.

.

Jumaat, 24 Mei 2019

AQIDAH PARA SAHABAT DAN TABI'IN

AQIDAH PARA SAHABAT DAN TABI'IN


1. Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:
ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻵﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋَﻠﻴْﻪ ﻛَﺎﻥَ
“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).

Beliau juga berkata:
ﺇﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻌَﺮْﺵَ ﺇْﻇﻬَﺎﺭًﺍ ﻟِﻘُﺪْﺭَﺗﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘّﺨِﺬْﻩُ ﻣَﻜَﺎﻧًﺎ ﻟِﺬَﺍﺗِﻪِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).

2. Ibn `Abbas radiyallahu`anhuma telah berkata:
“ ﺗَﻔَﻜَّﺮُﻭْﺍ ﻓِﻲْ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻔَﻜَّﺮُﻭْﺍ ﻓِﻲْ ﺫَﺍﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ”.
“Hendaklah kalian berfikir tentang makhluk ciptaan Allah, namun jangan kalian fikirkan tentang zat Allah”. Diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya al-Asma’ wa al-Sifat

3. Seorang tabi’in yang agung, al-Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:
ﺃﻧْﺖَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟّﺬِﻱ ﻻَ ﻳَﺤْﻮﻳْﻚَ ﻣَﻜَﺎﻥٌ
“Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 4, hlmn.380).

Beliau juga berkata:
ﺃﻧْﺖَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟّﺬِﻱ ﻻَ ﺗُﺤَﺪُّ ﻓَﺘَﻜُﻮْﻥَ ﻣَﺤْﺪُﻭْﺩًﺍ
“Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, juz. 4, hlmn 380).

4. al-Al-Imam Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal ‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain (w 148 H) berkata:
ﻣَﻦْ ﺯَﻋَﻢَ ﺃﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓِﻲ ﺷَﻰﺀٍ ﺃﻭْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰﺀٍ ﺃﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻰﺀٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺃﺷْﺮَﻙَ، ﺇﺫْ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻰﺀٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻣَﺤْﻤُﻮْﻻً ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺷَﻰﺀٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻣَﺤْﺼُﻮْﺭًﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺷَﻰﺀٍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺪَﺛًﺎ ‏( ﺃﻯْ ﻣَﺨْﻠُﻮْﻗًﺎ )
“Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baru -makhluk-” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah, hlmn 6).
Image result for aqidah ahli sunnah
AQIDAH IMAM EMPAT MAZHAB
1 . al-Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama salaf terkemuka, perintis madzhab Hanafi, berkata:
ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟﻰ ﻳُﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓ، ﻭَﻳَﺮَﺍﻩُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮْﻥَ ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨّﺔِ ﺑِﺄﻋْﻴُﻦِ ﺭُﺅُﻭﺳِﻬِﻢْ ﺑﻼَ ﺗَﺸْﺒِﻴْﻪٍ ﻭَﻻَ ﻛَﻤِّﻴَّﺔٍ ﻭَﻻَ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﻣَﺴَﺎﻓَﺔ .
“Allah ta’ala di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)” ( al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah dengan Syarahnya karya Mulla ‘Ali al-Qari, h. 136-137).

Juga berkata:
ﻗُﻠْﺖُ : ﺃﺭَﺃﻳْﺖَ ﻟَﻮْ ﻗِﻴْﻞَ ﺃﻳْﻦَ ﺍﻟﻠﻪُ؟ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻪُ : ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺃﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺃﻳْﻦ ﻭَﻻَ ﺧَﻠْﻖٌ ﻭَﻻَ ﺷَﻰﺀٌ، ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞّ ﺷَﻰﺀٍ .
“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

Juga berkata:
ﻭَﻧُﻘِﺮّ ﺑِﺄﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﺇﻟﻴْﻪِ ﻭَﺍﺳْﺘِﻘْﺮَﺍﺭٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻫُﻮَ ﺣَﺎﻓِﻆُ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﻣِﻦْ ﻏَﺒْﺮِ ﺍﺣْﺘِﻴَﺎﺝٍ، ﻓَﻠَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺘَﺎﺟًﺎ ﻟَﻤَﺎ ﻗَﺪَﺭَ ﻋَﻠَﻰ ﺇﻳْﺠَﺎﺩِ ﺍﻟﻌَﺎﻟَﻢِ ﻭَﺗَﺪْﺑِﻴْﺮِﻩِ ﻛَﺎﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗِﻴَﻦْ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺘَﺎﺟًﺎ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﺠُﻠُﻮْﺱِ ﻭَﺍﻟﻘَﺮَﺍﺭِ ﻓَﻘَﺒْﻞَ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺃﻳْﻦَ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪ، ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻋُﻠُﻮّﺍ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ .
“Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak memerlukan kepada ‘‘arsy tersebut da tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘‘arsy dan lainnya tanpa memerlukan kepada itu semua. Karena jika Allah memerlukan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika memerlukan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, hlmn 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70.).

2. Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, dalam salah satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, menuliskan:
( ﻓﺼﻞ ‏) ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮْﺍ ﺃﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥَ ﻟَﻪُ، ﻭَﺍﻟﺪّﻟِﻴْﻞُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻫُﻮَ ﺃﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻛَﺎﻥَ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥَ ﻓَﺨَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻤَﻜَﺎﻥَ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﻔَﺔِ ﺍﻷﺯَﻟِﻴّﺔِ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻜَﺎﻥَ ﻻَ ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺘَّﻐَﻴُّﺮُ ﻓِﻲ ﺫَﺍﺗِﻪِِ ﻭَﻻَ ﺍﻟﺘَّﺒَﺪُّﻝُ ﻓِﻲ ﺻِﻔَﺎﺗِﻪِ، ﻭَﻷﻥّ ﻣَﻦْ ﻟَﻪُ ﻣَﻜَﺎﻥٌ ﻓَﻠَﻪُ ﺗَﺤْﺖٌ، ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻪُ ﺗَﺤْﺖٌ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻣُﺘَﻨَﺎﻫِﻲ ﺍﻟﺬّﺍﺕِ ﻣَﺤْﺪُﻭْﺩًﺍ، ﻭَﺍﻟْﻤَﺤْﺪُﻭْﺩُ ﻣَﺨْﻠُﻮْﻕٌ، ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻦْ ﺫﻟِﻚَ ﻋُﻠُﻮّﺍ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ، ﻭﻟِﻬﺬَﺍ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﺳْﺘَﺤَﺎﻝَ ﻋَﻠﻴْﻪ ﺍﻟﺰّﻭْﺟَﺔُ ﻭَﺍﻟﻮَﻟﺪُ، ﻷﻥّ ﺫﻟِﻚ ﻻَ ﻳَﺘِﻢّ ﺇﻻّ ﺑﺎﻟْﻤُﺒَﺎﺷَﺮَﺓِ ﻭﺍﻻﺗّﺼَﺎﻝِ ﻭﺍﻻﻧْﻔِﺼَﺎﻝ .
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami, istri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, hlmn13).
Pada bagian lain dalam kitab yang sama dalam pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, al-Imam as-Syafi’i menuliskan sebagai berikut:
ﻓَﺈﻥْ ﻗِﻴْﻞ : ﺃﻟﻴْﺲَ ﻗَﺪْ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ‏( ﺍﻟﺮّﺣْﻤﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ‏) ، ﻳُﻘَﺎﻝ : ﺇﻥّ ﻫﺬِﻩِ ﺍﻵﻳَﺔ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺎﺑِﻬَﺎﺕِ، ﻭَﺍﻟّﺬِﻱْ ﻧَﺨْﺘَﺎﺭُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏِ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﻋَﻦْ ﺃﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ ﻟِﻤَﻦْ ﻻَ ﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺍﻟﺘّﺒَﺤُّﺮ ﻓِﻲ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ ﺃﻥْ ﻳُﻤِﺮَّ ﺑِﻬَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَﺕْ ﻭَﻻَ ﻳَﺒْﺤَﺚُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﺘَﻜَﻠّﻢُ ﻓﻴْﻬَﺎ ﻷﻧّﻪُ ﻻَ ﻳَﺄﻣَﻦُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻮُﻗُﻮْﻉِ ﻓِﻲ ﻭَﺭَﻃَﺔِ ﺍﻟﺘّﺸْﺒِﻴْﻪِ ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺭَﺍﺳِﺨًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻳَﺠِﺐُ ﺃﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻘِﺪَ ﻓِﻲ ﺻِﻔَﺎﺕِ ﺍﻟﺒَﺎﺭِﻱ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻣَﺎﺫَﻛَﺮْﻧَﺎﻩُ، ﻭَﺃﻧّﻪُ ﻻَ ﻳَﺤْﻮﻳْﻪِ ﻣَﻜَﺎﻥٌ ﻭَﻻَ ﻳَﺠْﺮِﻱ ﻋَﻠﻴْﻪِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ، ﻣُﻨَﺰَّﻩٌ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺤُﺪُﻭْﺩِ ﻭَﺍﻟﻨّﻬَﺎﻳَﺎﺕِ، ﻣُﺴْﺘَﻐْﻦٍ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻜَﺎﻥِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺕِ، ﻭَﻳَﺘَﺨَﻠَّﺺُ ﻣِﻦ َﺍﻟﻤَﻬَﺎﻟِﻚِ ﻭَﺍﻟﺸُّﺒُﻬَﺎﺕِ .
“Jika dikatakan bukankah Allah telah berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki kepakaran dalam bidang ini agar supaya mengimaninya dan tidak secara menghalusil membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak memiliki kepakaran dalam hal ini ia tidak akan membawa kupasan yang sempurna, ia akan jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk dan segala penghabisan. Dia tidak memerlukan kepada segala tempat dan arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, hlmn 13).

3 . Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah. Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih.
“ ﻭَﺃَﻧْﻜَﺮَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮْﻝُ ﺑِﺎﻟْـﺠِﺴْﻢِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺄَﺳْـﻤَﺎﺀَ ﻣَﺄْﺧُﻮْﺫَﺓٌ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔِ ﻭَﺍﻟﻠُّﻐَﺔِ . ﻭَﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﻠُّﻐَﺔُ ﻭَﺿَﻌُﻮْﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻻِﺳْﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺫِﻱْ ﻃَﻮْﻝٍ ﻭَﻋَﺮْﺽٍ ﻭَﺳَـﻤْﻚٍ ﻭَﺗَﺮْﻛِﻴْﺐٍ ﻭَﺻُﻮْﺭَﺓٍ ﻭَﺗَﺄْﻟِﻴْﻒٍ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺧَﺎﺭِﺝٌ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻠِّﻪِ ﻓَﻠَﻢْ ﻳـَﺠُﺰْ ﺃَﻥْ ﻳُﺴَﻤَّﻰ ﺟِﺴْﻤًﺎ ﻟِـﺨُﺮُﻭْﺟِﻪِ ﻋَﻦْ ﻣَﻌْﻨَﻰ ﺍﻟْـﺠِﺴْﻤِﻴَّﺔِ ﻭَﻟَـﻢْ ﻳَـﺠِﺊْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔِ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺒَﻄَﻞَ ”.
” Beliau [Imam Ahmad bin Hanbal] mengingkari mereka yang menyifatkan Tuhan dengan kejisiman. Beliau berkata: Sesungguhnya, nama-nama itu diambil daripada syariat dan bahasa. Adapun ahli bahasa [Arab] meletakkan nama tersebut -jisim- dengan maksud, sesuatu yang ada ukuran ketinggian, ukuran lebar, tersusun dengan beberapa anggota, mempunyai bentuk dan sebagainya, sedangkan Allah di luar daripada yang demikian [tidak mempunyai cantuman, anggota dan sebagainya] Maka, tidak boleh dinamai Allah sebagai Jisim karena Allah di luar [terkeluar dari] makna kejisiman [tidak beranggota, tiada ukuran, tiada bentuk dan sebagainya] dan syariat tidak pernah menyebut tentang perkara tersebut [penyamaan Dzat Allah dengan jisim] maka batallah [fahaman Tajsim atau Allah berjisim]”. Manaqib al-Imam Ahmad oleh al-Imam al-Baihaqi dan rujuk I`tiqad al-Imam al-Mubajjal Ibn Hanbal, hlmn. 294-295.

Juga berkata :
“ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮْﻝُ - ﺃَﻱْ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺃَﺣْـﻤَﺪُ - ﻓِﻲْ ﻣَﻌْﻨَﻰ ﺍﻻِﺳْﺘِﻮَﺍﺀِ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻌَﻠُﻮُّ ﻭَﺍﻻِﺭْﺗِﻔَﺎﻉُ ﻭَﻟَـﻢْ ﻳَﺰَﻝِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﺎﻟِﻴًﺎ ﺭَﻓِﻴْﻌًﺎ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﻋَﺮْﺷَﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﻓَﻮْﻕَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ … ﻋَﻼ ﻭَﻟَﺎ ﻳَـﺠُﻮْﺯُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯْ ﺑِـﻤُﻤَﺎﺳَﺔٍ ﻭَﻻ ﺑِـﻤُﻠَﺎﻗَﺎﺓٍ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻋُﻠُﻮًّﺍ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻟَـﻢْ ﻳَﻠْﺤِﻘْﻪُ ﺗَﻐْﻴِﻴْﺮٌ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒْﺪِﻳْﻞٌ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻠْﺤَﻘُﻪُ ﺍﻟْـﺤُﺪُﻭْﺩُ ﻗَﺒْﻞَ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ”.
“Telah berkata al-Imam Ahmad pada menjelaskan tentang makna istawa yaitu ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Allah ta`ala sentiasa Maha Tinggi dan Maha Tinggi [derajat-Nya] sebelum Dia menciptakan `Arasy. Dia di atas setiap sesuatu dan Maha Tinggi [kedudukan-Nya] daripada setiap sesuatu… Tidak boleh seseorang berkata bahwa, istawa itu zat Allah ta`ala menyentuh `Arasy atau menempatinya. Maha Suci Allah ta`ala daripadanya [bertempat] setinggi-tinggi-Nya. Dia tidak akan berubah-ubah, tidak dibatasi dengan batasan sebelum penciptaan `Arasy dan setelah kejadian [terciptanya] `Arasy tersebut”. (Abu al-Fadhl al-Tamimi , Risalah al-Tamimi,, juz. 2, hlmn.265/290.)

4 . Al-Imam Malik perintis madzhab maliki pernah ditanya tentang makna “Istawa” seperti yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya al-Asma’ Wa al–Sifat:
“ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪ ِﺍﻟﻠﻪِ : ﺍﻟﺮَّﺣْﻤـَــــٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯْ ﻛَﻴْﻒَ ﺍﺳْﺘِﻮَﺍﺅُﻩُ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺄَﻃْﺮَﻕَ ﻣَﺎﻟِﻚٌ ﻭَﺃَﺧَﺬَﺗْﻪُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻀَﺎﺀَ ﺛُـﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﻟﺮَّﺣْـﻤَـٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯْ ﻛَﻤَﺎ ﻭَﺻَﻒَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ، ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻛَﻴْﻒَ ﻭَﻛَﻴْﻒَ ﻋَﻨْﻪَ ﻣَﺮْﻓُﻮْﻉٌ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺳُﻮْﺀٌ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺃَﺧَﺮَﺟُﻮْﻩُ . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺄَﺧْﺮُﺝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ”.
“Wahai Abu Abdillah: “Al-Rahman beristawa ke atas Arasy”, bagaimana Dia istawa? Maka al-Imam Malik menundukkan kepalanya dan peluh membasahinya, kemudian beliau mengangkat mukanya lalu berkata: “Al-Rahman beristawa ke atas Arasy seperti Dia sifatkan diri-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana [istiwa`-Nya] dan kaif [bagaimana istiwa`-Nya] diangkat daripada-Nya [tidak ada bagi-Nya kaif]. Sesungguhnya engkau ahli bid`ah, usirlah dia. Maka lelaki itupun diusir pergi” . (Al-Imam al-Bayhaqi, al-Asma’ was-Sifat; Bab ma ja’ fi al-`Arsy wa al-Kursi, Dar Al-Jail Beirut, hlmn. 568 ).
Dan riwayat yang lain sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam al-Baihaqi imam malik berkata :
“ ﺍﻻِﺳْﺘِﻮَﺍﺀُ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَـﺠْﻬُﻮْﻝٍ ﻭَﺍﻟْﻜَﻴْﻒُ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﻌْﻘُﻮْﻝٍ، ﻭَﺍﻟْﺈِﻳْـﻤَﺎﻥُ ﺑِﻪِ ﻭَﺍﺟِﺐٌ ﻭَﺍﻟﺴُّﺆَﺍﻝُ ﻋَﻨْﻪُ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ”.
“Al-Istiwa’ tidak dijahilkan [yaitu diketahui ia daripada al-Quran] dan Kaif [bagaimana istiwa-Nya] tidak diakalkan [yaitu tidak boleh diterima akal] dan beriman dengannya [istiwa` Allah ta`ala ke atas Arasy] wajib dan bertanya tentangnya [bagaimana istiwa-Nya] adalah bid`ah”.

dari petikan kiriman MUJAHID ASWAJA




Selasa, 21 Mei 2019

Ahli-Ahli Sufi Yang Hebat Dalam Melawan Golongan Kuffar


Ahli-Ahli Sufi Yang Hebat Dalam Melawan Golongan Kuffar


(1) Abdullah Bin Al-Mubarak (181 H): Beliau Terlibat Dalam Peperangan Menentang Tentera Rom [Tarikh Baghdad Oleh Al-Khatib Al-Baghdadi 10/157]


(2) Ibrahim Bin Adham (162 H): Beliau Terlibat Dalam Peperangan Melawan Tentera Byzantine Malah Meninggal Dunia Ketika Menjaga Di Perbatasan Perang [Al-Bidayah Wa An-Nihayah 10/44]


(3) Hatim Al-Ashom: Beliau Seorang Tokoh Sufi Yang Terlibat Dalam Peperangan Dan Meninggal Dunia Di Tempat Perbatasan Perang Di Atas Bukit Sarwad. [Siyar A’laam An-Nubala’ 11/484]


(4) Abu Al-Qashim Al-Qahthi: Beliau Terlibat Dalam Peperangan Melawan Byzantine Bersama-Sama Dengan Sebahagian Ulama’ Sufi Yang Lain [Ghayyah Al-Tholab Fi Tarikh Halab 10/4591]


(5) Imam Raslan (Arsalan) Ad-Dimaysqi (M: 541 H): Beliau Terlibat Dalam Peperangan Di Syam Khususnya Dalam Melawan Tentera Salib. Antara Karya Beliau Adalah Risalah At-Tauhid.


(6) Imam Abu Al-Hasan As-Syazili (M: 656h): Beliau Serta Murid-Muridnya Terlibat Dalam Ma’rakah Al-Manshurah (Perang Di Manshurah) Pada Tahun 647 H Dalam Melawan Tentera Salib. [Abu Al-Hasan As-Syazili As-Shufi Al-Mujahid Al-‘Arif Billah Oleh Dr. Abdul Halim Mahmud: 60]


(7) Imam Abu Al-‘Abbas Al-Mursi (Salah Seorang Murid Abu Al-Hasan As-Syazili). Beliau Juga Turut Terlibat Dalam Peperangan Melawan Musuh Islam Sama Seperti Gurunya. Beliau Adalah Guru Kepada Imam Ibn ‘Atho’illah As-Sakandari [Wizarah As-Thaqofah Al-Mishriyyah 7/371]


(8) Sultan Muhammad Al-Fateh As-Sufi Al-Hanafi Al-Maturidi. Banyak Riwayat Yang Menceritakan Sudut Kesufian Beliau. Beliau Terlibat Dalam Membuka Kota Konstantinopel Daripada Jajahan Tentera Salib.


(9) Imam Al-Izz Bin Abdil Salam (660 H): Beliau Seorang Ulama’ Sufi Yang Mashyur Hidup Sezaman Dengan Imam Abu Al-Abbas Al-Mursi Dan Sebagainya. Beliau Terlibat Dalam Peperangan ‘Ain Jalut Pada Tahun 658 H. Sudut Kesufian Imam Izzuddin Jelas Kerana Beliau Mengambil Khirqah Sufi Daripada Imam Syihabuddin As-Sharwardi (632 H). [Husn Al-Muhadarah 1/315]


(10) Sultan Nuruddin Mahmud Zinki (569 H). Beliau Seorang Pemimpin Islam Yang Terlibat Dalam Melawan Tentera Salib Dalam Usaha Untuk Membebaskan Palestin Daripada Cengkaman Mereka. Beliau Sendiri Seorang Yang Sangat Rapat Dengan Golongan Sufi Dan Menghormati Golongan Sufi. [Al-Kawakib Ad-Durriyyah 1/38] Beliau Memuji Golongan Sufi Dengan Berkata: “Mereka (Golongan Sufi) Adalah Tentera Allah Dan Dengan Doa Merekalah Kita Berjaya Menewaskan Para Musuh” [Al-Bidayah Wa An-Nihayah 12/281]


(11) Sultan Solahuddin Al-Ayubi: Beliau Terkenal Sebagai Seorang Pahlawan Dan Pemimpin Islam Yang Membebaskan Al-Aqsa Daripada Cengkaman Tentera Salib. Adapun Dari Sudut Kesufian Beliau, Maka Memang Tidak Dapat Dinafikan. Malah Beliau Bermesyuarat Dengan Para Ulama’ Sufi Ketika Berperang Dengan Tentera-Tentera Salib.


(12) Imam Ali Bin Maimun (917 H): Beliau Seorang Ulama’ Sufi Yang Terlibat Dalam Banyak Peperangan Melawan Musuh Islam [Syazrat Az-Zahab 8/81]


(13) Al-Amir Abdul Qadir Al-Jaza’iri As-Sufi: Beliau Terlibat Dalam Peperangan Di Algeria Dalam Melawan Penjajahan. Sudut Kesufian Beliau Sememangnya Tidak Dapat Dinafikan Bagi Mereka Yang Membaca Riwayat Hidupnya.


(14) Al-Mujahid Muhammad Ahmad Mahdi (M:1885 M): Beliau Mempelajari Ilmu Sufi Sejak Keci Lagi Lalu Menjadi Seorang Murobbi Sufi. Beliau Terlibat Dalam Melawan Tentera Inggeris Ketika Penjajahan Di Sudan. [Hilyah Al-Basyr 2/801]


(15) Al-Mujahid Umar Al-Mukhtar (M: 1931 M): Beliau Seorang Murobbi Sufi Bertariqat As-Sanusiyyyah. Beliau Terlibat Dalam Peperangan Melawan Tentera Penjajah Khususnya Di Libya Lalu Menemui Syahid.


(16) As-Sayyid Muhammad Abdullah Hassan (M: 1920 H): Beliau Seorang Murobbi Sufi Tarikat As-Salihiyyah As-Syaziliyyah. Beliau Terlibat Dalam Peperangan Menentang Penjajah Yang Cuba Menjajah Somalia. [Silsilah Alam Al-Ma’rifah Al-Kuwaitiyya 223 Oleh Dr. Abdullah Abdul Razak]


(17) Ahmad Arabi As-Sufi (1911m): Beliau Terlibat Dalam Kebangkitan Umat Islam Dalam Melawan Penjajah. [Kitab Al-Islam Wa Harakaat At-Taharrur Al-‘Arabiyyah M/S 42 Oleh Dr. Syauqi Abu Khalil]


(18) Sheikh Farhan As-Sa’di : Beliau Terlibat Dalam Peperangan Di Palestin Menentang Penjajah Inggeris. Beliau Dari Keluarga As-Sa’diyyah Al-Jibawiyyah, Suatu Keluarga Sufi Di Palestin [Majalah Syu’un Falastin No 124 M/S 22]


(19) Sheikh Izzuddin Al-Qassam (M: 1935 M): Beliau Seorang Sufi Yang Terlibat Dalam Jihad Di Palestin. Beliau Seorang Sheikh Bagi Tarikat Syaziliyyah. Ayahnya Juga Seorang Sufi Yang Sangat Beriltizam Dengan Tarbiah Sufi. [Kitab Al-I’lam As-Syarqiyyah Oleh Zaki Muhammad Mujahid 2/139]


(20) Sheikh Muhammad Badruddin Al-Hasani: Beliau Berketurunan Imam Al-Jazuli. Beliau Merupakan Seorang Murobbi Sufi Tarikat Qadiriyyah. Beliau Terlibat Dengan Kebangkitan Umat Islam Melawan Musuh-Musuh Islam Khususnya Di Syria. [Tarikh Ulama’ Dimasyq 1/472]


(21) Sheikh Muhammad Sa’id Al-Burhani (M: 1967 M): Beliau Merupakan Seorang Murobbi Tarikat Syaziliyyah Di Damsyiq. Beliau Terlibat Dalam Peperangan Melawan Musuh-Musuh Islam Dan Penjajah Di Syria [Al-‘Alaam 6/145]


(22) Sheikh Abu Al-Yasar ‘Abidin An-Naqsyabandi: Beliau Terlibat Dalam Perperangan Melawan Musuh Islam Di Syria [Tarikh Ulama’ Dimasyq 2/969]


(23) Sheikh Sufi Ali Ad-Daqar (M: 1943 M): Beliau Seorang Ulama’ Sufi Yang Terlibat Dalam Pegerakan Kebangkitan Masyarakat Arab [Al-Islam Wa Harakat At-Taharrur Al-‘Arabiyyah M/S147]


(24) Sheikh Izzuddin Al-Jaza’iri (Cucu Sheikh Abdul Qadir Al-Jaza’iri): Beliau Seorang Ulama’ Sufi Yang Terlibat Dalam Jihad Melawan Musuh Islam [Tarikh At-Thaurah As-Suriyyah M/S 619]


(25) Sheikh Muhammad Al-Hamid An-Naqsyabandi (M: 1969 M): Beliau Juga Seorang Ulama’ Sufi Yang Terlibat Dalam Jihad Melawan Penjajah Dan Musuh Islam [Silsilah A’laam Al-Muslimin Dimasyq M/S 37]


(26) Muhammad Abdul Karim Al-Khattobi: Beliau Juga Seorang Ulama’ Sufi Yang Terlibat Melawan Penjajah Perancis [Al-Maushu’ah Al-‘Askariyyah]


(27) Sheikh Manshur Asyramah An-Naqsyabandi: Seorang Tokoh Sufi Yang Terlibat Dalam Peperangan Di Chechenya Dengan Melawan Tentera Rusia Pada Tahun 1971 M.


(28) Sheikh Khos Muhammad Afendi An-Naqsyabandi: Beliau Juga Terlibat Dalam Peperangan Di Chechenya.


(29) Sheikh Fadhl Umar Mujaddidi An-Naqsyabandi: Beliau Terlibat Dalam Jihad Melawan British Pada Tahun 1921 M.


(30) Sheikh Arsyad Thawil Al-Bantani (M: 1935 M): Beliau Seorang Ulama’ Yang Terlibat Dalam Jihad Di Banten [Rujuk Tulisan Al-Marhum Ustaz Wan Muhammad Shaghir Abdullah]


(31) Sheikh Abdul Shamad Al-Falambani: Beliau Seorang Ulama’ Sufi Yang Turut Terlibat Dengan Jihad Melawan Musuh-Musuh Islam [Rujuk Tulisan Al-Marhum Ustaz Wan Muhammad Shaghir Abdullah]




(32) Sheikh Raja Haji: Beliau Antara Tokoh Sufi Di Tanah Melayu Yang Terlibat Melawan Penjajah Di Nusantara




kiriman dari Hj Shamsun Serqam Melaka

Sabtu, 4 Mei 2019

GURINDAM DUA BELAS - RAJA ALI HAJI

GURINDAM DUA BELAS
WASIAT : Raja Ali Haji
Image result for raja ali haji gurindam 12

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.


Ini Gurindam pasal yang kedua:


Barang siapa mengenal yang tersebut,

Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.


Ini Gurindam pasal yang ketiga:


Apabila terpelihara mata,

Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.


Ini Gurindam pasal yang keempat:


Hati itu kerajaan di daiam tubuh,

Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.
Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.


Ini Gurindam pasal yang kelima:


Jika hendak mengenai orang berbangsa,

Lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.


Ini Gurindam pasal yang keenam:


Cahari olehmu akan sahabat,

Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,


Ini Gurindam pasal yang ketujuh:


Apabila banyak berkata-kata,

Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.


Ini Gurindam pasal yang kedelapan:


Barang siapa khianat akan dirinya,

Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.


Ini Gurindam pasal yang kesembilan:


Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,

Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.


Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:


Dengan bapa jangan durhaka,

Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kapil.


Ini Gurindam pasal yang kesebelas:


Hendaklah berjasa,

Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.


Ini Gurindam pasal yang kedua belas:


Raja mufakat dengan menteri,

Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat

Kiriman Al Zarin Batu Pahat