.

.

Ahad, 2 April 2017

Matikan Diri Kamu Sebelum Kamu Mati ?


MUTU QABLA AN TAMUTU

Saudara saudaraku sekarang kita coba untuk mengkaji apa maksudnya dari hadist Nabi Muhammad yang diatas itu, arti dari hadist itu adalah : Mati kamu sebelum kamu dimatikan.

Masalah mati itu ada dua (2) bagiannya yaitu :
1. Mati shuri, yaitu mati yang dapat dilihat mata kepala.
2. Mati ma’nawi, yaitu mati yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala, Ialah matinya pandangan hati kepada yang dinamakan diri khususnya atau alam umumnya.

Bersabda Allah dalam hadist qudusnya yang berbunyi :
” Innal abda iza ah babtuhu qataltuhu, pa iza qataltuhu ana diyatuhu. ”.
artinya : Sesungguhnya hamba Aku, bila Aku sayang padanya Aku bunuh dia, Akulah yang menggantikannya.

Mati maknawi yaitu mematikan diri sebelum mati yg sebenarnya dan mati suri.. sdh maklum adanya.
Jadi pertanyaan diatas yg kita bahas adalah mati maknawi yaitu mematikan diri sebelum mati.
Disini berlakulah keadaan pada fan afal fana asma fana sifat fana zat.

Maksud dari sabda ALLAH SWT diatas tersebut : Dengan Rahmat ALLAH kepada hambaNya maka didatangkannya Ilmu Laduni kedalam hati hambaNya yang membuat pandangan hamba mati kepada memandang rupa diri dan kepada rupa alam sekelilingnya, dan akan menghidupkan pandangan hati hamba itu kepada pandangan ALLAH semata mata. Itulah maksud dari hadist tersebut diatas.

Makanya orang atau hamba yang telah mendapatkan Rahmat ALLAH dengan ilmu laduni, Mereka akan membiasakan mematikan pandangan hati kepada rupa sesuatu, dan menghidupkan pandangan hati kepada hakikat rupa yaitu ZAT ALLAH semata-mata,


Iaitu melepas segala keAkuan diri bahwa tiada yg ada hanya Allah intinya laa maujud bihaqqi ilallah.
Yg demikian disebut;
La qadirun,tiada kuasa Kan sesuatu
La muridun,tiada berkehendak akan sesuatu.
La alimun,tiada ilmu akan sesuatu.
La hayyun ,tiada yg hidup akan sesuatu.
La samiun,tiada yg mendengar akan sesuatu.
La basirun,tiada yg melihat akan sesuatu. Dan
La muttakalimun,tiada yg berkata-kata akan sesuatu kecuali Allah.


Karena waktu hidup jiwa (hati) itu telah sangat dipengaruhi oleh rasa yang merasai Keesaan yang mutlak itulah yang melekat pada jiwa (hati) diwaktu hidup, maka itu pulalah yang akan datang diwaktu menghembuskan nafas yang terakhir, seperti yang pernah diucapkan oleh hadist Nabi Muhammad Saw yang berbunyi :
“ MATAN NASU BIMA YA’ISY BIHI “
artinya : Kematian manusia itu adalah menurut kehidupannya.

Sedangkan mati yang diharapkan ALLAH adalah mati dalam Islam, yakni dalam Tawakal, yaitu dalam terputus pegangan hati (jiwa) kepada selain ALLAH SWT, bersabda ALLAH dalam al-Quran surat ali imram ayat 102 bunyi ;
“ WALA TAMUTUNNA, ILLA WAANTUM MUSLIMUN.”
Artinya : Kamu tidak dibenarkan mati, kalau tidak dalam Islam.

Yakni terputus pandangan bathin hati (jiwa) kepada rupa segalanya, dan tetap bathin hati (jiwa) memandang Hakikat rupa yaitu ZAT yang Laisa Kamislihi Syai-un, yaitu AHDIAT ZATNYA TUHAN yang dinamakan dengan HU, Zat yang belum bersifat, melainkan Zat semata-mata (Zat Muthlak).

Yang dikatakan Tawakal ialah,
” at tawakkal, huwal I’timadu alallahi, wa qath-un nazri anil asbab ma’a tahaiyu-iha.”
Artinya : Tawakal itu ialah tetap pegangan bathin hati (jiwa) kepada Zat semata-mata, dan terputus pandangan dari sebab musabab, dalam menghadapi sebab musabab itu, Hanya mata kepala yang memandang sebab musabab, akan tetapi bathin hati (jiwa) tetap memandang Hakikat sebab musabab, dan Hakikat sebab musabab ialah Iradat yang tidak bercerai dengan Zatnya.


Kalau kita tinjau dengan seksama dari uraian diatas memang kita ini pada Hakikatnya mati, yakni tidak ada apa-apanya, jikalau tidak karena ALLAH ZAT YANG SUCI,
Contohnya apapun yang akan kita lakukan baik dalam beribadah , Sholat. Puasa, Zakat, Haji, apapunlah bentuknya pasti dalam melafaskan niat tetap kita akhiri dengan lafas Lilahi Taala (karena ALLAH), Berarti kalau bukan karena ZAT ALLAH kita tidak akan bisa melakukannya, Dengan tajali Zat Tuhan (Zat ALLAH) dengan Sifatnya yang tujuh, dan dengan kenyataan Sifatnya yang tujuh itu baru dapat kita berbuat apa-apa baik melakukan ibadah atau pekerjaan sehari-hari.Karena itulah kita pada pengakuan pertama dalam keagamaan, mesti dikaku terlebih dahulu ketiadaan kita, sesudah itu baru beramal dan melakukan kegiatan sehari-hari, pengakuan itu ialah : ASYADU AN LA ILAHA ILLA LLAH, wahdahu la syarikalahu.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan