.

.

Selasa, 11 Julai 2017

KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG KASUT



KISAH IMAM AL GHAZALI BERGURU PADA TUKANG KASUT
Belajar dari kisah Hujjatul Islam, Imam Ghazali, yang dinukilkan dari kitab Maroqi Al-‘Ubudiyyah karangan Imam Nawawi Al-Jawi, syarah dari kitab Bidayah Al-Hidayah karangan Imam Ghazali, tentang perjalanan beliau mendapatkan ilmu ladunni dengan cara tabarrukan (mencari barakah ilmu dari guru).
Imam Ghazali adalah ulama besar yang mengarang berbagai kitab, baik ilmu Fiqh dan Tasawuf. Salah satu karangan beliau yang paling terkenal adalah Tahafut Al-Falasifah dan Ihya’ Ulumuddin. Pada awalnya, Imam Ghazali hanyalah ulama biasa, yaitu sebagai imam Masjid. Ia sangat rajin menjadi imam shalat berjama’ah lima waktu besama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Tapi anehnya, saudaranya yang bernama Imam Ahmad, tidak mau ikut berjama’ah bersama Imam Ghazali. Bahkan ia bersikap acuh kepadanya. Hal inilah yang membuat Imam Ghazali merasa jengkel kepada saudaranya.
Imam Ghazali, sebenarnya telah mengadukan sikap saudaranya itu kepada ibunya, agar sang ibu mau menasehatinya. Ibu memberi nasehat kepada Ahmad, agar dia mau berjama’ah di masjid bersama masyarakat sekitar.
Pada saat Imam Ghazali menjadi Imam, tiba-tiba saudaranya melihat bahwa baju yang dipakai Imam Ghazali penuh dengan lumuran darah. Karena itulah, beliau akhirnya memisahkan diri (Mufaraqah) tidak mau shalat berjama’ah bersama-sama yang lain.
Mengetahui sikap saudaranya itu, Imam Ghazali menjadi bingung. Dia tidak mengerti mengapa saudaranya itu betul-betul tidak mau shalat berjama’ah dengannya. Dengan hati yang penuh pertanyaan, akhirnya Imam Ghazali memberikan diri untuk bertanya. “Mengapa engkau bersikap acuh ketika aku menjadi imam shalat?” Saudaranya menjawab, “Bagaimana saya harus berjama’ah dengan seorang yang bajunya berlumuran darah?”
Mendengar jawaban tersebut, Imam Ghazali sangat terkejut. Ia menyadari bahwa waktu itu dirinya kurang bisa khusuk dalam shalatnya karena memikirkan masalah yang diajukan seseorang kepadanya. Yakni masalah darah wanita (haidh). Karena masalah tersebut belum ditemukan jawabanya, maka pikiran Imam Ghazali menjadi kalut hingga mengakibatkan shalatnya tidak khusuk.
Seketika itu pula Imam Ghazali baru menyadari bahwa saudaranya ternyata bukan orang sembarangan. Maka dengan rasa hormat, dia pun bertanya, “Wahai saudaraku, darimana engkau memperoleh ilmu yang seperti itu?”. Jawab Ahmad “Ketahuilah wahai saudaraku, aku belajar dari seorang guru yang pekerjaanya sehari-hari menjadi tukang sol sepatu.”
“Kalau begitu, tolong kiranya engkau sudi menunjukkan padaku guru tersebut,” pinta Imam Ghazali.
Imam Ahmad pun akhirnya berkenan mengantarkan Imam Ghazali menemui orang yang dimaksud. Setelah dipertemukan, Imam Ghazali pun menyatakan keinginan untuk menimba ilmu dari orang tersebut. Tapi waktu itu, tukang sol sepatu malah balik berkata kepada Imam Ghazali,
“Pikirkanlah terlebih dahulu. Jangan-jangan engkau nanti tidak akan mampu melaksanakan perintahku!”
“Insya Allah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa pun yang tuan guru kehendaki,” jawab Imam Ghazali.
“Sebelum aku mengajarkan ilmu kepadamu, tolong kau bersihkan lebih dahulu lantai tempat kerjaku ini agar enak dipandang mata,” demikian kata sang guru.
Imam Ghazali pun segera mencari sapu untuk melaksanakan perintah sang guru. Tapi sang guru menyuruh menyapu lantai itu dengan tangannya. Maka Imam Ghazali Menyapu dengan tangannya. Kemudian ketika melanjutkan menyapu, beliau melihat banyak kotoran yang berserakan di lantai tersebut.
Sang Guru berkata, “Sapulah kotoran itu.” Ketika Imam Ghazali hendak melepaskan bajunya, sang guru berkata, “Sapulah lantai itu dengan baju yang engkau pakai.”
Ketika Imam Ghazali dengan senang hati hendak menyapunya, sang guru kemudian melarangnya dan menyuruh pulang ke rumahnya. “Nah, sekarang pulanglah engkau!” begitu perintahnya.
Imam Ghazali tak menyangka sama sekali. Dia menyangka hari itu akan mendapatkan bimbingan untuk mempelajari sesuatu, namun apa yang diperkirakan ini meleset. Karena itu, ia pun segera berpikir, mungkin saja hari itu sang guru sudah lelah karena bekerja seharian, sehingga beliau tak mengajarkan ilmu kepadanya akan diberikan pada kesempatan lain. Imam Ghazali pun pulang sesuai perintah guru tanpa memperoleh sedikitpun pelajaran darinya.
Akan tetapi, sampai dirumah, Imam Ghazali merasakan bahwa dalam hatinya ada sebuah pergolakan, sehingga menimbulkan perubahan besar da
lam diri beliau.

Ulama dahulu, walaupun bertaraf mujtahid, masih mencari guru untuk membimbing rohani mereka sebagaimana Imam Al-Ghazali dengan syeikhnya, Ali Al-Farmadzi yang seorang tukang kasut. Imam Shafei pula dengan Asy-Syaiban, seorang pengembala kambing. Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Mu’im dengan Ma’ruf Al-Kurkhi. 

Kita??? Pernah terfikir tuan-puan..guru rohani (guru kepada penyucian jiwa atau nafsu) mereka seorang Tukang Kasut dan Pengembala Kambing? Nampak hina pekerjaan mereka tetapi rohani mereka.. siapa yang tahu? Siapa tahu dia KEKASIH ALLAH (auliya'/wali)? Fikir-fikirkanlah...

Oleh kerana rohani mereka terhijab dengan ilmu yang dipelajari ilmu secara akal, maka mereka akan berkata kitab-kitab dan ilmu-ilmu Imam Al-Ghazali terlalu dalam dan boleh memeningkan masyarakat sehingga terlupa bahawa "Diriku tiada berilmu/aku belum sampai tahap ilmu Imam AlGhazali". Ketahuilah bahawa berkata Al-Imam Ghazali selepas berguru dengan syeikh Ali Al-Farmadi : “Aku menyeberangi lautan fekah, aku sampai ke seberang, aku menyelami lautan tauhid, aku sampai ke seberang, aku menyeberangi lautan falsafah, aku sampai ke seberangnya, (tetapi) apabila aku menyeberangi lautan tasawuf, aku tenggelam dalam lautannya tanpa penghujung..” 


Tiada ulasan:

Catat Ulasan