan oleh Allah. Allah berfirman: “Mereka yang berjuang di jalan Kami nescaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah berserta orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)


Contoh 3: Rasa Takut.


Rasa takut yang menguasai hati akan bertindak dalam berbagai bentuk mengikut suasana yang dihadapi. Contohnya, takut jin, takut harimau, takut ular, takut penjahat, takut miskin, takut orang kata, takut menegakkan kebenaran, takut maksiat dan takutkan Allah.

Di antara rasa-rasa takut yang disenaraikan di atas, ada rasa takut yang dilarang syariat dan ada pula rasa takut yang disuruh syariat. Perlu diketahui bahawa kedua-dua jenis takut ini tidak mungkin mengisi hati manusia dalam satu masa. Kalau rasa takut yang dilarang syariat ada dalam hati, maka rasa takut yang disuruh syariat, tidak akan bertapak di hati. Sebaliknya kalau takut yang disuruh syariat mengisi ruangan hati, maka hilanglah pula rasa takut yang dilarang syariat.

Tujuan melawan hawa nafsu yang dianjurkan syariat adalah untuk membuang segala rasa takut yang dilarang, untuk diganti dengan rasa takut yang disuruh. Kemuncak rasa takut yang dikehendaki syariat ialah rasa takutkan Allah, dengan erti takutkan segala azab yang dijanjikan oleh Allah di dunia apalagi di Akhirat.

Untuk itu kita mesti melawan nafsu kita yang takut pada hantu atau momok misalnya. Setiap kali kita terserempak dengan suasana itu, jangan kita mengalah dengan nafsu. Kuatkan hati dan tanamkan keyakinan bahawa Allah sahaja yang layak kita takuti. Yang lain-lain hanyalah makhluk seperti kita dan tidak ada apa-apa kuasa.

Untuk lebih berkesan, cuba di waktu tengah malam, kita pergi sendirian ke tanah perkuburan atau ke tempat-tempat yang menyeramkan. Masya-Allah! Tentulah takut. Takut itulah yang mesti kita lawan. Lawan dengan iman dan ilmu. Yakin bahawa tidak ada suatu kuasa pun yang boleh memberi kesan melainkan kuasa dan keizinan Allah. Waktu itu, isikan hati dengan zikrullah. Sedar dan yakinlah bahawa Allah sentiasa bersama dan Allah sangat hampir dengan kita. Allah Maha Melihat dan sedang melihat apa yang kita lakukan. Allah Maha Mendengar dan sedang mendengar apa yang kita katakan. Allah Maha Mengetahui segala masalah yang sedang melanda hati kita. Allah penentu, Allah pemutus, Allah penolong, Allah pembantu, Allah penyelamat dan Allah Maha Kasihan Belas pada hamba-hamba-Nya yang mahu mengikut jalan-Nya.  “Mereka yang bermuhajadah (berjihad untuk mencari keredhaan Allah) pada jalan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah berserta orang yang berbuat baik.”

(Al Ankabut: 69)


Lakukan latihan ini dengan tawakal dan doa yang sungguh-sungguh, agar Allah merestui dan memudahkan perjalanan kita. Buangkan rasa takut itu dan gantikan dengan ingatan serta keyakinan hanya pada-Nya.

Bagi orang yang ingin menegakkan kebenaran, tetapi takut dikata orang, takut dihina, takut dibuang kerja, takut ditangkap, takut dijel, takut dibenci dan diketepikan, juga wajib bermuhajadah. Lawanlah rasa takut yang begitu dengan bertindak melakukan amalan tersebut. Misalnya kita takut hendak menghantar anak ke sekolah yang terjamin ada pendidikan Islam, dengan alasan takut tidak dapat kerja, takut gelaplah masa depannya di samping takutkan sikap hidup yang konon ketinggalan zaman.

Cara melawannya ialah hantarkan sahaja anak ke sekolah yang ditakuti itu. Kuatkan hati, pejamkan mata, pekakkan telinga dan lepaskan si anak pergi. Apa sahaja yang dibisikkan nafsu dan syaitan itu kita lawan. Jangan dilayan. Tawakal dan berdoa kepada Allah semoga usaha itu direstui dan semoga Allah bukakan jalan-jalan kemenangan kepada kita di dunia dan Akhirat.

Bagi orang-orang yang tidak melawan nafsu, imannya tidak mungkin dapat bertambah. Malah makin berkurang. Sama ada mereka sedar atau tidak, mereka telah diperhambakan oleh nafsu, menempah kecelakaan dan kutukan Allah di dunia dan Akhirat. Sebenarnya apa yang ditakuti itu, baik jin, mahupun kemiskinan atau penghinaan dari orang lain, pada hakikatnya tidak begitu. Adakah selama ini jin yang mencekik dan membunuh orang? Benarkah orang yang berpendidikan Islam itu miskin dan hina? Benarkah orang yang berpendidikan sekular terjamin hidup dunianya? Cubalah renung dan fikirkan hakikat ini. Kemudian sesuaikan pula dengan firman Allah:  “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu tolong Allah, Allah akan menolong kamu dan Dia akan menetapkan kedudukanmu.”

(Muhammad: 7)


Demi Allah yang tidak akan mungkir janji, yakinlah bahawa setiap usaha yang bertujuan mencari keredhaan-Nya pasti mendapat jaminan dan dimuliakan. Seperkara yang harus kita sedar bahawa Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih itu, sentiasa bersedia untuk menolong sesiapa sahaja dari hamba-hamba-Nya. Kerana telah ditetapkan-Nya bahawa untuk mendidik hati, menambah iman itu perlu kita banyakkan latihan melawan hawa nafsu, maka Allah sendiri selalu memberi peluang pada kita untuk berbuat demikian.

Mehnah atau ujian dari Allah yang selalu menimpa kita seperti miskin, sakit, kematian, kecacatan anggota, kekurangan rupa paras, lemah dan bodoh, kata nista, hasad dengki orang, bencana alam dan lain-lain kesusahan serta penderitaan itu adalah peluang yang Allah berikan untuk kita bermujahadah.

Lagi tinggi taraf iman seseorang, lagi banyaklah mehnah yang Allah datangkan. Demikian maksud sabda Rasulullah SAW: “Bala yang paling berat akan ditimpa pada nabi-nabi, kemudian orang yang paling mulia (selepas nabi), kemudian yang paling mulia selepas itu. Seseorang itu diuji mengikut pegangan agamanya. Jika kuat agamanya beratlah ujiannya. Jika lemah agamanya, maka diuji mengikut agamanya.” (Riwayat At Tirmizi)

Apabila jiwa dihimpit dengan kesusahan-kesusahan, ertinya nafsu tercabar. Nafsu bakhil, sombong, penakut dan lain-lain mazmumah itu menjadi sakit dan terseksa setiap kali ditimpa ujian. Sesiapa sahaja sama ada orang Islam atau bukan Islam, asalkan dia hamba Allah, pasti merasakan hal ini. Bagi orang-orang yang beriman, dia sedar maksud Allah berbuat begitu. Setiap kali ditimpa ujian dia cepat-cepat memberitahu hatinya bahawa kalau ia sabar dan redha dengan ujian itu ia pasti akan mendapat satu dari dua yakni:

1. Penghapusan dosa atau

2. Kasih sayang Allah dan pangkat darjat di Syurga

Apabila diyakini sungguh-sungguh, bagi kita yang bertaraf iman ilmu tentu akan sanggup bermujahadah, memaksa nafsu untuk tenang dan merasa tidak ada apa-apa dengan penderitaan itu. Kalau kita miskin, maka pujuklah hati untuk tidak sedih dan susah hati dengan kemiskinan. Kajilah kebaikan yang diperolehi oleh orang miskin, di dunia mahupun di Akhirat. Misalnya di dunia kita beruntung, tidak payah mengurus, tidak payah bertanggungjawab membantu orang lain. Di Akhirat pula hisab akan dikurangkan dan dipercepatkan masuk ke Syurga.

Kemudian ajaklah hati untuk menerima pemberian Allah itu dengan redha, tanpa kesal dan buruk sangka dengan Allah. Yakinlah bahawa Allah cukup tahu kenapa kita perlu miskin. Kita pula sangat lemah untuk memahami hakikatnya apalagi untuk menangkisnya. Ibarat baju kita yang mana ia tidak pernah tahu kenapa kadang-kadang dibasuh, kadang-kadang digosok, kadang-kadang dijahit, kadang-kadang dipakai dan kadangkadang dibuang. Maka begitulah kita yang jahil tentang rahsia diri dan hati sendiri. Amat munasabahlah untuk kita redha dan sabar dengan ketentuan Allah kepada kita.

Memang di peringkat mujahadah, hati masih sakit dan tidak puas hati. Hanya jagalah supaya kita tidak gelisah, tidak mengungkit-ungkit, tidak mengadu-ngadu serta tidak buruk sangka dengan Allah. Kalau sifat ini dapat dikekalkan, insya-Allah peluang untuk meningkatkan iman adalah besar. Sebaliknya kalau setiap ujian dihadapi dengan keluh-kesah dan gelisah, kebimbangan, tidak sabar dan buruk sangka dengan Allah, bersedialah untuk menanggung kegelisahan jiwa yang perit dan penderitaan di Akhirat yang amat sangat.

Untuk pengetahuan kita, perlu dinyatakan bahawa bagi orang-orang muqarrobin dan nabi-nabi, iman yang tinggi menjadikan mereka lebih senang hidup dalam kesusahan daripada kesenangan. Mereka lebih inginkan kekurangan daripada kecukupan. Sebagai bukti cuba kita lihat doa Rasulullah SAW:

“Wahai Tuhan, hidupkan aku di dalam ke-miskinan, matikan aku dalam kemiskinan dan kumpulkan aku dalam Syurga bersama orang-orang miskin.”

 (Riwayat At Tirmizi)

Sayidina Ali dalam sejarahnya pernah ketika dia hanya ada sebiji kurma untuk berbuka puasa, tiba-tiba datang peminta sedekah meminta makanan, terus diberikannya kurma yang sebiji itu.

Seorang perempuan di zaman Rasulullah SAW, yang punya tiga anak lelaki, sanggup melepaskan kesemua anaknya ke medan perang. Dia senyum ketika anak sulung dan anak keduanya mati syahid di medan perang tetapi menangis bila diberitahu anak bongsunya juga syahid. Bila ditanya kenapa dahulu senyum, sekarang menangis? Beliau menjawab: “Aku sedih kerana tiada lagi anak yang boleh aku korbankan untuk jihad fisabilillah.”

Nafsu kita juga selalu membuatkan kita kelu dan takut untuk bercakap bila berhadapan dengan orang-orang besar atau raja. Sedangkan bercakap benar di hadapan raja yang zalim itu adalah dituntut. Rasulullah SAW bersabda:  “Jihad yang paling utama itu berkata benar kepada penguasa yang zalim.” (Riwayat Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah)

Oleh itu kita mesti berusaha dapatkan sifat berani. Untuk melakukannya, mesti biasakan bercakap kebenaran bila semajlis dengan orang-orang besar. Memanglah di permulaannya kita akan rasa gementar tetapi lama kelamaan rasa takut pada makhluk itu pasti hilang. Yang timbul hanya rasa takut pada Allah sahaja.

Tanpa latihan tidak mungkin kita boleh buat peningkatan. Sedangkan latihan itu memang sulit. Kerana kita dihalang oleh nafsu. Rasa takut dan rendah diri itu sudah lama mendarah mendaging. Jadi dengan jiwa tauhid yang kuat dan ampuh bertunjang di hati saja, kita mampu menolak nafsu-nafsu takut dan hina diri itu. Terutama bila berhadapan dengan orang besar atau orang yang berkuasa.


2. TAHALLI


Tahalli bererti menghias. Yakni perkataan lawan bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah yakni mengosongkan hati dari sifat-sifat terkeji atau mazmumah, segera pula kita menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah. Untuk mudah difahami, cuba gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk yang kotor. Kemudian mangkuk itu dibersihkan. Setelah bersih, jangan dibiarkan ianya kosong. Isikan dia dengan barang-barang yang berharga dan makanan yang lazat. Begitu jugalah dengan hati yang telah dibersihkan daripada sifat-sifat mazmumah tadi. Janganlah dibiarkan ianya kosong. Mestilah diisi dengan sifatsifat mahmudah pula.

Untuk mengisi hati dengan sifat mahmudah, sekali lagi kita perlu mujahadah. Saya tegaskan sekali lagi, bahawa dalam pe-ringkat mujahadah ini, kita masih berasa berat dan susah. Susahnya memerangi hawa nafsu itu kerana hakikatnya kita terpaksa memerangi diri kita sendiri. Bukankah sebelum ini kita katakan nafsu itu sebahagian dari jasad kita, iaitu jasad halus kita (jismul latif). Maknanya belum ada ketenangan dan kelazatan yang sebenar. Bagaimana hendak lazat kalau terpaksa memerangi diri sendiri. Insya-Allah, kalau kita bersungguh-sungguh, lama kelamaan bila ia sebati dengan hati, di waktu itu akan terasalah lazatnya. Kerana setelah kita bersungguh-sungguh, Allah akan membantu sepertimana janji-Nya dalam Al Quran.

Cara-cara mujahadah dalam tahalli samalah seperti kita mujahadah untuk takhalli. Macamlah juga orang yang buat latihan senaman untuk sihatkan badan. Peringkat awal tentulah terasa letih, menjemukan dan sakit-sakit badan. Tetapi akhirnya nanti, dia akan rasa seronok dan terhibur dengan senaman itu. Begitulah juga dalam riadatunnafsi ini. Ertinya, kita bersenam secara rohaniah. Peringkat awal tentulah jemu dan terseksa tetapi akhirnya ia akan mesra dengan tabiat diri kita.

Misalnya, kita mahu menghiasi hati dengan sifat pemurah. Maka kita mujahadah dengan mengeluarkan harta atau barang kita, terutama yang kita suka dan sayang, untuk diberi pada yang memerlukannya. Mulanya tentu terasa berat dan payah. Tetapi jangan menyerah. Kita lawan. Ingatkan hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut-rebut untuk dapatkan pahala sedekah. Sayidatina Aisyah r.ha. di waktu tiada apa yang hendak dimakan, beliau cuba juga mendapatkan walau sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu kuat keinginan mereka pada pahala dan rindunya dengan Syurga. Mereka berlumba-lumba menyahut pertanyaan Allah SWT: “Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperolehi pahala yang banyak.”

 (Al Hadid: 11)

Setiap kali kita rasa sayang pada harta, setiap kali itulah pula kita keluarkannya. Insya-Allah lama-kelamaan kita akan memiliki sifat pemurah. Begitu juga dengan sifat-sifat mahmudah yang lain seperti kasih sayang, berani, tawadhuk dan sebagainya, perlulah kita miliki. Untuk itu kenalah bermujahadah. Jika tidak, iman juga turut hilang. Sebab iman itu terdiri di atas sifat-sifat mahmudah.




3. TAJALLI


Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli , kita akan memperolehi tajalli. Iaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi. Agak sukar untuk dituliskan atau digambarkan dengan bahasa. Apakah yang dikatakan tajalli? Yang sebenarnya ia adalah sejenis perasaan yang bersifat maknawiah (zauk), yang hanya mungkin dimengertikan oleh orang-orang yang mengalami dan merasainya. Sepertilah kemanisan gula, tidak akan dapat digambarkan secara tepat.

Tajalli secara ringkas, secara asas dan secara mudah difahami ialah perasaan rasa bertuhan, rasa dilihat dan diawasi. Hati seakan-akan celik, hidup, nampak dan terasa kebesaran Allah. Ingatan dan rindu penuh tertuju pada Allah. Hati tenggelam dalam kebesaran-Nya atau dalam mencintai-Nya dengan tidak putus-putus lagi. Harapan dan pergantungan hatinya tidak lagi pada yang selain dari Allah. Dirasakan oleh hatinya bahawa seluruh amal bakti yang dibuatnya, adalah kerana dan untuk Allah semata-mata. Atau hadiah daripada Allah kepadanya. Apa sahaja masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan bahagia. Tidak ada pun kesusahan dalam hidupnya. Sebab semua itu dirasa pemberian dari Kekasihnya, Allah SWT. Kalau begitu, bagi orang-orang yang beriman, dunia ini sudah terasa bagaikan Syurga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan kebahagiaan abadi iaitu kebahagiaan hati.

Setakat ini yang mampu saya gambarkan rasa tajalli yang agak rasional yang boleh dihuraikan secara ilmiah. Yang selebihnya, lemahlah tinta untuk menulisnya. Hanya siapa yang dapat, dia akan merasakannya dan tidak dapat berkongsi dengan orang lain pula. Kalau cuba juga diceritakannya, akan menimbulkan fitnah di sisi orang-orang yang jahil. Sementara orang-orang yang hasad dengki pula akan mengambil peluang menuduhnya sesat, kafir atau zindik. Dalam soal ini ada seorang Sahabat Rasulullah SAW pernah berkata: “Kalau aku luahkanlah apa yang terasa dalam hati ini, orang akan menuduh aku kafir dan lantas membunuh aku.”


B. ISTIQAMAH


Sikap istiqamah (tetap) beramal adalah benteng iman yang keempat. Seseorang yang memiliki sikap ini sebenarnya telah mendirikan benteng untuk mengawal imannya daripada gangguan musuh. Sebaliknya, tanpa sikap ini seseorang telah membuka satu pintu kepada musuh-musuhnya untuk masuk ke hati dan merosakkan imannya. Bagaimana ini boleh terjadi?

Telah dikatakan berulang kali bahawa tujuan ibadah serta membersihkan hati itu adalah untuk membuahkan iman dan akhlak. Kalau tidak begitu, ibadah itu tidaklah bererti apa-apa. Amalan yang membuahkan iman dan akhlak itu adalah benteng yang menjaga iman. Maka melaksanakannya secara tetap dan berterusan akan menetapkan iman dan akhlak itu pada hati kita. Sebaliknya, kalau amalan yang berbuah itu dilakukan sekalisekala dan tidak berterusan, maka tentulah iman itu juga tidak terjamin keselamatannya. Di waktu amalan itu kita lakukan, iman akan tinggi tetapi ketika amalan itu ditinggalkan, iman akan menurun atau merosot.

Oleh itu supaya iman sentiasa ada dan stabil, sikap istiqamah beramal adalah penting. Ia akan bertindak sebagai benteng yang dapat memelihara dan menyelamatkan iman daripada serangan musuh terutama nafsu dan syaitan. Sabda Rasulullah SAW: “Amalan yang paling disukai Allah ialah amalan yang berterusan (berkekalan) walaupun sedikit.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Yang penting dalam beramal ialah mengekalkan amalan itu. Kalau tidak mampu berbuat banyak amalan, cukuplah sedikit, asal dikekalkan (istiqamah), daripada banyak amalan tetapi tidak kekal. Contohnya, membaca Al Quran, cukuplah lima baris sahaja tetapi dibuat tiap-tiap hari daripada lima juz sekali baca tetapi dibuat sebulan sekali. Sembahyang sunat pula, cukuplah dua rakaat tiap-tiap malam daripada seratus rakaat tetapi sebulan sekali. Begitu juga dengan sedekah. Biar hanya 10 sen setiap hari daripada RM10 tetapi setahun sekali.

Kebaikan dari sikap istiqamah ini ialah:

1. Amalan yang dibuat secara istiqamah akan berkesan. Umpama setitik air kalau terus-menerus memukul batu, lama-kelamaan akan melekukkan batu. Sebaliknya kalau banjir sekalipun yang datang tetapi hanya sekali datangnya, tentu tidak berbekas pada batu.

2. Tujuan beramal dan membersihkan hati agar iman dan akhlak subur. Setiap kali kita beramal kita akan merasai nikmat buahnya itu. Jadi kalau sesuatu amalan itu kita kekalkan, maknanya kita akan sentiasa dapat menikmati nikmatnya. Nikmat inilah yang akan memelihara iman kita.

3. Musuh kita terutama nafsu dan syaitan tidak pernah rehat daripada memusuhi kita. Dengan istiqamah, barulah seim-bang pertahanan kita terhadap musuh-musuh itu. Makna-nya kita juga tidak pernah berehat mempertahankan iman dan akhlak kita.

Imam Al Ghazali pernah mengingatkan, “Banyakkanlah olehmu akan amalan yang terasa berbekas di hati.”

Lain orang lain hatinya, maka lain pulalah minat dan kegemaran beramal. Ada orang seronok dengan zikir ‘alhamdulillah’. Maknanya bila sebut ‘alhamdulillah’ terasa di hati lazatnya zikir itu. Maka untuk orang ini banyakkanlah zikir itu. Orang lain pula rasa lazat dengan puasa. Maka banyakkanlah puasa sunat. Begitu juga ada orang yang terasa lazat dengan berfikir. Bila berfikir terasa bertambah iman. Maka banyakkanlah berfikir.

Kebaikan dari sikap ini ialah apabila sesuatu amalan itu dilakukan dengan suka dan rela, ia akan lebih berkesan dan tidak menjemukan. Orang yang beramal kerana terpaksa dan ikut-ikutan atau secara jahil dan tidak faham falsafah ibadah itu, tidak akan memperolehi apa-apa kesan baik. Sebaliknya akan mudah terasa jemu. Orang yang jemu beramal akan putus hati dengan Allah. Bila putus hubungan hati dengan Allah, bermakna orang itu sedang berada dalam kemurkaan Allah. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:  “Hai hamba-Ku, mengapa kamu jemu beramal sedangkan Aku tidak pernah jemu memberi pahala padamu?”

Allah SWT sentiasa bersedia untuk melimpahkan rahmat dan pahala pada kita tetapi mengapa kita tidak mempedulikan-Nya? Untuk mengelak dari sikap itu, kita mesti berhati-hati dalam beramal. Jangan beramal kerana ikut-ikut orang dan kerana terpaksa. Tilik dahulu hati dan minat kita, kemudian pilihlah amalan yang betul-betul sesuai. Barulah dilakukan amalan itu. Kalau tidak, lama-kelamaan penyakit jemu beramal akan menyerang kita.

Bila jemu, banyaklah perkara yang boleh berlaku. Ada yang langsung meninggalkan amalan itu. Ada pula yang langsung benci dengan Islam. Ada yang kadang-kadang buat, kadang-kadang tinggalkan. Sebab itu, banyak berlaku orang lari meninggalkan jemaah Islam, pergi meneruskan hidup yang sesuai dengan kehendak nafsu dan syaitan.

Dalam beramal elok dipraktikkan teori: “Biar sedikit tetapi banyak jenis daripada banyak tetapi satu jenis.”

Mencari keuntungan Akhirat samalah seperti mencari keuntungan di dunia. Di dunia macam-macam yang kita buat seperti berniaga, tanam padi, tanam sayur, tangkap ikan, ternak kambing dan lembu. Kalau satu daripada usaha-usaha itu mengalami kerugian, kita masih boleh bergantung pada usaha-usaha yang lain. Tetapi kalau kerja kita satu jenis sahaja, katakanlah berniaga sahaja, tiba-tiba kita rugi, akan menderitalah kita waktu itu.

Begitulah juga halnya dalam mencari keuntungan hidup di Akhirat. Elok kita beramal banyak jenis selain yang difardhukan seperti sembahyang, puasa, sedekah, zikir, baca Quran, tolongmenolong, berkhidmat, berdakwah dan lain-lain yang dianjurkan oleh syariat. Katalah ada di antara amalan itu tidak diterima oleh Allah, waktu itu masih ada lagi amalan yang lain boleh kita harapkan. Tetapi kalau satu jenis sahaja amalan, tiba-tiba yang satu itu tidak diterima, apalagi yang boleh diharapkan? Oleh itu cuba jangan tumpukan amalan kita pada satu jenis sahaja. Usahakan supaya banyak jenis. Biarlah sedikit asalkan istiqamah.



C. BERTAFAKUR


Seterusnya kita lalui jalan berfikir (tafakur). Banyak ayat Al Quran yang menganjurkan kita berfikir. Firman Allah SWT: “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?

 ( Rom:8 )


Firman Allah: “Apakah kamu tidak memikirkannya?”

(Al An’am: 50)


Firman Allah: “Pada diri kamu mengapa kamu tidak memerhatikannya.”

(Az Zariyat: 21)


Berfikir yang dimaksudkan di sini ialah merenung dengan hati dan akal tentang ciptaan Tuhan hingga datang rasa insaf dan terasa kelemahan diri. Misalnya memikirkan rahsia ciptaan alam sehingga terasa kebesaran Allah dan timbul rasa gerun pada kekuasaan-Nya. Seterusnya memikirkan rahsia perjalanan hati yang bergelombang antara berbagai alunan rasa mazmumah dan mahmudah. Yakni tanpa dikontrol oleh kita, dapat kita rasakan satu pentadbiran Yang Maha Agung sedang mengawasi diri kita. Kesannya kita akan rasa sungguh takut untuk menderhakai Allah. Merenung dan berfikir tentang mati, yang tidak pernah ada seorang pun dapat mengelak darinya sehingga timbul rasa ingin beramal secara serius, sekaligus mahu membuat persiapan ke arah itu. Berfikir terus tentang itu semua, insya-Allah hati kita akan dimasuki sifat-sifat mahmudah.

Jadi untuk memiliki sifat-sifat mahmudah mestilah seseorang itu membuat latihan-latihan berfikir seperti berfikir tentang kesalahan diri, tentang dosa dan tentang mazmumah dalam diri. Bawa tafakur dan merenung barulah terasa betapa buruknya mazmumah. Ketika itu barulah mahu menyerah dan menghina diri kepada Allah. Kesannya akan mendorong kita untuk tunduk dan patuh kepadaAllah dan perintah-Nya. Mendorong kita menjadi tawadhuk, rendah diri, berlemah-lembut sesama manusia dan memiliki lain-lain sifat mahmudah. Jadi berfikir juga salah satu cara boleh membaiki diri seseorang.


D. BERGAUL


Tarbiah dan didikan juga boleh didapati melalui pergaulan. Imam Al Ghazali r.hm. ada berkata, di antara cara-cara yang praktikal untuk membaiki diri, hendaklah kita bergaul dengan orang ramai. Melalui pergaulan dapat dikesan sifat-sifat buruk kita. Manusia umum biasanya lebih memperkatakan tentang keburukan kita daripada kebaikan kita yang kadang-kadang kita sendiri tidak sedar dan tidak tahu itu satu kejahatan. Jadi bila kita dikata orang, barulah kita tahu akan kejahatan diri. Maka di waktu itu mudahlah untuk membaikinya.




E. PIMPINAN MURSYID


Cara membaiki diri seterusnya ialah melalui pimpinan. Pemimpin atau guru mursyid itu mampu memimpin kerana kelebihannya yakni dia lebih tahu tentang kecacatan dan kelemahan muridnya lebih daripada muridnya mengenali dirinya sendiri. Mengetahui tentang sir dan batin muridnya. Tahu pula membaca hal-hal halus yang ada pada hati seseorang. Pemimpin yang soleh atau guru mursyid itu juga nampak dan boleh menunjuk kelemahan diri kita. Boleh mendidik dan menunjuk ajar. Biasanya cara ini lebih berkesan dan lebih cepat untuk kita membuat perubahan diri. Asalkan kita dapat memberi kepatuhan kepadanya tanpa berbelah lagi. Biasanya dia sentiasa buat teguran kepada pengikut-pengikutnya atau murid-muridnya sama ada secara langsung dengan lisan mahupun dengan perbuatan secara tidak langsung.

Jadi pimpinan pemimpin yang mursyid itu lebih berkesan daripada latihan-latihan lain dalam membaiki diri yakni membaiki roh kita itu. Walau bagaimanapun pelbagai macam latihan lagi boleh dibuat. Terpulanglah kepada kesedaran dan kemampuan kita. Begitulah ilmu tentang roh atau ilmu rohani. Ia adalah ilmu untuk dapat mengesan sifat-sifat roh sama ada yang mahmudah untuk disuburkan mahupun yang mazmumah untuk ditumpaskan supaya roh kita ini bersih dan murni. Membersihkan roh atau hati itu mestilah melalui dua peringkat. Peringkat awal dengan mengetahui ilmu dan peringkat kedua melalui latihan.

Setelah menempuh kedua-dua jalan ini, dengan hidayah dan taufik daripada Allah, hati atau roh itu akan bersih. Sedangkan hati ini merupakan raja dalam kerajaan diri. Dialah yang mengarah, dialah yang menahan, dialah yang menyuruh dan sebagainya.

Bila mana roh dan hati ini menjadi raja dalam diri, kalau raja sudah bersih, ertinya raja itu sudah baik, maka segala anggota lahir atau jawarih seperti tangan, kaki, mulut, mata, telinga dan lain-lainnya, akan mematuhinya. Walaupun terasa berat, bila hati sebagai raja dalam negara diri sudah memerintah, maka seluruh rakyat dalam dirinya akan mematuhinya.

Ditegaskan sekali lagi, anggota-anggota lahir itu adalah ibarat rakyat dalam negara diri dan hati adalah rajanya. Bila raja baik, seluruh rakyat akan baik. Maknanya seluruh anggota lahir kita ini akan baik. Tetapi bila raja itu jahat, maka dikerahkan pula anggota lahir kita ini untuk buat kerja-kerja jahat. Bila raja dalam diri baik, baiklah seluruh jawarih, maka jawarihkita ini akan tunduk kepada perintah Allah. Itulah anggota manusia yang bersyariat. Jadi anggota lahir ini boleh bersyariat kerana hati itu bersyariat. Anggota lahir kita ini baik, kerana hati itu baik. Anggota lahir kita ini boleh rukuk dan sujud, kerana hati itu sudah rukuk dan sujud. Anggota lahir ini walau bagaimana susah pun, dia sanggup juga tunduk kepada Allah kerana hati sudah tunduk. Inilah yang dimaksudkan oleh sabda Rasulullah SAW:  “Dalam diri anak Adam itu ada seketul daging, kalau baik daging itu maka baiklah manusia, kalau ia rosak maka rosaklah manusia. Ketahuilah itulah hati atau roh.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nukman bin Basyir)

Begitu besarnya peranan hati atau roh ini. Ia adalah raja dalam kerajaan diri. Sebab itu Allah memerintahkan hati atau roh mesti dibersihkan. Bersihkan mazmumahnya digantikan dengan mahmudah melalui takhalli, tahalli dan tajalli, sepertimana yang telah dibahaskan. Jadi baru kita tahu anggota lahir kita ini akan bersyariat bila hati itu bersyariat. Anggota lahir itu baik bilamana hati itu baik. Bila anggota lahir itu tidak patuh kepada Allah atau tidak bersyariat, itu menunjukkan hati tidak baik. Jahatnya berpunca dari hati yang tidak baik. Ertinya raja dalam kerajaan diri ini sudah khianat dan sudah zalim hingga dia menzalimi semua rakyatnya yang ada dalam dirinya, iaitu anggota lahir atau jawarih kita itu.

Jadi kalau hati yang menjadi raja dalam kerajaan diri sudah baik, maka dia akan kerahkan anggota lahirnya sebagai rakyat dalam diri membuat baik. Maka Allah berkata dalam Al Quran: “Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orang yang membersihkan hatinya (roh atau nafsu). Dan kecewalah orang-orang yang mengotorinya.”

(As Syams: 9-10)


Jadi Allah sebut orang yang hatinya baik, dia akan berjaya atau menang dalam hidup. Berjaya di dunia dan berjaya di Akhirat. Mendapat kemenangan di dunia dan mendapat kemenangan di Akhirat. Sebaliknya, kalaulah hati seseorang itu sudah rosak, hatinya kotor hingga mazmumahnya subur, mahmudahnya kurus, maka hati yang kotor itulah yang akan mengecewakan manusia di dunia lagi. Hidupnya lintang-pukang, haru-biru, tidak ada kasih sayang, tidak ada kemesraan, selalu bergaduh, bergeseran dan krisis hingga membawa peperangan. Maka dengan kerosakan itu tidak ada lagi keamanan di dunia ini. Ini semua adalah hasil atau kesan daripada roh atau jiwa atau hati yang tidak dibersihkan. Akibatnya gagallah hidupnya walaupun dia seorang kaya, seorang raja, seorang pembesar atau seorang alim. Orang yang gagal di dunia, akan gagal di Akhirat. Orang yang kecewa di dunia, akan kecewa di Akhirat. Di Akhirat terjun ke Neraka.

Sebab itu dalam ajaran Islam, membersihkan roh itu amat penting sekali bahkan diwajibkan yakni dengan cara mempelajari ilmu rohaniah atau ilmu mengetahui tentang sifat-sifat roh atau hati. Roh itulah hakikat diri manusia. Ia adalah penentu baik atau jahatnya seseorang itu. Oleh itu bila roh manusia baik, ertinya manusia itu kembali kepada hakikatnya iaitu bersifat seperti manusia. Kalau rohnya diabaikan hingga penuh dengan sifat mazmumah, maka dia tidak kembali kepada hakikatnya. Walaupun rupanya manusia tetapi sifatnya mungkin haiwan atau mungkin syaitan.

Begitulah pentingnya roh atau hati dalam Islam. Begitu penting mempelajari ilmu rohani supaya kita tahu tentang sifat-sifat roh itu. Yang mahmudahnya hendak kita suburkan manakala yang mazmumahnya hendak kita tumpaskan dan dicabutbuangkan. Perbincangan atau perbahasan ini hanya ada di dalam ilmu tasawuf...

(Petikan Dari Kalam Saufi Al Zaharin Batu Pahat)